MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
MENGINGKARI JANJI UNTUK KEBAIKAN TIDAK APA BUKAN?


Jika kita mencintai seseorang, berusahalah cintai kekurangannya, bukan hanya mengubahnya seperti yang kita mau.


Dengarkan suara hatimu, bukan suara hati orang lain. Karena yang bertanggung jawab atas kebahagiaanmu adalah dirimu sendiri.



***Rumah Robert***



Robert yang baru saja sampai di depan rumahnya segera membuka pintu dan melempar tas kerjanya di sofa ruang tamu, Robert segera menuju ke dapur untuk mengambil segelas air putih untuk dia minum.



Setelah meminum air putih yang dia ambil, Robert duduk di kursi makan dan terdiam memikirkan kejadian di gallery. Robert mengingat wajah bayi mungil yang ada di gendongan Khansa.



“Apa dia benar-benar anakku? Kenapa Kalandra mau merawat anakku, kenapa aku sangat iri melihat Kalandra bercanda dan membuat anakku tertawa.” Gumam Robert.



Robert segera mengambil hp yang ada di sakunya dan segera mencari nomer seseorang untuk di hubungi.



“Halo.” Ucap seseorang di sebrang telfon.



“Halo Ardi, sekarang juga aku mau kamu mencari tau informasi tentang Hani dan anak itu, dan aku mau besok kamu mengantarku ke penjara dimana Hani di tahan.” Tegas Robert lalu mematikan telfonnya tanpa mendengar jawaban dari Ardi.



Di sisi lain, Ardi sangat kesal dengan kelakuan Robert yang keterlaluan karena seenaknya mematikan telfon setelah memerintah dirinya.



“Benarkan apa yang aku bilang, dia pasti akan mencari informasi tentang mereka. Padahal aku sudah membayangkan akan beristirahat dengan tenang, tapi tiba-tiba saja ada pengganggu yang menghancurkan semuanya.” Gumam Ardi yang kesal karena sikap Robert yang seenaknya sendiri.



“Sebenarnya apa yang kamu rencanakan sayang?” tanya Kalandra secara tiba-tiba yang membuat Khansa terkejut mendengarnya.


“Ha? maksud kamu apa mas? Apa yang aku rencanakan?” tanya Khansa.


“Tidak usah berpura-pura, aku sudah melihat jika kamu menghampiri Olivia yang sedang bersama dengan Robert.”


Khansa gugup karena mengetahui jika suaminya mengetahui jika dirinya menghampiri Olivia dan Robert.


“Emm,, aku tidak merencanakan apapun mas, aku hanya ingin Rey melihat wajah papanya yang tidak bertanggung jawab itu.” Ketus Khansa.


Kalandra menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang sama sekali tidak mengetahui bahaya yang akan dia dapatkan jika berurusan dengan Robert.


“Sayang, aku mohon jangan melakukan hal yang membuatku khawatir.” Ucap Kalandra.


“Apa yang harus di khawatirkan mas? Apakah dia akan tega menyakiti darah dagingnya sendiri?” tanya Khansa yang melirik ke arah suaminya dengan tatapan tajam.


“Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu. Ayo turun, kita sudah berada di depan rumah.” Ucap Kalandra sambil membuka sabuk pengamannya.


Kalandra turun dari mobilnya dan berjalan untuk membukakan pintu untuk istrinya itu.


“Silahkan turun istriku sayang.” ucap Kalandra sambil menyodorkan tangannya.


Khansa yang melihat tingkah suaminya hanya tersenyum lebar dan membalas uluran tangan Kalandra lalu turun dari mobil.


“Aku langsung ke kamar anak-anak ya mas, mau menaruh Rey di tempat tidurnya.” Ucap Khansa yang di balas anggukan oleh Kalandra.


Setelah melihat kepergian istrinya, Kalandra duduk bersandar di sofa sambil memejamkan matanya karena kelelahan.


Khansa terkejut melihat mama mertuanya sedang tertidur di sofa sedangkan Kenan tertidur duduk di lantai dengan kepala yang berada di sofa dengan kepala mama mertuanya.


“Sebenarnya apa yang mereka lakukan sampai tertidur dengan posisi seperti itu?” batin Khansa yang berjalan untuk menaruh Rey di tempat tidurnya.


Khansa melihat ke arah ranjang si kembar dan memastikan jika mereka benar-benar masih tertidur, setelah itu Khansa menghampiri Kenan yang tertidur dengan posisi yang tidak nyaman itu, Khansa segera mengangkat Kenan perlahan dan menggendongnya keluar kamar anak-anaknya.


