
Wanita ingin dicintai tanpa sebuah alasan, bukan karena mereka cantik atau baik atau pintar, namun karena mereka adalah mereka.
Bernard kembali ke tempat duduknya dan melihat Key yang masih menunggunya di sana dengan raut wajah yang mulai bosan.
“Maaf ya lama, tadi ada sesuatu.” Ucap Bernard.
“Ah iya kak tidak masalah.” Ucap Key dengan senyum yang di paksakan.
“Apa? Kak? Apa aku salah dengar? Kamu memanggilku kak?” tanya Bernard.
“Hm, bukankah seharusnya begitu, kamu dan abangku seumuran jadi aku harus memanggilmu kak.”
“Tapi aku merasa aneh dengan panggilan itu Key, bisakah kamu kembali memanggilku dengan sebutan om beruang seperti dulu?” ucap Bernard.
Key tidak menjawab pertanyaan Bernard, dia hanya sibuk membaca menu makanan yang ada di hadapannya.
Bernard melihat mata Key yang merah dan sedikit sembab seperti habis menangis, dia bertanya kepada Key karena penasaran.
“Key, apakah ada sesuatu?” tanya Bernard.
“Sesuatu? Tidak ada kok kak.”
“Tapi mata kamu merah seperti habis menangis.”
Key terkejut karena Bernard memperhatikan matanya, dia juga tidak mungkin mengaku jika dirinya habis menangis.
“Ah, tadi aku ga sengaja kelilipan kak jadi gatel sampe nangis gitu.” Ucap Key mencoba untuk mencari alasan.
“Kalau begitu kita segera ke rumah sakit saja!" ucap Bernard.
"Tidak usah kak, aku baik-baik saja." ucap Key.
“Ayo makan kak, aku sudah lapar dan aku ingin cepat pulang.” lanjutnya.
Mendengar ucapan Key, akhirnya Bernard segera memanggil pelayan untuk memesan makanan untuk mereka.
Tidak lama kemudian, pelayan membawakan makanan dan minuman yang di pesan oleh Bernard dan Key. Mereka berdua menyantap makanan mereka dengan tenang tanpa berbicara apapun.
“Aku sudah selesai kak, ayo.” Ucap Key kepada Bernard yang sudah selesai makan lebih dulu darinya.
“Mau langsung pulang? Ga mau jalan-jalan dulu aja?” tanya Bernard.
“Aku capek kak.” Ucap Key dingin.
Akhirnya Bernard menuruti keinginan Key untuk segera pulang ke rumah, Bernard tau kalau ada sesuatu yang membuat sikap Key berubah.
Di dalam mobil, Key yang biasanya selalu berbicara tiba-tiba berubah menjadi pendiam, dan sesampainya di rumah pun Key segera pergi ke kamarnya tanpa mengucapkan apapun kepada Bernard.
“*Kamu sebenarnya kenapa Key? Aku sudah mulai membuka hati untukmu tapi kenapa kamu berubah*.” Batin Bernard yang melihat punggung Key berjalan menjauhinya.
Key masuk ke dalam kamarnya, di dalam kamarnya Lana yang melihat sahabatnya masuk ke dalam kamar segera menghampirinya.
“Key kamu dari mana aja? aku khawatir loh pas bangun ga ngeliat kamu.” ucap Lana khawatir.
“Aku habis dari luar nyari makan sm kak Bernard.” Ucap Key yang mengambil baju tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
“*Kak Bernard? Ga salah denger kan aku? Kesambet apa dia manggil om Bernard kak*?” batin Lana yang merasa ada yang aneh dengan tingkah Key.
Lana yang melihat sahabatnya sudah keluar dari kamar mandi segera menghampirinya dan bertanya tentang perubahan sikap Key.
“Key, kamu tau kan kita sudah berteman lama sekali? aku tau betul kalau kamu sedang ada masalah sekarang, benar kan? Apa kamu tidak ingin menceritakannya kepada sahabatmu ini?” tanya Lana.
Key menatap ke arah Lana, dia merasa mungkin dirinya memang membutuhkan teman untuk bercerita tentang perasaannya kepada Bernard.
Key duduk di pinggir tempat tidur dan di ikuti oleh Lana yang duduk di sebelah Key.
“Lan, aku bingung.” Ucap Key.
“Bingung? Kenapa?” tanya Lana.
“Tadi saat di restaurant, om beruang tidak sengaja bertemu dengan mantannya yang ternyata bekerja menjadi pelayan di sana.”
“Lalu?”
“Aku yang kebetulan melihat om beruang menarik tangan mantannya itu segera menghampiri mereka dan menguping pembicaraan mereka. Di sana terlihat kalau om beruang sangat mencintai mantannya, dan tiba-tiba dadaku merasa sesak dan air mataku keluar begitu saja.” jelas Key sambil menundukkan kepalanya.
