MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
SIKAP DINGIN KENAN


Cinta membutuhkan pasangan. Itulah mengapa Tuhan menciptakan kekosongan diantara jemari tangan kita agar nanti ada jemari lainnya yang akan melengkapi dan membantu mengisi kekosongan itu.



Sepanjang perjalanan pulang, Anita hanya tersenyum malu, wajahnya memerah. Anita tidak berani menoleh ke arah Edo sangking malu dan senangnya.



**FLASHBACK**



Anita tidak bisa berkata-kata saat mendapatkan lamaran romantis yang di siapkan oleh Edo kepadanya, dia hanya menutup mulunya menggunakan kedua tangannya dengan mata yangberkaca-kaca.



“Nit, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu, tapi aku tidak pernah berfikir untuk mengungkapkan perasaanku kepadamu karena aku merasa jika aku tidak pantas bersanding denganmu, aku hanyalah seorang asisten sedangkan kamu adalah seorang dokter yang sukses.



Namun perasaanku semakin lama semakin besar kepadamu hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku kepadamu, aku juga tidak menyangka ternyata kamu juga menyukaiku diam-diam. Dan hari ini aku ingin membuatmu menjadi milikku seutuhnya, maukah kamu menikah denganku dan menjadi ibu dari anak-anakku?”



Edo mengucapkan lamarannya sambil memasangkan cincin berlian mewah berwarna merah.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605852939846.jpg)



“Nit, kamu kok diem aja?” tanya Edo sambil melambaikan tangan kananya di depan wajah Anita.



Anita tersadar dari lamunannya karena Edo.


“Do, I,, ini beneran kamu yang nyiapin semuanya?” tanya Anita.



“Iya nit, aku menyiapkan ini semua untukmu.” Ucap Edo.



Anita meneteskan air matanya karena terlalu bahagia mendapatkan kejutan seperti itu dari kekasihnya.



“Kamu hanya akan menangis tanpa menjawab lamaran aku sayang?” tanya Edo.



“Kamu ga usah tanya do, ya aku pasti terima lah hikss,, aku sudah lama menyukaimu, awalnya aku kira hanya aku yang menyukaimu hikss..” Anita langsung memeluk Edo dengan sangat erat sambil menangis.



“Jangan menangis, aku tidak suka kamu menangis seperti ini. Aku melamarmu untuk memberikan kebahagiaan untukmu bukan malah membuatmu menangis seperti ini.” ucap Edo sambil mengusap air mata Anita.



“Hikss,, aku ga nyangka k,,kamu bisa se romantis ini. hikss..” ucap Anita.



Edo hanya tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu.



“Aku memang tidak bisa se romantis lelaki yang lain, tapi karena ini adalah lamaran untuk kekasihku aku berusaha sebaik mungkin untuk memberikan kejutan seromantis mungkin.” Jelas Edo lalu mencium kening Anita dengan sangat lembut.



**FLASHBACK END**



Anita masih tersenyum melihat cincin yang sudah menghiasi jari manisnya itu. Sedangkan Edo tersenyum melihat kekasihnya yang masih melihat ke arah cincin yang di berikannya.



“Kita makan dulu ya setelah itu aku akan mengantarmu kembali ke rumah sakit.” Ucap Edo.



Anita hanya mengangguk menuruti ucapan Edo.



Mereka berdua berhenti di restorant yang berada tidak jauh dari rumah sakit Anita dan mereka memesan makanan mereka.



“Nit, apa orang tuamu akan menyukai hubungan kita?” tanya Edo.



“Em,, selama ini mereka tidak pernah mengurusi kehidupan pribadiku, mereka pasti akan menerimamu apalagi jika mereka tau kamu adalah sahabat baik Andra dan salah satu orang kepercayaannya.”



“Emang kenapa jika aku adalah orang kepercayaan Andra?”



“Karena papa dan mamaku yakin jika Andra tidak akan mempercayai sembarang orang, jadi mereka pasti akan menganggapmu spesial karena bisa mendapatkan kepercayaan dari Andra, dan aku juga yakin jika mereka akan menyukai kepribadianmu.”


Edo hanya tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu.



Sekolah Kenan


Kenan baru saja sampai di sekolahnya dan duduk di bangkunya. Di sekolahnya, Kenan adalah anak yang pendiam dan dingin terhadap semua orang, karena sikap dinginnya Kenan hanya memiliki satu teman di kelasnya.


