
Penyatuan kerja sama nyatanya hanya bualan Smith semata. Buktinya saat ini mereka bertengkar hanya karena perselisihan persetujuan kontrak itu.
"Bagaimana ini, aku sudah sangat terlambat sekali"
Ucap Cinta terburu menuju kearah menuju gerbang rumah termewah di komplek itu.
Cinta dengan tubuh basah kuyup karena menerjang hujan memasuki gerbang setelah mengeluarkan undangan makan malam bisnis itu.
Si satpam juga segera mempersilahkan Cinta masuk, tapi sepasang mata dari lantai 2 memperhatikan Cinta dengan geram nya.
"Dasar ******, tidak berpendidikan, bisa-bisa nya dia terlambat"
Gerutu Karenina.
Tak...tak.....tak.
Suara high hells nya menghentak lantai berlapis batu marmer yang di motif dengan indah.
"Apa benar ini rumah nya?"
Gumam Cinta dengan sangat hati hati.
Cinta mendengar beberapa orang berbicara, samar ada suara orang yang sangat dia kenali.
"Bagaimana tuan Alkatiri?"
Ucap Smith seolah menantang Aksara lantas tersenyum miring.
"Bos, kita tidak punya peluang lain"
Aksara terdiam membeku, memang nyatanya mereka membutuhkan dana dari saham yang Smith curi darinya.
"Menikahi Alie adalah final keputusan mu"
Ucap Smith mendekat.
Flashback on.
Smith sedang mengadakan pesta untuk perayaan keberhasilannya memenangkan seluruh saham milik Alkatiri.
"Ayo kita berpesta sampai kau merasakan ingin mati saja!"
Teriak Smith pada para tamu, tim kerja juga semua pengacaranya.
Drrttt.....ddrrttt.
Ponsel pintar nya berdering dengan dering khusus itu menandakan bahwa tuannya memanggil.
"Saya nona!"
"Aku memanggil mu kembali"
"Tapi nona saya sudah menang dan saya akan merayakan hal ini"
"Mau merayakan kematian mu atau kau mau melenyapkan rayap yang menggerogoti rumah mu"
Smith terdiam.
"Baik nona saya paham"
"Bagus kalau begitu"
Dengan segenap rasa dongkol Smith mendatangi sebuah rumah mewah itu. Smith sejenak bisa menghirup udara segar rumah yang berbentuk seperti villa.
"Bagaimana kau suka?"
"Nona, aku......"
"Aku juga suka, ini rumah milik mu, aku hanya minta kamu mengundang tuan Wicaksara untuk makan malam"
"Hanya itu mengapa?......."
"Aku ingin menonton drama yang menusuk hati"
Ucap Karenina sambil tersenyum licik.
'Wanita ****** satu ini pasti sudah gila, aku harus punya rencana agak aku tidak terjebak dalam permainan gila nya'
Monolog Smith dalam hati.
"Baiklah dengarkan aku!"
Karenina berbicara pada Smith tentang pengaturan strategi nya, menjebak Aksara dengan sebuah umpan.
"Bagaimana?"
"Bagus nona, tapi jika ada perubahan skenario bagaimana?"
"Di buku dan monitor itu akan berbicara!"
Tunjuk Karen pada sebuah kamera kecil yang mengawasi pergerakan mereka.
'Iblis apa yang lahir lantas menjelma menjadi wanita ini, sungguh kejam'
Pikir Smith, karena bagaimana pun Smith menghargai seorang wanita dan dia menjalankan bisnis meski dengan tipu daya tapi tidak menyakiti secara fisik lawan mainnya.
"Saya akan kerjakan nona"
Karen lantas naik ke lantai 3 yang sepi bak gudang namun rumah ini adalah markas nya. Selama ini kadang dia lah yang menggantikan Cath berlatih dengan mommy Diah ibu kandung Aksara. Tak jarang Karen juga memanipulasi agar Cath juga terpengaruh akan omongan nya. Hingga akhirnya dia harus mengorbankan Cath, karena tujuan besar nya harus sempurna dan hanya Cath satu-satu nya pengalihan itu.
