MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
PETUNJUK BESAR


Hidup bukanlah tentang bagaimana menemukan diri kita tetapi bagaimana menciptakan diri kita yang sebenarnya.



Pagi ini pukul 04.00 Khansa terbangun untuk melaksanakan sholat subuh, Khansa menoleh ke samping untuk mencari Kalandra tapi dia tidak ada di tempat tidur. Khansa merasa khawatir karena tidak melihat Andra di sebelahnya.



Khansa mencarinya di kamar mandi tapi tidak ada, Khansa semakin panik, Khansa takut jika terjadi sesuatu dengan suaminya, Khansa mencarinya di ruang sholat tapi tidak ada juga lalu Khansa keluar dari kamar menuju kamar Kenan yang kebetulan tidak ada siapa-siapa karena Leo sedang menginap di rumah temannya.



Khansa membuka kamar Kenan dengan perlahan, dia takut jika suaminya juga tidak ada disana.



Saat Khansa membuka pintu kamar Kenan, dia sangat terkejut, hatinya seperti tersayat melihat Kalandra sedang duduk di tempat tidur Kenan dan menangis tanpa suara.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1604378455817.jpg)



Khansa tidak berani untuk menghampirinya dan menegurnya, tapi Khansa juga tidak kuat melihatnya menangis, ingin sekali rasanya Khansa masuk dan memeluk suaminya yang sedang menangis itu.



Khansa menarik nafas panjang untuk menenangkan diri dan memberanikan diri untuk menghampiri suaminya.



Khansa memeluk Kalandra dengan erat agar dia bisa merasa nyaman dan bisa mengeluarkan segala kepedihannya.



“A,,aku merindukan Kenan, rumah ini sepi tanpanya aku rindu anakku..” ucap Kalandra sambil menangis.



Mendengar ucapan suaminya itu Khansa menyadari bahwa Kalandra amat sangat menyayangi Kenan. Kalandra yang selama ini dingin, Kalandra yang jarang memiliki waktu untuk bermain dengan anaknya karena sibuk bekerja ternyata memiliki rasa sayang yang amat dalam terhadap anaknya.



Khansa menyentuh pipi Kalandra untuk menghapus air mata yang membasahi pipinya itu dan menatap matanya.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1604378455812.jpg)



“Kamu tau mas? Kemarin saat kamu ditampar dan di hina di depan banyak orang, hatiku sakit mas, mereka tidak tau apa saja yang sudah kamu alami selama membesarkan Kenan, bagaimana kamu bisa membagi waktumu untuk bekerja dan mengasuh Kenan, bagaimana kamu mengatasi omongan orang yang mengejek Kenan karena tidak memiliki ibu. Aku kesal sampai aku menampar wanita itu yang ternyata adalah mamanya kak Ryan. Apa aku salah mas?” tanya Khansa dengan mata yang berkaca-kaca.



Kalandra menggelengkan kepalanya lalu tersenyum kepada Khansa.



“Mungkin menurutmu apa yang kamu lakukan kemarin benar dan kamu merasa kesal karena mama Ryan menghinaku, tapi menurutku kamu salah sayang. Kamu tau? Aku mengenalmu sebagai Khansa yang baik hati dan tidak pernah menyakiti orang, tapi melihatmu seperti kemarin aku merasa kesal dengan diriku sendiri dan menyalahkan diriku karena membuatmu sampai semarah itu dan menyakiti seseorang.” Ucap Kalandra.



“Tidak mas, ini bukan salahmu. Aku minta maaf karena berbuat seperti itu mas.” Ucap Khansa penuh dengan penyesalan.



“Tidak apa-apa sayang, aku hanya tidak ingin membuat tanganmu kotor karena memukul seseorang yang sama sekali tidak penting.” Ucap Kalandra.



Khansa tersenyum kepada Kalandra lalu mengajaknya untuk sholat berjamaah.



Setelah sholat berjamaah Kalandra kembali tertidur di kamar Kenan, sedangkah Khansa menyiapkan sarapan seperti biasa.



Karena bi Rini sudah menyiapkan semua sarapan pgi itu, Khansa pergi ke halaman belakang dan melihat kelincinya.



“*Biasanya Kenan yang selalu memberi makan kelinci-kelinci ini*.” Batin Khansa.



Lalu tiba-tiba Khansa teringat untuk menghubungi Hani.



Pagi itu di gudang yang gelap hanya ada Hani dan Kenan, karena Robert sedang ke kantor untuk bekerja.


“Tante, tolong lepasin Kenan. Kenan takut di sini, Kenan mau pulang” ucap Kenan yang sudah mulai lemas.


Hani kasihan melihat Kenan yang sudah lemas dan pakaiannya sudah lusuh, dia tidak tega tapi dia juga takut dengan Robert.