Kalandra yang kebetulan melihat ke atas terkejut karena melihat Khansa sedang menggendong Kenan. Kalandra segera beranjak dari sofa dan segera menghampiri istrinya itu.


“Sayang, kamu kenapa gendong Kenan? sini aku aja yang gendong.” Ucap Kalandra sambil mengambil alih Kenan dari gendongan Khansa.


“Kasihan mas, tadi dia tidur duduk di lantai aku takut Kenan masuk angin jadi aku menggendongnya untuk memindahkannya ke kamar.” Jelas Khansa.


“Kamu kan bisa panggil aku sayang.”


“Terus membiarkan Kenan lebih lama dengan posisi tidur yang tidak nyaman itu?” tanya Khansa.


“Sudahlah, pokoknya kalau ada apa-apa kamu harus panggil aku.” Tegas Kalandra.


Khansa hanya tersenyum dan mengangguk menuruti perintah suaminya.


Sesampainya di kamar Kenan, Khansa segera membuka pintu untuk Kalandra agar memudahkannya untuk membawa Kenan ke tempat tidurnya.


Setelah menaruh Kenan di tempat tidurnya dan menyelimuti tubuh mungil anaknya itu, Kalandra berdiri di sebelah Khansa yang sedang menatap Kenan lalu tangan kanan Kalandra merangkul bahu Khansa.



“Lihatlah anak kita sudah semakin besar sekarang sayang.” ucap Kalandra kepada Khansa yang masih melihat anak sulunya yang tertidur.


“Iya mas, aku aja udah ga kuat gendong dia.” Ucap Khansa sambil tersenyum.


“Terimakasih karena sudah menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita.” Ucap Kalandra.


Khansa menoleh ke arah suaminya, “Kamu sudah ratusan kali mengucapkan hal itu mas.”


“Aku tau, dan aku tidak akan pernah bosan untuk mengatakan hal itu berkali-kali kepadamu.” Kalandra mencium kening istrinya dengan lembut.


“Aku tidak menyangka mereka akan tumbuh secepat ini mas, dan aku juga tidak menyangka jika kita telah melewati berbagai ujian di dalam rumah tangga ini.” ucap Khansa.


Kalandra hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya dan mengingat kembali kejadian yang mereka alami saat awal bertemu.


“Sudahlah, ayo kita mandi, sholat dan beristirahat mas. Aku sudah sangat lelah.” Ajak Khansa.


Kalandra yang memang sudah sangat lelah hanya mengangguk mengikuti ajakan istrinya untuk pergi ke kamar mereka untuk membersihkan diri, sholat dan beristirahat.


Khansa yang baru saja ingin naik ke atas kasurnya mendengar bunyi telfon yang berasal dari hpnya. Khansa segera mengambil hp yang berada di lemarinya dan mengangkat telfon itu.


“Halo kak Ryan ada apa?” tanya Khansa sambil melihat ke arah suaminya yang sudah berbaring di tempat tidur.


“Sa, apa kamu bisa membantuku untuk bertemu dengan Rose? Atau setidaknya beri tau aku alasan dia menjauhiku dan meninggalkanku.” Ucap Ryan.


“Apa kak Ryan masih belum bisa menghubungi Rose?” tanya Khansa.


“Hm, nomernya tidak pernah aktif. Apa dia mengganti nomer telfonnya?” tanya Ryan.


“Iya kak, dia sudah mengganti nomer telfonnya. Aku kira dia mengabari kakak setelah mengganti nomer telfonnya, karena kak Ryan sudah tidak pernah menanyakan keadaannya lagi.”


“Aku memang sengaja memberinya waktu untuk menenangkan diri, tapi aku tidak menyangka dia akan mengganti nomer telfonnya. Sebenarnya apa yang terjadi kepadanya?” tanya Ryan.


Khansa terdiam tanpa mengatakan apapun, dia kasihan melihat Ryan yang masih berusaha untuk menghubungi Rose, namun di sisi lain dia memiliki janji untuk tidak memberi tau apapun kepada Ryan.


“Baiklah kak, besok aku sudah bekerja kembali jadi kita bisa bertemu di café dekat perusahaan mas Andra, aku akan memberi tau sesuatu kepadamu di sana.” Ucap Khansa lalu mematikan telfonnya.


“Bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak memberi tau Ryan?” tanya Kalandra yang sedari tadi menyimak pembicaraan Khansa dan Ryan.



“Hm, mengingkari janji untuk kebaikan tidak masalah bukan mas? Hehehe.” Ucap Khansa sambil memamerkan gigi putihnya.