
Bersikaplah kuat, tapi tidak kasar. Bersikaplah baik, tetapi tidak lemah. Berani, tapi jangan menggertak. Bersikaplah rendah hati, tetapi tidak malu-malu. Percaya diri, tetapi tidak sombong.
Key dan Bernard sudah masuk ke halaman rumah keluarga Kalandra, Bernard sedikit gugup melihat kemegahan tempat tinggal wanita yang berada di sebelahnya itu. Walaupun rumah Bernard tidak kalah megahnya dengan rumah Key tapi dia tetap merasakan ada sesuatu yang mengintimidasinya di rumah itu.
“Kenapa? Udah kerasa gugupnya?” tanya Key yang melihat ekspresi wajah Bernard mulai menegang.
“S,,siapa yang gugup?” tanya Bernard mencoba untuk membohongi Key.
Bernard sudah memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah Key, Key lebih dulu membuka pintu, namun saat ingin keluar Bernard menahan tangannya.
“Kenapa?” tanya Key yang kembali menoleh ke arah Bernard.
“Apa papimu benar-benar galak?” tanya Bernard.
“Papi itu tidak galak, hanya saja dia tegas dalam mendidik anak-anaknya, ga tau ya kalau sama pacar anaknya, mungkin akan lebih tegas lagi.” Ucap Key santai dengan senyum sinisnya.
“*Rasain, siapa suruh sok-sokan mau ijin langsung ke papi. Hihihi*.” Batin Key yang sudah turun dari mobil Bernard.
Bernard turun dari mobilnya dan menyusul Key yang berjalan lebih dulu. Di dalam semua orang sudah berkumpul ada Rey dan juga Elsa yang kebetulan sedang menjenguk Kalandra dan Khansa.
Bernard mencoba menggenggam tangan Key berusaha untuk menunjukkan jika dirinya adalah pacar Key.
“Om beruang! Sepertinya tidak perlu pegangan tangan deh, kita udah kayak mau nyebrang aja pegangan.” Bisik Key.
“Diamlah, aku sedang menunjukkan kepada mereka kalau aku adalah pacarmu!” balas Bernard.
“Kenapa ga sekalian pake speaker aja di umumin, di rumahku ada musholla tuh om bisa ngumumin pake speaker di sana!” ucap Key kembali.
“Jangan bercanda! aku yakin mereka akan menatapku seolah ingin memakanku hari ini juga!” balas Bernard.
Key tidak mengucapkan apapun lagi, Key sedang menahan tawanya karena melihat ekspresi laki-laki di sebelahnya itu.
“Pi, mi, Key pulang..” ucap Key dengan senyum yang sumringah sambil menggangdeng tangan Bernard.
Benar saja, di dalam rumah semua orang sudah menatap Bernard dengan tatapan mematikan. Sedangkan Bernard yang di lihat seperti itu hanya bisa tersenyum kaku.
“*Kayaknya aku sedang masuk ke dalam kandang harimau deh*.” Batin Bernard yang tetap berjalan menghampiri mereka.
Mami Khansa tersenyum menyambut kedatangan Key dan Bernard.
“Wah siapa laki-laki tampan yang berada di sebelahmu itu Key?” tanya mami Khansa dengan senyum ramahnya.
“Dia..” ucapan Key terputus.
“Saya Bernard Sanjaya tante, saya pacar Key.” Ucap Bernard sopan.
Rey yang mendengar jika Bernard adalah pacar sepupunya segera menghampiri Key dan Bernard, Rey melihat penampilan Bernard dari atas ke bawah dan menarik tangan Key untuk menjauh dari Bernard.
“*Siapa laki-laki itu? Apa dia menyukai Key? Kenapa tatapan matanya seperti itu*.” batin Bernard melihat Rey yang sudah membawa Key menjauh dari dirinya.
“Duduklah nak Bernard! Biasa Rey memang seperti itu jika ada laki-laki yang mendekati Key.” Ucap Khansa.
“Hm, masih untung kak Ken tidak ada di sini. Mungkin kakak akan habis jika kak Ken dan kak Rey ada di sini.” Sambung Elsa.
Di dalam fikiran Bernard sebenarnya ada banyak pertanyaan yang tidak bisa di ungkapkan seperti siapa itu Rey, siapa Ken dan kenapa tuan Kalandra hanya menatap dirinya tanpa mengucapkan apapun.
Bernard duduk di hadapan Kalandra dan Khansa, dia semakin gugup karena duduk di hadapan orang tua Key.
“Rey, biarkan Key duduk di sebelah Bernard.” Ucap Kalandra yang dari tadi hanya diam saja.
“Tapi om..”
