
Aksara sudah mengurus berkas keluar dari rumah sakit di ruang rawat istri nya, wanita itu hanya tersenyum sendiri.
"Kenapa senyum senyum begitu?"
Cinta menggelengkan kepala nya.
"Apa sekarang senyum juga dilarang?"
"Tidak, memang siapa yang melarang?"
Suami tua nya ini malah balik bertanya.
"Byy?"
"Iya sayang"
"Apa bisa Cinta minta tolong!"
"Boleh, mau minta tolong apa?"
"Sebenar nya?"
"Iya"
Aksara sudah bersiap dengan perkataan sang istri.
"Tapi janji jangan marah?
"Tidak"
"Aku ingin byy membebaskan anak kembar kita!"
Dengan lirih Cinta berkata, sementara Aksara melengkungkan bibir nya membentuk sebuah senyum.
"Mau minta tolong apa?"
Aksara pura-pura tidak mendengar ucapan istri nya.
"Minta tolong buat bebasin anak-anak aku"
"Terus kalau berhasil apa imbalan nya, tidak berhasil juga harus ada imbalan nya kan sudah berusaha"
"Kan minta tolong"
"Iya kan dikerjakan dengan usaha"
"Memang byy mo imbalan apa dari Cinta?"
"Nanti byy pikirkan kalau sudah berhasil"
"Bener ya"
"Iya sayang"
Aksara mendekatkan wajah nya,elumat bibir mungil yang tak jauh daei jangkauan nya. Aksara melepaskan tautan bibir mereka, sementara kedua lengan Cinta masih memeluk leher suami nya.
"Ini DP nya dulu"
Aksara berkata sambil mengelus bibir yanga baru saja di sesap nya dengan lembut. Cinta tersipu malu dengan kelakuan absurd lelaki nya.
"Malu ya?"
Cinta hanya tersenyum sebentar.
Klek.
Melki membuka pintu setelah mengetuk dan dipercilahkan masuk. Melki dengan cepat mengepak semua pakaian lalu membawa nya ke mobil.
"Ayo kita pulang"
"Byy, berat"
"Kenapa memang, kan jarang-jarang bisa mengangkat mereka sekaligus mamah nya"
Cinta tersenyum, lagi bayi diperut nya ada yang menendang.
"Awwww.........."
"Kenapa? ada yang sakit"
Aksara hendak berbalik menuju ruang perawatan kembali.
"Tidak byy, mereka ada yang menendak"
"Ohh, kata nya kalau kita ngomong si kecil ini akan merespon dengan tendangan"
"Benar"
"Sudah tidak sabar untuk pulang ya tuan kecil, nanti kalau sampai di rumah bisa ketemu dengan oma sama opa ya"
Dan sekali lagi lagi perut Cinta ditendang.
"Mereka menendang lembali"
"Nanti papah elus ya kalau sudah sampai di rumah"
Cinta hanya tersenyum, bayi-bayi nya begitu aktif.
1 jam mereka sudah sampai Mension utama Alkatiri, bangunan megah yang sudah Cinta rindukan selama 2 bulan belakangan. Mension yang besar itu sudah di hias dengan indah, Cinta tersenyum melihat aneka warna bunga-bunga. Pohon pembatas bahkan di rangkai dengan pita berwarna warni, ada juga lilin aroma terapi meski masih senja ini.
"Indah sekali"
"Benarkah?"
"Iya, harum juga"
"Di dalam akan lebih indah lagi, ada beberapa kejutan juga untuk mu"
Sambil membimbing istri nya, Aksara terus tersenyum entah apa yang ada dibenak nya itu. Cinta sedikit mengerutkan kening nya merasa curiga dengan tingkah suami nya itu.
"Kenapa byy?"
Aksara kaget menarik diri dari lamunan nya.
"Oh...ahhh ha...ha"
Aksara menggaruk kepalanya yang tak gatal, rasa nya dia seperti ketahuan selingkuh saja.
"Kok malah ketawa"
"Tidak ada kok"
"Jangan bohong!"
"Tidak ada sayang, sama sekali tak ada apa pun"
"Benar kah?"
Cinta mencoba mendekati wajah suami nya, lelaki itu seketika wajah nya memerah karena mendapat serangan mendadak.
"Itu merah arti nya byy berbohong"
"Tidak ada loh sayang"
Cinta sedikit mempercepat jalan nya memasuki Mension kediaman Alkatiri, dia sangat rindu rumah terutama ranjang empuk dan aroma masakan nya.
BERSAMBUNG.