Flashback off.
Kreett....brakk.
"Meski tidak sesuai namun si bodoh itu sudah masuk jaring ku, siapa suruh menyembunyikan umpan"
Ucap Karen begitu kejam.
Aksara menyipitkan matanya lantas sedetik kemudian tersenyum devil.
'DIA!'
Mata Aksara melotot tajam kearah Cinta, namun dengan perlahan Cinta melangkah mendekat.
"Oh anak Daddy sudah datang!"
Cinta yang di beri ucapan tersebut tersenyum di buat semanis mungkin.
"Dad"
"Cepat naik, dan gantilah baju mu nak"
Aksa memperhatikan gerak-gerik, gestur juga ucapan dari mulut Cinta. Ketika gadis OG di kantor Aksara bekerja hendak berlalu, dengan segera Aksara mencekal lengan gadis itu.
"Kita sepakat, kau bisa menjadi wakil ku, tapi dia jadi istri ku!"
Aksara setengah menoleh kearah Smith yang melorotkan mata nya.
Deg......
Jantung Cinta berdebar kencang, dia akan menikah dengan lelaki yang sama namun berbeda versi.
"Ma...maaf tuan, saya ti...tidak setuju"
Bibir Cinta bergetar, meringis menerima cekalan tangan besar Aksara.
"Tidak ada yang bisa menolak keinginan ku, bukan kah begitu tuan Smith"
"Benar nak, tuan Aksara tidak setuju menikahi kakak perempuan angkat mu, karena dia adalah istri muda Daddy"
Smith sambil nyengir menjelaskan.
"Besok datang lah ke kantor Smith, kita bahas kerja sama kita lagi"
Sambil menyerahkan amplop merah yang telah Aksara tanda tangani. Aksara segera menyeret Cinta untuk berjalan bersama nya menuju keluar untuk dia bawa pulang.
"Bisnis yang menguntungkan"
Ucap Smith.
Smith begitu bahagia dia tersenyum senang sambil merangkul pinggang ramping milik Alie.
"Dasar kau bodoh, kenap kau memanggil nya anak!"
Karen turun dari lantai 3 bergegas menyambangi Smith bersama gundik nya.
"Lantas aku harus berkata apa?"
"Kau bisa katakan dia selingkuhan mu!"
"Sudah lah, dari pada mengambil alih Alie ku ini"
Nathalie tersenyum senang.
"Tapi dia senjata ku, dia sepupu ku sendiri, kau bodoh, kau idiot"
Karen menendang beberapa guci mahal lantas menatap Smith dengan tajam. Karen kembali ke markas nya di lantai 3.
"Iblis itu tidak pernah puas rupanya"
Smith mengetahui jika Karen tidak punya sepupu apa lagi perempuan karena Aryandy hanya seorang lelaki anak tunggal yang mewarisi beberapa properti mahal. Istri Aryandy sering bolak balik rumah sakit, dan di luar negeri rumah sakit yang pernah istri Aryandy tempati itu milik Smith. Sayang nya detektif yang Smith sewa mati terbunuh bersama dengan kematian Cath jadi tidak ada lagi informasi mengenai Karenina Aryandy ini.
"Ayo masuk!"
Aksara membawa paksa Cinta memasukannya ke mobil dengan tergesa.
"Ke Utara kota"
"Baik tuan"
Melki menyetir sedikit mengebut, sementara Aksara hanya diam saja melihat pakaian basah yang semakin dingin melilit tubuh Cinta. Aksara segera mendial nomor seseorang.
"Din....cari kan penghulu"
"Untuk apa bos?"
"Lakukan saja jangan banyak tanya, antar ke rumah utara"
"Baik bos"
1 jam perjalanan mereka sampai di perkomplekan umum yang cukup sederhana.
"Kita sudah sampai bos"
"Ayo turun"
Cinta turun kakinya hampir mati karena beku, sangat dingin dan lagi yang membawanya sangat kejam.
"Ayo masuk"
Sementara Melki menunggu di luar dan beberapa orang yang menjaga rumah itu.
BERSAMBUNG.