Karena merasa kasihan melihat wajah Bernard, Key memberanikan diri untuk menggenggam tangan Bernard yang membuat Bernard terkejut bahkan Kalandra dan Khansa pun terkejut melihat anak perempuannya berinisiatif untuk menggenggam tangan laki-laki terlebih dahulu.
“Tidak apa-apa om beruang, semangat.” Ucap Key sambil tersenyum manis ke arahnya.

Entah kenapa, jantung Bernard berdegup sangat kencang mendapatkan perlakuan seperti itu dan melihat senyuman Key membuat rasa gugupnya menghilang bgitu saja.
“Ehem.. ada apa kamu datang kemari?” tanya Kalandra yang membuyarkan kegiatan Bernard dan Key yang saling bertatapan.
“Eh, iya om saya kemari untuk meminta ijin langsung kepada om dan tante kalau saya akan mengajak Key ke Jepang karena saya ingin mengenalkan Key kepada orang tua saya.” jelas Bernard.
“Sudah berapa lama kalian mengenal atau bahkan berpacaran?” tanya papi Kalandra.
Bernard dan Key saling menatap satu sama lain, mereka tidak mengira jika akan mendapat pertanyaan seperti itu.
“Kenapa malah saling liat-liatan?” tanya mami Khansa.
“Eh iya om tante, saya dan Key sudah mengenal sekitar sebulan yang lalu dan berpacaran seminggu yang lalu.” Jelas Bernard yang sebenarnya juga tidak tau kapan tepatnya mereka bertemu.
“Secepat itu? apa yang membuatmu yakin untuk membawa Key menemui orang tuamu?” tanya papi Kalandra.
“Jujur selama ini saya tidak pernah tertarik kepada wanita manapun, setelah bertemu dengan Key semuanya berbeda saya selalu ingin bertemu dengan Key, saya selalu tertawa mengingat perdebatan-perdebatan yang kami lakukan setiap bertemu, intinya Key adalah wanita yang berbeda tidak seperti wanita lainnya yang mendekati saya hanya karena harta yang saya miliki.” Jelas Bernard.
Key yang mendengar penjelasan Bernard merasa tersentuh, Key menatap Bernard dan melihat ketulusan di setiap perkataannya.
“*YaAllah, Key tenang ini hanya acting jangan baper sama om beruang ini*.” batin Key yang mencoba untuk tetap tenang.
“Sosweet sekali… Elsa juga mau kayak kak Key dong kak Rey..” ucap Elsa menatap wajah Rey.
“Cari pacar makanya!” ketus Rey.
“Kan maunya sama kakak.” Rengek Elsa.
Rey hanya menatap tajam ke arah Elsa yang sedang merengek hingga membuat Elsa diam karena mendapat tatapan tajam seperti itu.

“Apa kamu bisa menjaga Key dengan baik? Apa kamu yakin jika orang tuamu bisa menerima dia dan menyayanginya seperti kami menyayangi Key?” ucap papi Kalandra.
“Saya akan menjaga Key dengan sangat baik walaupun nyawa saya taruhannya, tapi untuk masalah orang tua saya, saya tidak bisa berjanji jika mereka akan langsung menerima Key dengan baik, tapi saya akan berusaha untuk membuat orang tua saya menyukainya.” Ucap Bernard.
“Nak Bernard, dari awal kami memiliki anak perempuan inilah yang paling kami takutkan. Kami memperlakukannya bagaikan tuan putri di rumah ini kami sangat menyayanginya, tapi jika waktunya tiba dia menemukan seseoraang, mungkin laki-laki itu sangat mencintainya tapi belum tentu keluarganya akan mencintainya juga. Kami tidak pernah melarang Key untuk dekat dengan laki-laki manapun selama Key bahagia.” Jelas mami Khansa.
“Mami..” ucap Key dengan mata yang berbinar.
“Kami mengjinkanmu untuk membawa anak perempuan kami, tapi jika kamu atau salah satu keluargamu membuatnya menangis, saya sendiri yang akan membawanya pulang!” tegas papi Kalandra.
“Papi, aku ini belum mau menikah kenapa papi berbicara seolah aku akan di bawa pergi oleh suamiku.” Protes Key.
“Saya berjanji tidak akan membiarkan air mata Key jatuh om.” Tegas Bernard.
“Apa aku bisa mempercayaimu?” tanya papi Kalandra.
“Papi bisa percaya kepadanya! Aku mengenalnya dengan sangat baik, dia tidak akan menyakiti Key.” Teriak Kenan yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan Belinda.
Semua orang yang ada di sana, menoleh ke arah Kenan dan Belinda secara bersamaan.
“Abang!? Kak Belinda!?” teriak Key.