
Cinta itu tentang perasaan hati, yang wajib diungkapkan dengan kata hati. Bukan hanya dengan rayuan atau gombalan.
Di kamar, Key baru ingat jika dirinya harus mengabari Bernard untuk bertemu dengan abangnya saat jam makan siang.
Tut,,, tut,,
Key berusaha untuk menelfon Bernard namun tidak di angkatnya.
“Huh, sebenarnya kemana si om beruang ini? pasti sedang bersama wanita-wanitanya!” gumam Key sambil terus menelfon Bernard.
Setelah beberapa kali menelfon, akhirnya telfonnya di angkat oleh Bernard dan membuat Key merasa lega agar dirinya cepat melaksanakan tugas dan cepat terbebas dari Bernard.
“Halo?” ucap Bernard yang tidak tau siapa yang menelfon.
“Halo! Om beruang! Kamu kemana saja? apakah sedang berkencan dengan wanita-wanita di luar sana? Aku ini sudah menelfon berkali-kali!” ketus Key yang berbicara tanpa bernafas.
“Ah jadi ini kamu gadis kecil! Memangnya kenapa kalau aku sedang berkencan dengan wanita-wanita di luar sana? Apa kamu sedang cemburu?” selidik Bernard.
“Cemburu? Denganmu? Mimpi! Aku ini mau ngasih tau kalau besok saat jam makan siang kita bertemu abang di café dengan taman bermain di pusat kota! Jangan sampai terlambat, karena abangku tidak suka orang yang tidak tepat waktu!” ucap Key lalu mematikan telfonnya tanpa mendengar jawaban dari Bernard.
Bernard kesal karena telfonnya di matikan secara sepihak oleh Key, namun dia hanya bisa menarik nafas panjang berusaha untuk tidak emosi.
“Hanya dia wanita yang seenaknya mematikan telfonku! Biasanya wanita lainnya akan memohon untuk berbicara denganku lebih lama!” gumam Bernard lalu menaruh hpnya di meja kamarnya.
"*Sebenarnya siapa abangnya itu, aku jadi penasaran gadis kecil ini sebenarnya dari keluarga yang sehebat apa sampai memiliki kartu emas yang hanya dimiliki pengusaha terbaik*." batin Bernard.
Paris, Prancis
Di Paris, Ken sedang berbelanja bahan makanan dan menatap ke arah daging yang ada di hadapannya. Karena tidak ada tulisan halal di kemasan daging itu akhirnya Ken hanya bisa menatapnya dan mengira-ngira saja.
“Yang mana yang halal ya? jika aku tiba-tiba makan daging babi secara tidak sengaja tidak apa-apa kan?” gumam Ken.
“Est-ce que je peux vous aider? (ada yang bisa saya bantu?)” ucap wanita cantik yang tiba-tiba datang.
Ken yang mendengar ada wanita yang bertanya kepadanya hanya menoleh ke arah wanita itu dan tersenyum.
“Je choisis de la viande halal à manger. (saya sedang memilih daging halal untuk di makan.)” jawab Ken.
“Es-tu musulman? Êtes-vous nouveau ici? (Apakah kamu muslim? Apa kamu baru di sini?)” tanya wanita itu.
“Oi, je suis d’Indonésie qui fait des affaires ici. (Ya, saya dari Indonesia saya sedang melakukan bisnis di sini.)”
“Benarkah? papiku juga orang Indonesia.” Ucap wanita itu tiba-tiba menggunakan Bahasa Indonesia yang membuat Ken membulatkan matanya karena terkejut.
“Kamu bisa Bahasa Indonesia?” tanya Ken.
“Hm, tentu saja. Papi sering membawaku ke Indonesia untuk berlibur.” Jelas wanita itu yang di balas anggukan dan senyuman oleh Ken.
“Ken.” Ken mengenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.
“Audrey!” ucap Audrey sambil membalas uluran tangan Ken.
“Senang bertemu denganmu!” ucap Ken.
“Me too. Ini” ucap Audrey sambil memberikan daging kepada Ken.
Ken bingung dengan maksud Audrey memberikan daging kepadanya. Audrey yang melihat kebingungan dari wajah Ken hanya tersenyum manis hingga membuat Ken terpana akan kecantikan wanita di hadapannya.
“Ini adalah daging sapi, ini halal kok kamu bisa memakan ini dan ingat terus bentuknya agar tidak kesulitan saat memilih sendiri kedepannya.” Ucap Audrey.
“Bagaimana jika setiap belanja aku mngajakmu untuk memilih bahan-bahan makanan yang berkualitas dan halal.” Ajak Ken.
Akhirnya mereka berdua saling bertukar nomer telfon agar lebih mudah untuk menghubungi satu sama lain.