Namun ada anak perempuan yang selalu mendekatinya, bernama Belinda, Belinda adalah saudara kembar Bernard yang tidak lain adalah satu-satunya teman Kenan namun Kenan tidak pernah mau berteman dengan Belinda.


“Kenan, kenapa kamu tidak pernah mau bermain denganku?” tanya Belinda.


“Kamu terlalu berisik, aku tidak suka mempunyai teman yang berisik seperti kamu.” Ketus Kenan.


“Kalau kamu tidak suka memiliki teman yang berisik, kamu temenan aja sama batu sana.” Balas Belinda.


“Sudahlah Bel, kamu dan Kenan selalu saja bertengkar.” Bernard melerai keduanya.


Bernard adalah seorang anak laki-laki yang dewasa, dia tidak pernah merasa sakit hati dengan ucapan Kenan, itulah kenapa mereka bisa menjadi teman.


“Adikmu selalu saja menggangguku.” Ketus Kenan.


“Aku hanya ingin berteman denganmu.”


“Bernard mau berteman denganku.”


“Itu karena dia saudaramu, jika tidak dia tidak akan mau berteman denganmu dan mendengar ocehanmu.”


Belinda hanya mengepalkan tangannya menahan kekesalannya terhadap Kenan. sedangkan Kenan menjulurkan lidahnya untuk mengejek Belinda.



Setiap hari Belinda selalu diejek oleh Kenan namun dia tidak pernah berhenti untuk mendekati Kenan dan menjadikan Kenan sebagai temannya.


Bernard hanya bisa menggelengkan kepala mendengar perdebatan antara adik dan sahabatnya itu.




***Rumah Kalandra***



Khansa menghabiskan banyak waktunya di kamar calon anaknya itu, dia sangat senang berada di sana dan selalu ada saja hal yang akan di kerjakan olehnya hingga membuat Kalandra lelah untuk mengingatkan istrinya itu.



Drtt,, drtt..



Khansa menoleh ke arah hpnya yang berbunyi dan tersenyum lebar karena mendapatkan telfon dari mama mertuanya.



“Halo ma..” sapa Khansa.



“Halo sayang, bagaimana keadaanmu? Apakah cucu-cucu mama baik-baik saja?”



“Alhamdulillah baik ma, mama kapan datang kemari?” tanya Khansa.



“Emm,, mama masih menunggu kepastian dari papa nih sayang. Setelah papa menyelesaikan pekerjaannya di sini kami akan segera berangkat ke Indonesia. Mama sudah tidak sabar ingin menyambut cucu-cucu mama.”



“Cepatlah datang ma, cucu-cucu mama juga tidak sabar ingin melihat omanya.”



“Oh iya, cucu-cucu mama laki-laki atau perempuan?”



“Khansa juga ga tau ma, mas Andra bilang biar jadi kejutan aja. Tapi dia udah nyiapin kamar erwarna biru semua.”



“Benarkah? Jangan-jangan laki-laki?”



“Em,, entahlah ma, sasa ga mau main tebak-tebakan, yang penting anak-anak sasa sehat semua nanti.”



“Aamiin, semoga kamu dan cucu-cucu mama sehat semua ya.”



“Iya ma..”



“Oh iya, Kenan gimana keadaannya?”



“Baik kok ma, dia sempet trauma dan takut gelap tapi sekarang sudah mulai teratasi.”



“Mama tau kamu mampu mengatasi semua ini sa, mama tau kamu hebat.”



Setelah berbincang dengan mama mertuanya, Khansa mematikan telfonnya dan menaruh hpnya kembali.



“Sayang.” ucap Kalandra yang membuat Khansa terkejut.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605852939835.jpg)



“Ih mas kamu kok ngagetin aku aja sih, kamu kok ga jadi kerja?”



“Ya gimana aku mau kerja kalo kamu gabisa diomongin gini.”



“Loh emang aku kenapa mas? Aku kan ga kemana-mana tetep di sini aja.”



“Pokoknya aku ga tenang ninggalin kamu sendirian di rumah.”



“Kan ada bi Rini mas..”



“Pokoknya engga, aku kerja di rumah aja.” ucap Kalandra yang duduk di meja yang ada di kamar itu dan membaca laporang-laporannya.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605852939843.jpg)



“*Astaga, kenapa suamiku sangat over seperti ini*.” batin Khansa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.