
Orang tidak akan mengingat hari, tetapi yang diingat adalah momen penting dan berkesan.
Belinda mencoba untuk mengantar Kenan ke rumahnya, namun karena tidak tau alamat jelas Kenan jadi Belinda memutuskan untuk menelfon Key.
“Halo calon kakak ipar?” ucap Key dari sebrang telfon.
“Key, di mana alamatmu? Aku sedang bersama Kenan saat ini.” ucap Belinda.
“Wah, kakak akan mengenalkan diri kepada papi dan mami secara resmi ya kak?” tanya Key dengan semangat.
“Bukan Key, diam dulu dan dengarkan aku.”
“Baiklah Key serius, ada apa kak?”
“Abangmu sedang mabuk, aku baru saja menjemputnya dan ingin membawa Kenan pulang, tapi aku tidak tau alamat rumah kalian.” Jelas Belinda yang membuat Key terkejut.
“Ha? apa aku tidak salah dengar kak? Tidak mungkin abang mabuk kak.”
“Aku bicara yang sebenarnya Key. Beritahu alamat rumahmu, aku akan mengantar Kenan kesana.”
“No! jangan bawa abang ke rumah kak, papi dan mami tidak pernah mengajarkan kami untuk menyentuh barang seperti itu, dan jika abang pulang dalam keadaan seperti itu, aku tidak bisa memikirkan apa yang akan di lakukan papi kepada abang.” Jelas Key.
“Lalu kemana aku harus membawanya Key?” tanya Belinda yang ikut bingung.
“Bawa abang ke apartmentnya kak, alamatnya di jalan\*\*\* nomer kamar di lantai 10, di sana hanya ada dua kamar pilih yangpaling ujung ya kak, passwordnya adalah ulang tahu teman kecilnya tapi aku tidak tau siapa, setauku abang jarang memiliki teman siapa tau kakak kenal dengan teman abang.” Ucap Key.
“Baiklah, aku akan membawa Kenan ke apartmentnya.” Ucap Belinda.
“Titip abang ya kak, maaf karena abang merepotkan kak Belinda.” Ucap Key dengan penuh penyesalan.
“Tidak masalah Key, Kenan juga sahabatku.” Ucap Belinda lalu mematikan telfonnya.
Setelah menaruh kembali hpnya, Belinda menoleh sebentar ke arah Kenan yang sedang tertidur.
“*Teman masa kecil? Mungkinkah? Eyy tidak mungkin bukan*?” batinnya yang fokus melihat ke depan sambil sesekali menatap wajah Kenan.
Setelah sampai apartment Kenan, Belinda segera menuju ke kamar yang di beri tau oleh Key dan memasukkan nomer pin ulang tahunnya dan Bernard. Betapa terkejutnya Belinda saat pintu itu langsung terbuka saat dia coba.
“Jadi selama ini kamu selalu mengingat hari ulangtahun kami Kenan.” gumam Belinda sambil tersenyum ke arah Kenan.
Setelah masuk, Belinda segera menaruh Kenan ke kamar mana saja karena di sana ada dua kamar da Belinda tidak tau di mana Kenan biasanya tidur.
Belinda berkeliling ruangan apartment Kenan setelah dia menaruh Kenan, Belinda kagum dengan keindahan dan kerapihan apartment Kenan.
“Sangat tertata rapih, nyaman sekali berada di sini.” Gumam Belinda.
Belinda melihat jam dinding yang ada di ruang tv, dia terkejut melihat jam yang masih menunjukkan pukul 6 sore.
“Yaampun, sejak kapan ada bar yang buka di siang hari? Apa mereka tidak takut jika ada polisi yang menggrebek mereka?” gumam Belinda.
“*Lebih baik aku memasak saja deh, pasti Kenan lapar saat nanti dia bangun*.” Batin Belinda lalu pergi ke dapur untuk menunjukkan keahlian memasaknya.
“Mmm,, masak apa ya enaknya? Kayaknya sayur lebih segar untuk orang yang mabuk.” Gumam Belinda.
Belinda bersyukur karena di dalam kulkas Kenan ada berbagai macam sayuran dan bumbu dapur lengkap.
Betapa terkejutnya Belinda melihat ada banyak foto-foto mesra Kenan dan Diana di dalam sana hingga membuat Belinda terpaku dan merasakan sesak di dadanya.
“Apa sedalam itu rasa cintamu terhadap Diana Kenan? apa tidak akan ada kesempatan untukku di hatimu?” gumam Belinda yang tidak sengaja di dengar oleh Kenan yang sudah tersadar dan sedang bersandar di ambang pintu.