Lana tersenyum mendengar penjelasan sahabatnya itu, walaupun dia juga tidak pernah memiliki pengalaman tentang percintaan, tapi setidaknya dia tidak sepolos Key yang tidak mengetahui apapun.
“Jadi itu yang membuatmu memanggil om Bernard dengan sebutan kakak?” tanya Lana yang di balas anggukan oleh Key.
“Kamu sudah mulai menyukainya Key.” Ucap Lana.
“Apa? Tidak! Tidak boleh. Kalau nantinya om beruang lebih memilih mantannya aku akan sakit hati.”
“Key yang aku kenal adalah wanita yang tidak pernah menyerah jika menginginkan sesuatu. Ini adalah cinta pertamamu dan kamu harus mendapatkannya, jangan mau mengalah dengan masa lalu yang sudah membuat om Bernard sakit hati.” Tegas Lana.
“Hm kamu benar, tidak ada yang namanya mantan terindah karena jika dirinya indah dia tidak akan meninggalkan kita bukan?” ucap Key yang di balas anggukan oleh Lana.
“Aku akan berusaha membuat om beruang menyukaiku!” tegas Key yang di balas senyuman oleh Lana.
“*Akhirnya kamu menemukan laki-laki yang membuatmu jatuh cinta Key*.” Batin Lana.
“Sudah ayo kita tidur, aku ga mau besok kesiangan untuk sarapan.” Ajak Key.
Akhirnya Key dan Lana kembali tidur dengan nyenyak karena hari itu sudah larut malam.
Di sisi lain, Bernard di kamarnya memikirkan tentang kejadian yang di alaminya barusan di café tersebut.
“Kenapa di saat-saat seperti ini aku malah bertemu dengan Tiara. Aku juga tidak menyangka jika dia benar-benar mencuri asset keluargaku, aku kira dia akan mengelak semua tuduhan itu.” Gumam Bernard di dalam kamarnya.
“Lalu kenapa Key jadi memanggilku kak? Apa aku punya salah padanya? Arghh,, aku tidak bisa langsung mengatakan kalau aku menyukainya, dia bisa kabur karena belum siap menerimanya.” Gumam Bernard lagi.
“Aku mencintaimu Belinda.” Ucap Kenan yang masih membuka kotak yang berisi cincin itu karena Belinda belum menjawabnya.
“Kenan, are you serious?” tanya Belinda.
“Apa kamu tidak percaya padaku Belinda?” tanya Kenan.
“Entahlah, aku takut Kenan aku takut kalau perasaanmu hanya semata-mata karena kamu baru saja kehilangan Diana, aku takut lama kelamaan kamu akan meninggalkanku.” Ucap Belinda.
“Tidak Belinda! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu! Aku mencintaimu dari awal aku melihatmu, hanya saja aku belum menyadarinya saat itu. Aku ingin hidup denganmu, kita menikah dan hidup bersama.” Ucap Kenan.
“Tapi aku belum berbicara kepada orang tuaku, mereka pasti terkejut apalagi selama ini aku tidak pernah mengenalkan teman laki-lakiku kepada keluargaku.” Ucap Belinda.
“Ayo kita ke rumah saja, kita makan di rumahku dan membicarakan mengenai hal ini kepada mami dan papi. Mereka pasti sangat senang karena akan segera memiliki menantu.” Ajak Kenan.
Akhirnya Kenan mengajak Belinda untuk ke rumahnya dan menemui orang tuanya, Kenan mau membicarakan mengenai rencananya untuk menikahi Belinda.
“Halo mi, aku dan Belinda akan datang ke rumah untuk makan siang dan membicarakan sesuatu.” Ucap Kenan kepada maminya lewat telfon.
“Ah benarkah? baiklah mami akan menunggu kedatangan kalian. Tapi sebelum itu bisakah mami meminta tolong kepadamu untuk pergi ke apartmentmu dan membersihkan apartmentmu sendiri? Karena mami belum sempat membersihkannya, mami takut makanan yang ada di kulkasmu sudah mulai membusuk dan bau.” Ucap mami Khansa.
“Hm, baiklah mi Kenan akan ke apartment terlebih dahulu lalu segera pulang, bye mami love you.” Ucap Kenan lalu mematikan telfonnya.
Belinda yang melihat interaksi antara Kenan dan maminya sudah bisa menebak kalau Kenan sangat menyayangi maminya.
“Apa kamu selalu semanis ini saat berbicara dengan mamimu?” tanya Belinda.
“Kan emang aku manis Bel..” Ucap Kenan dengan percaya dirinya.
“Huh, nyesel aku ngomong kayak gitu.” Gumam Belinda yang masih bisa di dengar oleh Kenan.
Kenan yang mendengar gumaman Belinda hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.