MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
PERTEMUAN KHANSA&HANI


Setelah Kalandra, Khansa dan Kenan sudah selesai makan bersama di restoran itu, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke café tempat dimana Hani bekerja.


“Kamu yakin mau bertemu dengannya sayang?” tanya Kalandra meyakinkan istrinya lagi.


“Yakin mas, aku akan berbicara dengan sesama wanita dengannya.” Ucap Khansa sambil tersenyum.


“Kenan ayo kita masuk, ini café favorit papi, om Edo dan om Ryan dulu saat masih sekolah.”


“Benarkah pi? Apakah di dalam ada ice cream?” tanya Kenan antusias.


“Tentu saja, disini ada banyak macam-macam ice cream.”


“Asikkkk…”


“Jangan makan ice cream terlalu banyak sayang, nanti gigi kamu sakit.” Ucap Khansa yang melihat suaminya sangat membebaskan Kenan untuk memakan ice cream.


“Tidak apa-apa sayang untuk hari ini, saat pulang nanti Kenan akan menyikat giginya sampai odol yang dia miliki habis terpakai. Benarkan sayang?” ucap Kalandra dengan nada bercandanya.


“Astaga kalian ini.” Khansa membatin dan menggelengkan kepalanya.


Kalandra dan Kenan masuk ke dalam café lebih dulu dan mencari tempat duduk untuk mereka.


Khansa masuk dan melihat seorang wanita yang sedang melihat kea rah suami dan anaknya dari jauh.


“Sepertinya dia yang bernama Hani.” Batin Khansa melihat wanita yang sedang memandangi suami dan anaknya.


Khansa dengan senyum yang mengembang di wajahnya menghampiri suami dan anaknya sambil sesekali melihat tatapan wanita tadi yang berubah ekspresi menjadi tidak suka. Khansa tersenyum melihat perubahan ekspresi yang ditunjukkan oleh wanita itu.


“Astagfirullah,, kenapa aku jadi seperti wanita jahat yang senang melihat orang lain menderita.” Batin Khansa sambil menggelengkan kepalanya.


Kalandra yang melihat Khansa menggelengkan kepalanya merasa ada yang aneh dengan istrinya itu.


“Kamu kenapa geleng-geleng sayang? Kepala kamu pusing?” tanya Kalandra yang merasa sedikit khawatir.


“Engga mas, aku ga apa-apa kok. Ayo kita pesan sesuatu” ucap Khansa.


Kalandra memanggil pelayan untuk memesan menu makanan, dan kebetulan sekali Hani lah yang datang menghampiri meja mereka.


“Eh Hani kebetulan sekali kita bertemu disini, perkenalkan ini istriku Khansa dan anakku Kenan.” ucap Khansa sambil mengenalkan istri dan anaknya kepada Hani.


“Benarkan firasatku, wanita ini adalah Hani” batin Khansa sambil menjulurkan tangannya kepada Hani.


“Hai kak Hani, aku Khansa. Mas Andra sering sekali bercerita tentangmu, senang bisa mengenal dan bertemu langsung denganmu.” Ucap Khansa dengan senyum lebar di wajahnya.


Hani membalas uluran tangan Khansa dan tersenyum dengan terpaksa karena tidak ingin terlihat buruk didepan Kalandra pikirnya.


“Apakah kalian tidak ingin menambah pesanan?” ucap Hani kepada mereka.


Khansa menoleh ke arah Kenan. “Kenan sayang, ada yang kamu inginkan lagi?” tanya Khansa dengan nada yang sangat lembut.


“Emm,, tidak mami. Kenan Cuma mau ice cream aja” ucap Kenan memamerkan gigi putihnya.


Hani membungkuk dan berbalik meninggalkan mereka.


“Wah, aku baru tau kamu bisa selembut ini.” ucap Kalandra meledek Khansa.


“Apaan sih mas, jadi selama ini aku kasar gitu?” tanya Khansa sambil memanyunkan bibirnya.


“Hahaha, tidak sayang mas kan hanya bercanda. Kamu ini sekarang jadi gampang marah deh, sepertinya anak kita sedang emosi di dalam perutmu.” Ucap Kalandra.


“Oh iya mas, besok aku ada jadwal periksa kandungan. Apakah aku boleh ke rumah sakit bersama Lila?” tanya Khansa


“Tentu saja boleh sayang, tapi aku akan tetap mengantarkanmu sampai ke rumah sakit.” Ujar Kalandra.


“Baiklah sayang, mungkin besok juga Riko akan mengantar Lila ke rumah sakit sayang. Aku akan menghubungi Lila nanti” ucap Khansa dengan antusias.


Tidak lama kemudian Hani datang dengan membawa pesanan mereka.


“Selamat menikmati…” ucap Hani.


“Tunggu, kak Hani bisakah kita berbicara sebentar?” ucap Khansa


“Bisakah kita mencari meja lain untuk berbicara?” tanya Khansa lagi dengan nada yang lembut.


“Baiklah..” ucap Hani lalu melangkah menuju meja yang jauh dari Kalandra.


Kalandra memegang tangan Khansa yang akan beranjak dari kursinya.


“Apa kamu yakin sayang? Kamu tidak perlu aku temani?” tanya Kalandra yang merasa khawatir.


