
Setelah beristirahat Min segera memakai baju nya, dia sangat lelah. Kesana kemari mungkin tubuh nya lebih lelah karena janin nya itu.
"Mau ku antar?"
Min menggelengkan kepala nya, dia tidak ingin sandiwara yang disusun dengan susah payah akan hancur berantakan.
Min segera menghentikan taksi untuk segera pulang ke villa, seandainya benar dia membunuh anak yang masih janin ini betapa hancur nya jiwa Min.
'Bertahan lah, kita nanti akan selalu bersama selama nya tidak ada duka yang ada hanya cinta yang melimpah'
Gumam Min dalam hati sambil mengelus perut rata nya.
Min sampai di depan villa, belum terlalu malam bahkan jam makan malam pun belum tiba. Min mengayunkan langkah pelan, cukup sepi.
"Sudah pulang?"
Min menengok kearah ruang keluarga, tuan suami nya itu sedang menonton acara kesukaan nya. Begitu senggang waktu yang dimiliki suami nya.
Min hanya mengangguk lantas mengayunkan kaki masuk ke kamar utama lantai bawah.
GRREPP....
"Kenapa?"
Sehalus mungkin Min berbicara. Lelaki matang dihadapan nya itu tersenyum lantas memeluk diri nya.
"Kau harum sekali, aku suka bau mu"
Min terdiam ketika Rei memeluk nya.
'Apakah kau masih akan berbicara demikian om, kau menyuruh ku berpisah dengan anak ku'
Min hampir mengeluarkan air mata nya.
Rei melepaskan pelukan nya, Rei melihat jelas mata Min memerah. Dia tahu meski bukan anak nya yang Min kandung namun wanita muda ini hampir menjadi seorang ibu.
"Pergi lah mandi, setelah itu kita makan malam"
Ucap Rei mengusap lembut rambut Min.
Namun sedikit pun hati sudah tidak tergetar, lelaki yang hanya mencintai tubuh nya itu untuk apa harus ia pertahankan.
Rei tersenyum manis menunggu hingga 2 jam lama nya di meja makan.
"James"
"Iya tuan"
"Hangatkan kembali makanan nya, aku akan melihat nyonya kedalam"
"Baik, tuan"
Rei segera bergegas menuju kamar utama lantai bawah ini, dia perlahan membuka kamar yang gelap bahkan tanpa lampu tidur sekali pun. Rei mendekat kearah ranjang setelah membuka lampu kamar yang istri nya tempati.
Wanita muda itu meringkuk dengan AC menyala juga jendela yang tak tertutup. Bahkan bukan nya mandi, baju yang di gunakan pun masih seperti tadi siang.
Rei mendekat perlahan menyibak rambut panjang yang menutupi wajah cantik istri nya itu. Wajah yang pucat bahkan kulit yang amat sangat halus, bibir yang pink merona sangat mungil bila Rei gigit.
'Begitu lelah kah? apa kau menderita berpisah dengan nya?'
Gumam Rei dalam hati, seraya melihat perut rata itu.
'Apa kau lebih mencintai dia ketimbang aku?'
Lirih Rei, sambil mengusap jejak air mata yang masih terasa basah itu. Tak dapat dipungkiri jika istri nya kelelahan dan tertidur karena menangis.
Ada sedikit rasa bersalah yang menyelubungi Rei.
'Maaf jik aku membuat mu kembali harus menentukan pilihan'
Rei mengecup singkat kening istri nya, rasa cinta nya semakin dalam untuk sang istri. Rei bergegas keluar untuk menyaksikan acara televisi yang disukai nya hingga entah kapan pria itu tertidur setelah menyantap makan malam nya yang terhitung terlambat.
Min kembali membuka mata nya, dia segera mandi. Dia juga tahu jika Rei tiga puluh menit lalu mengunjungi nya. Min segera membereskan koper nya, dia sudah memesan taksi juga tiket untuk terbang ke negara lain.
'Tidak ada yang tersisa untuk ku disini, kita akan memulai hidup yang baru'
Ucap Min mengelus perut nya.
'Kita akan ucapkan selamat tinggal pada papah mu, nak'
Lirih Min dalam hati.