“Audrey, retorns à la maison! (Audrey, ayo pulang!)” ajak pria paruh baya yang berada tidak jauh dari mereka.
Ken dan Audrey menoleh ke asal suara secara bersamaan. Audrey tersenyum ke arah pria paruh baya yang masih terlihat sangat tampan itu, sedangkan Ken hanya diam karena tidak mengetahui siapa pria itu.
“Dia papiku Ken!” ucap Audrey yang di balas anggukan oleh Ken.
Laki-laki paruh baya itu menghampiri Ken dan Audrey lalu menatap tajam ke arah Ken.
“Papi, jangan seperti itu, dia juga orang Indonesia. Tadi dia bingung memilih daging yang halal untuk di makan dan aku membantunya.” Jelas Audrey.
“Ken, om.” Ucap Ken sambil mengulurkan tangannya.
Awalnya papi Audrey hanya menatap tajam ke arah Ken, namun karena Audrey menyenggol lengan papinya itu akhirnya papi Audrey membalas salaman dari Ken.
“Aldi!” ketusnya.
Ya, Audrey adalah putri semata wayang Aldi, pengusaha terkenal dan juga rekan bisnis papi Kalandra. Namun, karena Aldi tidak pernah melihat anak kembar rekan bisnisnya itu jadi dia tidak mengenali Ken.
Aldi menemukan pujaan hatinya tidak lama setelah dia melakukan kerja sama dengan Kalandra, dia tidak mau terus-terusan larut dengan perasaannya kepada Khansa yang tidak lain adalah istri Kalandra, akhirnya Aldi membuka hatinya untuk wanita cantik keturunan Prancis, setelah itu Aldi memutuskan untuk menikah dengan wanita cantik itu dan pindah ke Paris lalu hadirlah Audrey.
“Apa kamu tidak mau ke rumahku Ken dan makan bersama di sana?” ajak Audrey yang di balas tatapan tajam oleh Aldi.
“Tidak usah Audrey, aku akan makan di apartmentku bersama teman-temanku. Terimakasih atas ajakannya, mari om saya duluan.” Ucap Ken berpamitan kepada Aldi dengan sopan.
“Wah, seram sekali papinya.. bagaimana bisa aku mendekati anaknya jika ada singa jantan yang menjaganya.” Batin Ken sambil bergidik ngeri membayangkan ekspresi papi Audrey.
Setelah melihat kepergian Ken, Aldi segera menoleh ke arah anak perempuannya yang masih menatap Ken dengan mata yang berbinar.
“Kamu jangan asal berbicara dengan orang asing, terlebih itu adalah laki-laki!” ketus Aldi.
“Papi, dia itu orang Indonesia dan dia belum lama berada di sini. Coba papi bayangin kalau Audrey ada di posisinya? Bagaimana perasaan papi kalau aku di gituin sama orang?” ucap Audrey.
“Sudahlah! Papi tidak akan membiarkanmu pergi jauh dari papi! Ayo kita pulang, mami sudah menunggu di rumah.” Ajak Aldi lalu mereka pulang ke rumah mereka.
Belinda yang sedang memainkan hpnya sambil tengkurap di sofa kamar Bernard risih melihat kembarannya itu sedang kebingungan mencari sesuatu di lemarinya.
“Kamu ini sedang apa sih Bernard!?” tanya Belinda yang melihat dari tadi kembarannya itu sedang memilih baju di lemarinya.

“Aku ini sedang memilih pakaian untuk rapat penting besok siang!” ucap Bernard.
“Pakai saja pakaian yang biasa kamu pakai! Kenapa harus repot begitu!” ketus Belinda.
“Aku ingin berbeda dari biasanya! Aku ingin memakai pakaian yang berwarna!”
“Ya cat saja jasmu agar tidak hitam lagi!”
Bernard menatap tajam ke arah kembarannya itu, Bernard kesal karena kembarannya itu bukannya membantu malah membuatnya kesal.
“Kalau kamu tidak bisa membantu setidaknya jangan membuatku kesal! Atau aku akan membawamu pulang agar di jodohkan oleh mama!” ketus Bernard.
“Iya, iya aku diam! Jangan membawaku pulang! Aku tidak ingin di jodohkan dengan laki-laki yang tidak aku kenal!”
“Oh iya, mungkin aku akan ke Jepang beberapa hari lagi!” ucap Bernard..
“Ha? untuk apa kamu ke Jepang? Apa kamu akan menyetujui perjodohan itu?” tanya Belinda.
“Kamu lihat saja nanti! Aku akan memberi kejutan untukmu!” ucap Bernard sambil tersenyum licik.