MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
KEPULANGAN LILA DAN RIKO


Setelah satu bulan Lila dan Riko berbulan madu, mereka akhirnya kembali ke Indonesia dan menempati rumah yang sudah mereka bangun bersama dengan mengumpulkan uang hasil jerih payah mereka berdua.


“Alhamdulillah akhirnya kita sampai di rumah ya sayang?” ucap Riko kepada Lila


“Iya, udah hampir sebulan kita liburan, akum au cepat-cepat kembali bekerja.”


“Apa kamu yakin untuk kembali bekerja? Gajiku cukup untuk kita berdua sayang, kamu dirumah saja tidak perlu kelelahan bekerja.” Riko sebenarnya kurang setuju dengan keinginan Lila yang ingin tetap bekerja.


“Terus aku dirumah ngapain? Aku juga bosen dong dirumah aja, mau jalan sama Khansa juga dia udah sibuk sama Kenan apalagi dia lagi hamil juga pasti waktu dia keluar dibatasi.”


“kan kamu bisa main kerumahnya sayang”


“tapi aku gaenak kalo main ke rumahnya, aku kan ga begitu kenal sama mertuanya.”


“ayolah sayang biarkan aku bekerja ya ya ya,,, aku janji setelah kita memiliki anak aku akan berhenti bekerja dan fokus hanya kepada kamu dan anak-anak kita.” Lanjut Lila dengan nada manjanya.


“emang gapernah menang kalo lawan kamu, terserahlah.” Riko pasrah menuruti permintaan istrinya itu.


Setelah perdebatan kecil mereka, Lila dan Riko membereskan barang bawaan mereka, tidak lupa mereka membawakan oleh-oleh untuk keluarga dan sahabatnya. Lila memutuskan untuk mandi terlebih dahulu bergantian dengan Riko.


“sayang, aku lapeerr” rengek Riko.


“kita ga punya bahan untuk dimasak, ayo kita berbelanja terlebih dahulu mumpung masih sore.”


Lila dan Riko pergi menuju supermarket terdekat untuk membeli beberapa bahan makanan, Lila sibuk memutari supermarket itu mencari bahan yang dibutuhkan, sedangkan Riko hanya mengikutinya dengan sabar padahal kakinya sangat pegal.


“astaga, dia makannya apaan sih kok bisa kuat banget jalan keliling supermarket.” Batin Riko yang melihat istrinya sama sekali tidak berhenti berjalan.


Riko yang benar-benar kelelahan langsung menghampiri Lila dan memberi tahu jika ia ingin duduk sebentar.


“sayang, aku tunggu sambil duduk-duduk aja ya,, aku capek banget ini..” rengek Riko.


“capek? Ih dasar lemah.” Ejek Lila yang membuat Riko menoleh ke arah Lila.


“lemah katamu? Aku akan menunjukkan jika aku mampu membuatmu sulit untuk terbangun besok pagi.” Bisik Riko lalu meninggalkan Lila yang sedang mematung mendengar perkataan suaminya itu.


“aih kebiasaan kan bikin orang salah tingkah aja sih.” Batin Lila yang saat ini mukanya sudah memerah seperti tomat.


Riko keluar supermarket dan membeli kopi yang di jual di sekitar supermarket, tiba-tiba ada seseorang yang tidak sengaja menabrak seorang wanita yang ada di hadapan Riko hingga terjatuh. Riko yang melihat hal tersebut beranjak dari kursinya dan membantu wanita itu.


“apa anda baik-baik saja?” tanya Riko sambil membantu wanita itu berdiri.


“saya baik-baik saja, terimakasih sudah membantu saya.” Ucap wanita itu dengan tangan yang mengelus perut ratanya.


“maaf apakah perutmu sakit?” Tanya Riko yang melihat jika wanita itu memegangi perutnya.


“ah aku sedang mengandung dan sepertinya perutku kram, tapi aku baik-baik saja.”


“mari saya bantu untuk duduk.” Riko membantu wanita itu duduk di kursi yang ia tempati tadi, karena kursi yang lain sudah penuh ditempati orang.


Riko berdiri di sebelah wanita itu tanpa sepatah katapun, hingga Lila menghampiri Riko.


“loh kamu bilang mau duduk, kok malah berdiri? Tau gitu kan temenin aku didalem sama aja.” Protes Lila yang melihat Riko berdiri.


“aku tadi duduk, terus wanita ini tadi ada yang nabrak sampe jatuh dia juga lagi hamil muda perutnya tadi kram jadi aku suruh dia duduk ditempatku.” Jelas Riko sambil melihat kearah wanita tersebut.


“oh,, mbaknya ga perlu kerumah sakit? Mari kami antar, takut kenapa-kenapa bayinya.” Ucap Lila dengan ramah.


“tidak mbak, terimakasih atas tawarannya, dan terimakasih sudah membantu saya, sebentar lagi teman saya datang.” jawab wanita itu,


“baiklah kalau begitu, kami permisi dulu ya..” ucap Lila, sedangkan Riko hanya tersenyum dan mengangguk.