Min sengaja keluar memakai piyama, takut tuan rumah belum masuk ke kamar nya. Benar saja televisi ruang keluarga masih menyala, namun lelaki itu nampak terlelap.
Min mengambil air ke dapur karena haus, dia juga sekalian membawa selimut dari kamar tamu untuk sang tuan rumah. Dan ketika Min hendak berbalik.
Tangan mungil nya dicekal oleh tangan besar milik Rei.
"Sudah bangun?"
Min mengangguk, Rei tersenyum lalu bangkit memeluk istri nya.
'Aku harus membuat nya melupakan anak itu, aku akan menggantikan nya dengan anak kita'
Ucap Rei, dengan segera menggendong istri nya ke kamar yang dulu mereka tempati.
"Om....."
Min hendak protes, namun dengan sekejap mulut nya di bungkam dengan mulut Rei. Rei mencium istri nya dengan intens menimbulkan perasaan hangat yang membuat nya terbuai.
"Aku mencintai mu"
Rei mengucapkan kata cinta untuk pertama kali nya, mungkin Min sebelum disuruh Rei menggugurkan kandungan nya pasti akan bersorak senang. Namun saat ini ucapan itu tak pernah berarti lagi, yang ada hanya ingin meninggalkan lelaki itu, tanpa ada beban atau perasaan apa pun.
Disisi lain Rei begitu menikmati penyatuan mereka berkali-kali, Min juga hanya membiarkan lelaki itu lupa dengan kesenangan nya saat ini, anggap saja itu hadiah terakhir dan perintah terakhir dari nya.
Hampir menjelang pagi, Rei baru menyudahi kegiatan panas nya. Dia juga mengelus perut Min yang masih rata, Min secara tak sengaja menitikkan air mata nya.
"Om lelahkah?"
"Iya sayang, kanapa, masih ingin kah?"
"Tidak, Minum lah dulu"
"Baik lah"
Rei menerima minuman itu dengan tanpa curiga sedikit pun.
"Ayo kita istirahat"
"Iya"
Rei memeluk istri nya itu, dia seolah barang yang mudah pecah. Min ingin menunggu satu jam namun dia sudah tidak tahan, dia segera mengambil pena dan kertas menulis surat untuk lelaki yang terkapar itu.
"Aku harus segera ke kamar"
Min menyelinapkan barang nya lewat pintu belakang villa, dia segera mandi dengan bersih dan memakai pakaian seadanya yang sudah dia siapkan.
Min kembali masuk ke kamar Rei menaruh satu surat lagi. Lantas ke lantai bawah menemui para pelayan.
"Kalian berkumpul lah, hari ini jangan ganggu aku dan tuan, jangan bangunkan dia, aku mau pergi ke mal dulu membeli sesuatu ya"
Ucapnya dengan lantang.
"Baik nyonya"
Setelah Min sarapan, lantas dia membawa barang-barang nya.
"Nyonya itu apa?"
"Ini barang yang saya mau sumbangkan ke panti asuhan, jadi saya pulang agak sore"
"Baik nyonya"
Min segera keluar dari gerbang villa, tak lupa membawa barang yang dia selipkan di samping villa. Min lantas bergegas pergi ke bandara karena penerbangan masih 3 jam lagi.
"Selamat tinggal semua nya"
Min baru saja sampai di bandara, Aryos datang ke villa.
"Tuan sudah bangun?"
"Maaf tuan, nyonya bilang tuan hari ini tidak bisa diganggu karena sedang istirahat"
"Dimana nyonya mu James?"
"Nyonya ke mal membeli barang pribadi nya tuan"
"Apa!"
Aryos sedikit curiga, lantas menelpon ke ponsel pribadi milik Rei. Aryos menelpon berkali-kali bahkan ragu untuk masuk ke kamar tuan nya.
"Sudah berapa jam nyonya mu pergi?"
"Sudah dua jam, tuan Aryos"
Aryos berpikir biasanya nyonya muda nya itu tidak pernah mendapatkan ijin dengan bebas, kalau tidak pergi dengan tuan nya sendiri. Ada sedikit keraguan juga, namun Aryos tak berani untuk menerka nya.
BERSAMBUNG.