MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
SEASON 2 (INTROGASI)


Rindu itu berat. Memperhatikanmu dari jauh itu menyakitkan dan melihatmu tanpa bicara itu sungguh memilukan.




Key sudah tinggal dengan keluarganya di apartment papinya, dia sedang beristirahat karena sudah dua hari di sibukkan dengan acara lamaran abangnya.



Tok,,tok,,tok,,



Key yang mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya itu dengan malas melangkahkan kakinya dan membuka pintu kamarnya untuk melihat siapa yang datang.



“Abang?” ucap Key yang melihat Kenan ada di hadapannya.



“Kamu ga lupa kan kalau hari ini Bernard akan mengajakmu ke pesta ulang tahun rekan bisnisnya?” tanya Kenan mengingatkan.



“Yaampun aku lupa bang! Untung aja abang ngingetin, Key mau siap-siap ah.” Ucap Key yang mau langsung menutup pintu kamarnya namun di tahan oleh Kenan.



“Ngapain sih buru-buru, santai aja kali Key toh acaranya masih nanti malam, sekarang masih siang tau! Keburu luntur make up kamu kalau siap-siap sekarang.” Ucap Kenan yang langsung masuk ke dalam kamar Key tanpa aba-aba.



“Ih terus abang ngapain masuk kamar Key? Key mau tidur dulu aja kalau masih lama jadi abang keluar sana.” Protes Key.



“Abang mau ngomong sama kamu, duduklah!” perintah Kenan.



Dengan malas Key duduk di dekat abangnya untuk mendengarkan apa yang akan di bicarakan oleh abangnya itu.



“Abang mau ngomong apa?” tanya Key.



“Kamu yakin kan dengan pilihanmu untuk menikah dengan Bernard?” tanya Kenan memastikan.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1611466355027.jpg)



“Kenapa abang nanyanya kayak gitu?”



“Karena kalian berdua sama-sama berarti untuk abang, kamu adalah adik perempuan abang dan dia adalah sahabat terbaik abang. Abang tau kamu masih muda dan masih memiliki cita-cita yang mau kamu capai, tapi abang tidak mau kalau hal itu nantinya akan membuat kalian jadi bertengkar, abang tidak ingin orang-orang yang berharga buat abang bertengkar dan membuat keadaan di antara kita menjadi canggung.” Jelas Kenan.



Key tau kalau abangnya takut sikapnya yang masih labil akan membuat keretakan di dalam hubungannya dan Bernard.



“Abang tenang saja, Key yakin dengan pilihan Key dan Key juga yakin kalau om beruang akan mengerti dan mendukung penuh cita-cita Key.” Tegas Key yang berusaha untuk meyakinkan abangnya.



“Baguslah kalau begitu, abang sangat senang kalau sebentar lagi kamu ada yang menjaga karena abang dan Ken tidak mungkin menjaga kamu terus, karena suatu saat nanti kami akan memiliki keluarga kami masing-masing.” Ucap Kenan sambil tersenyum kepada adiknya.



Setelah selesai berbicara dengan Key, Kenan keluar dari kamar Kenan dan tidak lama kemudian papi Kalandra dan mami Khansa datang ke dalam kamarnya.



“Papi sama mami janjian sama abang mau ke kamar Key ya?” tanya Key yang melihat kedatangan kedua orang tuanya.



“Abang habis dari sini?” tanya mami Khansa.



“Hm, iya mi tadi abang habis dari sini dan nyeramahin Key.” Ucap Key.



“Sayang, kamu siap menikah?” tanya papi Kalandra.



“Kan bener semua orang pasti nanyanya kayak begitu. Key sudah siap menikah papi, hanya saja memang Key sedikit takut karena kami menikah di saat Key masih muda, Key takut karena kami juga belum mengenal lama, bagaimana kalau ternyata kami tidak cocok?” tanya Key.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1611466355024.jpg)



“Hustt,, ga boleh gitu sayang ga baik. Dulu papi dan mami juga tidak saling mengenal satu sama lain dan umur mami juga sama denganmu saat itu, jadi kamu tidak perlu khawatir sayang.” jelas mami Khansa.



“Benarkah mi? apakah dulu papi dan mami pernah bertengkar?” tanya Key.



“Tentu pernah sayang, orang pacaran aja ada bertengkarnya apa lagi orang yang sudah menikah yang selalu bertemu hampir 24 jam. Bertengkar itu hal yang wajar kok di dalam hubungan jadi kamu tidak usah takut tentang hal itu sayang.” ucap mami Khansa.