“Tidak sayang, aku baik-baik saja” ucap Khansa sambil melepaskan pegangan suaminya.


Khansa menghampiri Hani yang sudah duduk di kursi yang membelakangi Kalandra.


“Ada apa kamu mengajakku berbicara?” ketus Hani kepada Khansa yang baru saja menempelkan bokongnya di kursi yang berada di hadapannya.


“Aku akan langsung bertanya ke intinya. Apa kamu memiliki dendam pribadi kepadaku dan keluargaku?” tanya Khansa langsung pada intinya.


“Tidak”


“Apa kamu menyukai suamiku?” tanya Khansa lagi.


“Hahaha, dari dulu dialah yang mengejar-ngejar cintaku jadi untuk apa aku menyukainya? Seharusnya yang harus ditanyakan adalah suamimu.” Ucap Hani dengan tertawa mengejek.


“Benarkah? Lalu karena kamu mengetahui jika suamiku tidak lagi mengharapkan dan mengejarmu makanya kamu mendekatinya dan ingin merusak rumah tanggaku bukan?” tanya Khansa dengan santainya.


Hani geram mendengar perkataan Khansa yang meremehkannya itu.


“Tidak, aku tidak mendekati suamimu!” ucap Hani dengan nada kesalnya.


“Benarkah? Lalu untuk apa kamu menghampiri suamiku kemarin saat kami sedang berlibur? Bukankah saat itu sebenarnya kamu tau jika aku ada disana? Lalu kenapa kamu tidak memberitau suamiku dan malah tersenyum sinis ke arahku? Lalu untuk apa cerita menyedihkanmu yang kamu ceritakan kepada suamiku jika kamu memang tidak ingin menarik perhatian suamiku.”


“Apa yang aku ceritakan itu semuanya benar!” Hani mulai membentak Khansa karena terbawa emosi.


“Jika memang itu benar dan kamu tidak menginginkan belas kasihan dari suamiku, kamu hanya cukup berkata ‘Aku tidak apa-apa, terimakasih karena sudah bertanya kepadaku’ begitu nyonya Hani yang terhormat.” Ucap Khansa dengan menekan kata ‘yang terhormat’ untuk menyindir Hani.


Hani hanya diam menahan emosinya dan tidak berkata apa-apa lagi.


“Dengarkan baik-baik ucapan yang aku katakana kepadamu nyonya Hani, kita sama-sama seorang wanita dan sama-sama akan menjadi seorang ibu. Janganlah merusak kebahagiaan wanita lain untuk kebahagiaanmu sendiri. Ingatlah bahwa karma itu ada, jika karma itu tidak menghampirimu maka karma itu akan menghampiri anak-anakmu kelak. Jadi berhentilah sebelum karma itu berjalan ke arahmu.” Ucap Khansa lalu berbalik ingin meninggalkan Hani yang masih terdiam menahan emosinya namun tiba-tiba saja Khansa berbalik ke arah Hani lagi.


“Dan satu hal lagi, aku akan selalu mempercayai suamiku bagaimanapun kondisinnya. Dan aku tidak akan mengalah dan melepaskan keluargaku hanya untuk seorang pengganggu sepertimu. Jangan remehkan aku karena aku lebih muda darimu, mungkin aku akan lebih kejam darimu jika itu menyangkut tentang keluargaku.!” Tegas Khansa lalu pergi meninggalkan Hani.


“Sialan! Aku tidak akan membiarkan kalian semua bahagia!” batin Hani sambil mengepalkan tangannya di bawah meja.


Kalandra yang dari tadi melihat ekspresi wajah istrinya yang sangat tenang dan melihat Hani yang mengepalkan tangannya di bawah meja hanya tersenyum.


“Ternyata aku memiliki istri yang sangat pemberani.” Batinnya.


Khansa tersenyum dan kembali duduk di meja mereka lalu membersihkan mulut Kenan yang sudah dipenuhi dengan ice cream yang berantakan.


“Yaampun mas, kamu dari tadi ngapain aja liat tuh anaknya makan ice cream berantakan kemana-mana.” Ucap Khansa kesal.



“Aku mencintaimu sayang.” Ucap Kalandra tiba-tiba sambil tersenyum.


“Aku lagi marahin kamu mas, kenapa jadi ngomong kayak gitu?” tanya Khansa yang merasa aneh dengan sikap suaminya itu.


“Pokoknya aku mencintaimu titik. Selamat karena sudah berhasil membuat Hani kesal ya sayang.” Ucap Kalandra tersenyum kepada istrinya.


“Kamu ngeledek aku ya mas?” tanya Khansa


“Engga sayang, udah ayo habiskan lalu kita akan keliling kota ini. Aku ingin menghabiskan waktu dengan kalian.” Ucap Kalandra dengan semangat.


Mereka menghabiskan makanan mereka lalu pergi dari café itu dengan gembira.


Hai kakak-kakak semuanya....


terimakasih banyak Karena selalu mendukung author Dan mendoakan author ya, ga nyangka banget ternyata banyak yang mendoakan author huhuhu speechless sekali author🥺😭


sekali lagi terimakasih kakak-kakak sekalian 💙