“Maafkan tante ya Kenan, tapi tante ga bisa ngelepasin kamu.”


“Tante, tolong telfon mami suruh mami jemput Kenan di sini.”


Tiba-tiba saja ada nomer yang tidak di kenal menelfon ke ponsel Hani.


“Siapa ini?” batin Hani lalu mengangkat telfonnya.


“Halo..” ucap wanita yang ada di sebrang telfon


“Ini siapa?” tanya Hani.


“A,,apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan!”


“Hani, firasat seorang ibu tidak pernah salah, aku tau Kenan sedang bersamamu. Bukankah kamu juga akan menjadi seorang ibu? Lalu bagaimana bisa kamu pantas menjadi ibu jika kamu memisahkan seorang anak dari ibunya. Tolonglah aku ingin kembali bersama anakku aku mohon.”


“T,,tidak bisa.”


“Setidaknya biarkan aku mendengar suara anakku dan memastikan jika dia baik-baik saja. Aku mohon.” Pinta Khansa.


Hani yang awalnya ragu hingga akhirnya mengarahkan telfonnya ke telinga Kenan.


“H,,halo?” ucap Kenan yang tidak mengetahui siapa yang ada di telfon.


“Halo sayang, anak mami. Ini mami sayang..” ucap Khansa yang bahagia mendengar suara Kenan.


“Mami!!! Mami Kenan kangen mami, disini gelap mami, Kenan takut.” Teriak Kenan.


Hani menyuruhnya untuk diam karena takut ketahuan oleh penjaga yang ada di luar gudang itu.


“Bagaimana keadaanmu sayang? Apa tante itu memberimu makan?”


“Kenan baik-baik saja mami.”


“Sayang, dengarkan mami kamu hanya perlu bilang iya atau tidak, mengerti?”


“Iya..”


“Apakah kamu berada di sebuah gudang?”


“Iya.”


“Apa disana ada orang lain selain tante yang sedang mami telfon?”


“Iya.”


“Apakah orang itu perempuan?”


“Tidak.”


“Apa saat Kenan diculik mereka menutup mata Kenan?”


“Tidak.”


“Oke, berarti Kenan tau daerah itu kan? Apakah dekat dengan sekolah?”


“Iya”


“Apa ada suara air di sekitar gudang itu?”


“Tidak.”


“Baiklah sayang, waktu kita berbicara tidak banyak. Mami dan papi akan segera mencari keberadaanmu dan menjemputmu kesana. Jangan menangis sayang, jika kamu menangis mereka akan semakin menyiksamu. Mami dan papi sayang Kenan.”


“Kenan juga sayang mami dan papi.”


Setelah itu Hani langsung mematikan telfon tanpa berkata apapun lagi.


“Tante hanya bisa membantumu sampai disitu, selebihnya tergantung bagaimana orang tuamu mencari keberadaanmu.” Ucap Hani.




Setelah menelfon Hani dan berbicara dengan Kenan, hati Khansa semakin tenang karena anaknya baik-baik saja.



Khansa ingin memberitahu suaminya tetang keberadaan Kenan, dan betapa terkejutnya Khansa karena melihat suaminya berada di hadapannya.



“Mas? Kamu sejak kapan disana?” tanya Khansa.



“Kamu telfon siapa? Kamu bicara dengan Kenan sayang?” tanya Kalandra yang tidak menjawab pertanyaan dari Khansa.



“Tadi aku menelfon Hani mas karena aku tau jika Hani ada sangkut pautnya tentang ini, ternyata Kenan memang berada disana mas dengan Hani.”



“Lalu bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? apa dia ketakutan? Apa dia kelaparan?” ucap Kalandra bertubi-tubi memberikan pertanyaan kepada Khansa.



“Mas tenanglah dulu, aku sudah mengetahui informasi keberadaan Kenan. Kenan lagi ada di sebuah gudang di dekat sekolahnya. Kita harus mencari gudang-gudang dekat sekolah yang tidak terlihat orang.” Ucap Khansa.



Dengan segera Kalandra menulis semua informasi yang didapatkan oleh Khansa. Khansa ingin langsung mencari gudang itu sendiri tapi ditahan oleh Kalandra.



“Sayang, terlalu berbahaya jika kita mencarinya sendiri, kita butuh bantuan yang lain, dan kita juga harus benar-benar memastikan gudang yang digunakan untuk menyekap Kenan.”



Pikiran Khansa benar-benar kalut, Khansa terlalu senang mendapatkan kabar dari anaknya hingga tidak memperdulikan bahaya yang akan menimpanya.



“Tapi mas, aku ingin cepat-cepat menjemput anak kita.”



“Tenanglah, sebentar lagi yang lain datang dan kita akan membuat strategi untuk menyelamatkan Kenan.” ucap Kalandra menenangkan istrinya.