
Orang yang paling beruntung di dunia adalah orang yang telah mengembangkan rasa syukur yang hampir konstan, dalam situasi apapun.
“Aku ini selalu di kelilingi wanita-wanita cantik di luar sana yang sangat menginginkanku!” ketus Bernard.
“Lalu? Kenapa tidak wanita-wanitamu itu saja yang membantumu? Aku yakin mereka akan langsung setuju dengan permintaanmu.” Ucap Key.
“Justru karena itu! Aku hanya ingin kesepakatan ini hanya sebatas kesepakatan yang akan berhenti setelah selesai! Tapi aku yakin jika mereka akan menuntut lebih setelah kesepakatan ini berakhir. Itulah sebabnya aku memintamu, karena dirimu tidak tertarik kepadaku dan aku juga yakin jika kesepakatan ini berakhir kamu tidak akan menuntut apapun kepadaku!” jelas Bernard.
Key tersenyum sinis lalu berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menghampiri Bernard.
“Lalu, jika ternyata aku juga menuntut sesuatu darimu apa yang akan kamu lakukan kepadaku!?” tanya Key dengan nada menantang yang membuat Bernard terkejut.
Bernard yang tidak kalah liciknya itu segera membalas senyum licik Key dan berjalan menghampiri Key semakin mendekat hingga membuat punggung Key menyentuh tembok dan tidak bisa menjauh lagi. Bernard menaruh tangannya di sisi kanan dan kiri kepala Key hingga membuat Key terkunci.
“Jika kamu menuntut sesuatu tentu saja aku tidak akan menolak! Aku akan lebih senang jika kamu benar-benar menjadi wanitaku seutuhnya.” Bisik Bernard hingga membuat Key merinding karena nafas hangat Bernard yang terhembus di telinga Key.
Key mendorong tubuh Bernard dengan keras dan mengatur nafasnya yang sudah tidak karuan itu sambil memegang dadanya.
“*Gila*!” batin Key.
“Bagaimana?” tanya Bernard memecahkan kediaman Key.
“Apa keuntunganku jika aku setuju?” tanya Key yang sudah mulai berhasil mengatur nafasnya.
“Aku akan megembalikan dompetmu!”
“Hah, apa kamu mengira jika aku tidak mampu membeli dompet dan isinya lagi?” tanya Key.
“Aku akan menuruti segala keinginanmu selama sebulan! Apa cukup?”
Key berfikir sejenak dan kembali senyum sinisnya itu menghiasi wajahnya dan membuat Bernard menjadi ngeri di buatnya.
“Baiklah, sepakat!”
“Good! Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Aku akan meminta ijin langsung kepada mereka!”
“No! kamu gila ya? jika mereka tau aku pergi dengan pria sepertimu itu akan membuat mereka terkejut dan tidak akan mengijinkanku!”
“Lalu? Aku harus bagaimana? Tidak mungkin bukan jika aku harus membawamu tanpa meminta ijin dari keluargamu.”
“Kamu harus meminta ijin kepada abangku! Karena dia yang memegang kendali setelah papi memutuskan untuk berhenti bekerja.” Ucap Key.
“Baiklah, kamu bisa atur pertemuanku dengan abangmu nanti, dan hubungi aku di sini!” ucap Bernard sambil memberikan kartu namanya.
“Hahahahaha..” Key kembali tertawa setelah membaca kartu nama Bernard dan membuat Bernard merasa heran.
“Apa kau sudah gila? Kenapa kamu selalu saja tertawa!”
“Jadi namamu beruang? Pantas saja kamu tidak memberitahuku dari awal.” Ucap Key masih dengan tawanya.
“Apa! Beruang!?”
Sedangkan Bernard tidak menyangka dengan sikap Key yang berhasil membuatnya kesal terus menerus, namun anehnya dia selalu tersenyum setelah meluapkan kekesalannya.
“Kenapa aku harus berurusan dengan gadis menyebalkan itu! Aarrghhh!!” Teriak Bernard hingga membuat Jonathan masuk ke dalam untuk melihat keadaan tuannya.
“Tuan baik-baik saja?” tanya Jonathan.
“Tidak Jo! Aku tidak baik-baik saja! bisa gila aku lama-lama!” ucap Bernard dengan nada yang meninggi.
Jonathan hanya bisa menggelengkan kepalanya dan bersiap untuk melaporkan kejadian tadi kepada Belinda.
Di lobby, Key yang baru saja turun segera menghampiri sahabatnya dan terkejut melihat sahabatnya yang sedang tertidur di sofa lobby.
“Bagus sekali! kamu bilang akan menelfon bantuan jika terjadi sesuatu!? Bagaimana kamu tau ada sesuatu atau tidak denganku jika kamu malah tidur dengan nyenyak di sini!” gumam Key lalu membangunkan sahabatnya itu.