“Tentu saja ada kesempatan untukmu Bel.” Ucap Kenan yang membuat Belinda membalikkan badannya dan terkejut melihat Kenan yang sudah berada di belakangnya.

“K,,Kenan? kamu sejak kapan ada di sana?” tanya Belinda yang mulai gugup.
“Sejak kamu bilang ‘apakah sedalam itu cintamu terhadap Diana?’ dan selanjutnya” ucap Kenan yang membuat wajah Belinda memerah dan berusaha untuk keluar kamar Kenan namun di tahan oleh Kenan.
“Kenan, biarkan aku keluar. Aku akan menyiapkan makan untukmu.” Ucap Belinda.
“Tidak Bel, masuk dan duduklah kita perlu bicara.” Ucap Kenan.
Akhirnya Belinda menuruti Kenan untuk masuk ke dalam dan duduk atas tempat tidur begitu juga Kenan yang duduk di sebelah Belinda dan membuat Belinda semakin gugup.
“Bel, lihatlah sekeliling kamar ini. Ada banyak sekali foto aku dan Diana, aku juga tidak pernah membawa Diana ke sini karena aku berencana untuk membawanya setelah kita menikah. Kalau kamu tanya apakah aku sangat mencintai Diana, jawabannya tentu saja iya aku sangat sangat mencintainya.” Jelas Kenan.
Belinda hanya diam tidak mengucapkan sepatah kata pun karena ia ingin mendengarkan apa yang ingin Kenan bicarakan.
“Tapi itu dulu, sekarang aku tau jika aku tidak ada artinya bagi Diana. Diana hanya memikirkan karirnya tanpa berfikir untuk menikah denganku. Jika kamu bilang apakah ada kesempatan untukmu, aku bisa bilang ada tentu akan ada kesempatan untukmu tapi tidak secepat ini, biarkan aku menghilangkan semua kenanganku bersama Diana, setelah itu aku akan mencoba membuka hatiku untukmu.” Lanjutnya.
Belinda hanya tersenyum menatap bola mata Kenan yang terlihat tulus itu.
“Bolehkah aku memelukmu sebagai sahabatmu?” tanya Belinda yang di balas anggukan oleh Kenan.
Belinda memeluk Kenan dan mengusap punggungnya dengan lembut mencoba untuk menenangkan Kenan.
“Tenanglah, walaupun tidak ada kesempatan untukku di hatimu aku akan tetap berada di sisimu sebagai sahabatmu.” Ucap Belinda.
“Terimakasih. Aku harap kamu bisa membantuku untuk melupakan kenanganku dengan Diana.” Ucap Kenan.
“Aku akan berusaha sebaik mungkin Kenan.” Belinda melepaskan pelukannya dan tersenyum kepada Kenan.
“Kamu mandilah, setelah itu segera ke ruang makan untuk makan malam bersamaku.” Ucap Belinda.
“Hm, kamu mandilah di kamar ini aku akan mandi di kamar sebelah. Di lemari juga ada beberapa kemejaku, kamu pakailah itu dulu sambil menunggu aku menyuruh seseorang membawakan baju baru untukmu.” Ucap Kenan lalu mengacak rambut Belinda.
“Terimakasih!” ucap Belinda dengan tersenyum.
Belinda bersyukur karena di balik kejadian yang menurutnya menyebalkan tadi ada hikmah yang membuatnya bahagia.
Belinda melangkahkan kaki di depan foto Diana yang berukuran besar sedang tersenyum lebar dan sangat cantik.
“Kamu akan menyesal suatu saat nanti karena telah melepas sebongkah berlian hanya untuk karirmu yang bersifat sementara itu Diana, tapi di balik itu semua aku sangat berterimakasih kepadamu karena telah melepaskan berlian itu dan membuatku memiliki kesempatan untuk memilikinya. Aku tidak akan menyia-nyiakannya seperti kamu menyia-nyiakan Kenan Diana. Jika suatu saat nanti kamu kembali dan ingin merebutnya dariku, aku tidak akan pernah melepaskannya apapun yang terjadi.” Ucap Belinda.
Di luar kamar, ada Kenan yang sedang bersandar di depan pintu kamar mendengarkan ucapan Belinda sambil tersenyum bahagia.

“*Aku juga tidak akan menyia-nyiakanmu Belinda. Aku akan berusaha untuk move on secepatnya dan membuka lembaran baru denganmu*.” Batin Kenan lalu beranjak menuju kamar sebelah untuk mandi.