Riko dan Lila memasukkan barang belanjaan mereka ke bagasi dan segera menuju rumahnya.


“kasihan wanita tadi ya ko, ga di temenin suaminya padahal kan lagi hamil. Kalo aku hamil terus mau jalan-jalan kamu temenin ga?” tanya Lila


“ya kalo aku gaada kerjaan pasti aku temenin kok sayang..” ucap Riko


“terus kalo ga ada waktu?”


“kalo aku mau banget banget banget jalan-jalan gimana?”


“haduh, gaada beresnya debat sama kamu, ayo turun kita udah sampai” Protes Riko yang dari tadi mendengar ocehan istrinya hingga mereka sampai dirumah.


“loh kok kita udah sampe rumah? Cepet banget.” Ucap Lila


“ya kamu ngomong mulu gimana ga cepet, aku yang dengerin kamu ngomong aja hampir jebol ini telinga.” Ucap Riko sambil melirik istrinya.


“ih kamu nyebelin amat sih, tauah.” Lila kesal dan langsung keluar dari mobil, sedangkan Riko hanya menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang seperti anak kecil itu.


Riko keluar dari mobil dan mengeluarkan barang belanjaan dari bagasi mobil lalu membawanya ke dalam rumah. Riko melihat Lila yang sudah berada di dapur dan melihat ke arahnya.


“kamu ngapain liat-liat aku? Aku ganteng ya?” ejek Riko


“dih pede banget! Mau makan ga?”


“ya mau lah udah dari tadi cacing diperut udah konser nih.”


Lila mengambil bahan makanan yang sedang di bawa oleh suaminya dan mulai memasak untuk makan malam mereka.


“sayang, kamu kenapa sih jadi suka marah-marah?” tanya Riko sambil memeluk Lila dari belakang.


“entahlah, tiba-tiba aku kesel aja sama kamu tadi.”


Lila sudah selesai memasak dan menyiapkan berbagai macam lauk di meja makan. Riko terpaku melihat lauk yang disediakan istrinya, karena selama bulan madu mereka sudah mendapatkan makan dari hotel dan Riko tidak pernah mengetahui jika istrinya hebat dalam memasak.


“wah ternyata kamu pinter masak ya sayang” puji Riko


“baru tau ya? Dari dulu aku udah diajarin masak sama mama, kata mama anak perempuan itu harus belajar masak dari gadis biar pas nikah ga pemborosan beli makan mulu di luar, iya kalo dapet suami orang kaya enak banyak pembantunya.” Jelas Lila.


“kamu nyindir aku ceritanya? Mau aku cariin pembantu buat masak?” ucap Riko dengan tatapan sinis


“b,,bukan gitu, kamu kan udah punya kerjaan gaji kamu juga udah lebih dari cukup, kita juga udah punya rumah sendiri, tapikan aku Cuma menyampaikan apa yang mamaku kasih tau ke aku bukan nyindir kamu.”


“iya-iya aku paham, oh iya besok aku udah mulai kerja lagi, kerjaan di kantor kayaknya numpuk buat aku deh.”


“iya sayang, besok aku juga janjian sama Khansa mau ikut dia cek kandungan soalnya suaminya besok ada urusan.”


“ciye yang manggil aku sayang..” ejek Riko


“kan kamu kebiasaan kayak gitu, aku kan lagi berusaha malah diledekin..”


“iya-iya maaf ya sayangku..”


“kamu tadi bilang apa? Pak Andra ada urusan? Urusan apa ya, setauku besok gaada kegiatan apa-apa di perusahaan.” Lanjut Riko.


“entahlah, emang kamu pikir dia Cuma punya urusan yang menyangkut perusahaan doang apa?”


“mm, ntahlah.. kamu istirahat aja sana, aku yang akan membersihkan semuanya.” Ucap Riko yang sedang menumpuk piring bekas makannya tadi.


“tidak, ini tuh tugas seorang istri. Kamu sebagai kepala keluarga nyari uang aja yang banyak biar aku bisa belanja terus..” ucap Lila


“siap nyonyaa..” Riko tau jika istrinya sedang bercanda.


“udah ayo kita tidur, besok aku harus bekerja.” Lanjut Riko dan di balas anggukan oleh Lila.


Mereka berdua sudah berbarin di kasur tetapi belum tertidur.


“ko, maaf ya moodku hari ini jelek banget.” Ucap Lila yang menyadari jika moodnya hari ini sangat tidak stabil.


“iya sayang gapapa kok mau PMS kali.”


“terimakasih udah mau terima aku apa adanya dan sabar ngadepin sifat aku yang kayak anak kecil ini.”


Tiba-tiba saja Riko memeluk tubuh Lila dengan sangat erat.


“aku mencintaimu Lila..” ucapnya, Lila yang mendengarnya hanya tersenyum malu.