“Hei! Tukang tidur! Bangun!” teriak Key hingga membuat Lana terkejut.
“Key? Apa kamu baik-baik saja? jam berapa ini? coba aku lihat.” Ucap Lana dengan nada khawatirnya sambil memutar badan Key ke kanan dan ke kiri hingga membuat Key kesal.
“Diam! Kamu ini memang tidak bisa di andalkan!” ketus Key sambil menepis tangan sahabatnya dari tubuhnya.
“Hehehe, maafkan aku Key, aku kan tidak menyangka jika akan tertidur di sini.” Ucap Lana sambil memamerkan gigi putihny itu.
“Diam dan segera lap air liurmu itu!” ketus Key lalu pergi meninggalkan Lana.
“Apa air liur? Tidak mungkin!” tanya Lana yang segera mengambil kaca yang ada di tasnya sambil berlari menyusul sahabatnya.
“Kenan, bisakah kamu bicarakan dulu dengan orang tuamu agar tidak menjodohkanmu terlebih dahulu?” tanya Diana dengan ragu.
Citt..
Kenan menepikan mobilnya dengan tiba-tiba hingga membuat Diana terkejut lalu menatap Kenan dengan perasaan yang tidak bisa di artikan.
“Kenan? are you oke?” tanya Diana.
“Keluar.” Ucap Kenan tiba-tiba dengan nada yang lembut.
“Kenan, jangan kayak gini dong please..” mohon Diana.
“Selama ini aku selalu menunggumu hingga kamu siap menjadi istriku! Selama ini aku tulus mencintaimu, tapi jujur aku lebih suka kamu saat pertama kali kita bertemu, saat kamu masih polos tidak tau apa-apa. Dan sekarang aku menyadari bahwa aku mencintai Diana yang dulu bukan yang sekarang.” Ucap Kenan.
“Kenan..” ucap Diana yang mulai merasa bersalah.
“Aku menyesal, kenapa saat dulu kamu ingin menikah denganku aku malah menyuruhmu mengejar impianmu lebih dulu, seharusnya dulu aku segera menikahimu saja jika tau kamu akan berubah seperti ini.” lanjut Kenan.
“Kenan, baiklah ayo kita menikah Kenan..”
“Maaf, tapi semuanya sudah terlambat Diana. Hatiku sudah mantap untuk mengakhiri hubungan kita.”
“Kenan please!”
“No Diana, turun!”
“Apa kamu tega membiarkanku turun di tengah jalan?”
“Tentu saja tidak! Kita sudah ada di depan gedung apartmentmu, jadi kamu bisa turun! Aku tidak sekejam itu menurunkan wanita di tengah jalan.” Ucap Kenan.
Diana melihat ke luar jendela dan terkejut melihat jika dirinya sudah berada di depan apartmentnya. Diana kembali menoleh ke arah Kenan untuk memastikan kebenaran yang tadi dia dengar.
“Aku tau kamu masih emosi, kita akan bicara lagi besok ya sayang..” ucap Diana dengan lembut lalu keluar dari mobil Kenan.
Kena tidak menjawab perkataan Diana dan langsung menginjak pedal gasnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Diana terkejut karena tidak pernah melihat Kenan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sepanjang jalan Kenan meneteskan air matanya secara tidak sadar, dia begitu mencintai Diana namun ternyata wanita itu hanya memanfaatkanya saja selama ini.
“Aku tidak meyangka, ternyata ketulusanku selama ini hanya di manfaatkan olehnya. Setiap Key berbicara kepadaku tentang Diana, aku berusaha menutup telingaku dan tidak ingin mendengar kenyataan itu, aku tidak ingin menerima kenyataan itu. Tapi ternyata rasanya lebih sakit saat melihat keraguannya saat aku beri pilihan antara menikah denganku dan karirnya.” Gumam Kenan sambil tetap fokus mengendarai mobilnya.
Kenan berhenti di depan bar X dan masuk ke dalam. Selama ini Kenan tidak pernah masuk ke tempat seperti itu, menurutnya tempat itu adalah tempat yang menjijikkan dan di penuhi dengan wanita murahan. Namun hari itu Kenan tidak memikirkan tentang hal itu, yang dia fikirkan hanya ingin bersenang-senang untuk melupakan semua kekesalan dan rasa sakit hatinya itu.
Di dalam bar, ada banyak sekai wanita-wanita sexy dan cantik menghampiri Kenan dan mencoba untuk merayunya, tapi tetap saja Kenan tidak memperdulikan mereka dan tetap meminum minumannya sampai habis tak bersisa.