“Lalu bagaimana dengan Ken? Abang dan aku akan menikah dan memiliki hubungan masing-masing, lalu Ken bagaimana? Kenapa dia tidak di nikahkan juga pi mi?” tanya Key.




“Kenapa? Kenapa Key boleh tapi Ken tidak?” tanya Key.



“Karena Ken harus bekerja dan membuat perusahaannya stabil agar mendapatkan uang untuk menafkahi dirinya dan istrinya nanti Key, kamu perempuan sayang, papi dan mami mengijinkan kamu menikah karena calon suamimu sudah cukup mapan dan mampu menafkahi kamu, jika kami mengijinkan Ken menikah di saat dirinya hanya bisa mengandalkan uang papi dan mami dia tidak akan bisa menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab.” Jelas papi.



Key yang mendengar penjelasan papinya hanya mengangguk, dia sekarang mengerti kenapa papi lebih keras kepada abangnya dan Ken karena mereka laki-laki yang akan menjadi kepala rumah tangga dan membimbing istri dan anaknya suatu saat nanti.



“Yaudah, kamu tidur ya sayang istirahat nanti sore mami bangunin untuk bersiap ke pesta bersama nak Bernard.” Ucap mami Khansa.



Key hanya mengangguk mengiyakan ucapan maminya sambil tersenyum melihat kepergian orang tuanya dari kamarnya.



Papi Kalandra dan mami Khansa membiarkan Key untuk tidur karena mereka tau kalau kemarin Key sangat sibuk dengan acara lamaran Belinda dan Kenan.



“Loh Audrey kamu ga tidur siang?” tanya mami Khansa.



“Audrey ga bisa tidur tante, jam di sini dan di paris berbeda 8 jam tante di paris jam segini Audrey baru bangun hehe.” Ucap Audrey.



“Lalu kemarin bagaimana kamu bisa tertidur?” tanya mami Khansa.



“Audrey ga bisa tidur, Cuma meremin mata tapi ga tidur-tidur akhirnya Audrey minum obat tidur tante.” Jelas Audrey yang membuat mami Khansa terkejut.



“Yaampu Audrey, kenapa ga bilang tante? Tante kan bisa bikini mau minuman jahe hangat tiap malam.” Ucap mami Khansa.



“Audrey ga mau ngerepotin tante hehe.”



“Ga ada ngerepotin sayang, tante malah seneng loh.. kamu ini udah tante anggap anak tante sendiri. Tante dan papa kamu itu teman saat sekolah sayang kami cukup dekat loh.” ucap mami Khansa.



“Benarkah tante? Dunia begitu sempit ya, pertemuan Audrey dan kak Ken waktu di Paris juga benar-benar suatu kebetulan yang tidak terduga, dan sekarang malah orang tua kami ternyata berteman.” Ucap Audrey.



“Iya sayang, dunia itu benar-benar sempit. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi kepada kita.”



“Oh iya tante habis dari mana?” tanya Audrey.



“Dari kamar Key, om dan tante tadi introgasi dia hehe.”



“Pasti nanya yakin buat menikah apa ngga ya te..” tebak Audrey.



“Betul sekali.”



“Terus om Kalandra kemana? kok ga sama tante?” tanya Audrey sambil menoleh ke belakang tubuh mami Khansa.



“Iya sayang, om Kalandra tadi langsung turun ke bawah mungkin nyamper Ken sama Rey mereka di bawah kan?” tanya mami Khansa.



“Iya tante, mereka ada di bawah. Oh iya tante nanti sore boleh ga kalau Audrey pergi sama Elsa?” tanya Audrey meminta ijin kepada mami Khansa.



“Tentu saja boleh sayang, tapi kalian harus di temani oleh Ken dan Rey ya.”



“Tapi tante, mereka berdua pasti akan protes karena harus menemani kami berbelanja.” Ucap Audrey.



“Mereka tidak harus mengikuti kalian kok, yang penting mereka ada di mall yang sama dengan kalian, jadi kalau ada apa-apa mereka bisa cepat menghampiri kalian.”



Dengan berat hati akhirnya Audrey mengiyakan ucapan mami Khansa, karena Audrey juga tau kalau perintah mami Khansa tidak bisa di bantah.



“Sudahlah, kamu tunggu di kamar ya soalnya tante mau membuatkanmu jahe hangat agar membuat kamu lebih relax.” Ucap mami Khansa yang langsung pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Audrey.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1611466355019.jpg)



Audrey yang melihat keperdulian mami Khansa hanya tersenyum bahagia karena ia tidak menyangka ada seseorang yang seperti mami Khansa, wanita yang sangat baik dan tulus dalam memperlakukan seseorang.