TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.156


"Bagaimana?"


"Misi end tuan muda"


Rei tersenyum lantas menganggukkan kepala nya.


"Bagus, bonus untuk kalian bulan ini"


Aryos tersenyum senang, namun berbeda dengan Ravenda yang hanya melamun.


"Apa kau yakin dengan tujuan mu tuan muda?"


Rave berkata setelah Aryos berlalu dari ruang kantor milik tuan muda nya.


"Tentu kenapa memang nya?"


"Tidak ada, saya pamit undur diri"


Rei mengangguk.


'Semoga tidak ada kesalahan sampai akhir rencana mu'


Ucap Ravenda dalam hati.


Hari ini seperti kesepakatan tuan besar Irsandy mereka segera mendatangi rumah mamah Laula mamah dari Min.


"Bu Laula, cepat buka pintu nya!"


Teriakan keras membuat atensi seluruh tetangga tertuju pada mereka.


"Sebentar"


Mamah Laula yang sedang sibuk memasak di dapur kini harus menyambut tamu tak di undang nya itu.


Klek.


Mamah Laula sejenak membulatkan mata nya, lalu mempersilahkan tamu nya untuk masuk.


"Tidak perlu, masa hutang mu telah tertunda waktu yang lama, cepat bayar hutang mu"


Ucap salah seorang ajudan dari tuan tanah itu.


"Loh pak, bukan nya kalian setuju untuk memberi tenggang waktu sampai bulan depan"


Ucap mamah Laula dengan lembut.


"Bos kami tidak bersedia memberi tambahan waktu sebaik nya kau segera melunasi nya"


"Tapi........"


BUUKK......


Salah seorang diantara nya mendorong mamah Laula hingga membentur pintu. Bagaimana pun mamah Laula hanya wanita tua yang lemah hingga punggung nya terasa sakit.


"Ada apa ini!"


Min berlari dengan segera ketika pengawal tuan besar Irsandy mendorong sang mamah.


"Apa yang kalian lakukan?"


Dengan sorot mata yang tajam Min memandang mereka.


"Hei nona, kau tidak berhak bertanya pada kami tapi tanya ibu mu"


Merek segera pergi ke luar rumah dari mamah Laula.


"Sudah, jangan dikejar"


"Memang nya mereka siapa mah?"


"Mereka hanya tamu mamah"


"Begitu kah? mamah selalu saja menutupi hal-hal serius dari Min"


"Tidak sayang"


"Jangan berbohong lagi mah"


Sang mamah hanya diam sambil di papah ke dalam oleh Min, lalu duduk di kursi ruang tamu mereka.


"Mah"


"Mamah sudah katakan mereka hanya tamu mamah, kamu sudah bekerja jadi harus fokus jangan pikirkan tentang mamah ini"


Mamah Laula mengelus Surai panjang putri nya.


"Mah, Min sudah besar loh"


"Baik mah, hati-hati di rumah ya"


Sang mamah mengangguk, melihat putri tunggal nya itu bergegas menghilang di jalan. Mamah Laula segera pergi ke suatu tempat segera.


Min sampai di perusahaan tempat dia bekerja.


"Pagi cantik"


Di lobi perusahaan Boy mencoba menyapa gadis pujaan nya.


"Pagi juga pak"


Boy mengerutkan kening nya mendengar jawaban gadis itu.


'Gadis ini benar-benar harus ku beri pelajaran!'


Gumam Boy dalam hati.


Boy tersenyum devil sambil melihat gadis itu memasuki kantor.


Rei memperhatikan tingkah lelaki buaya yang ada di depan nya.


SREETTT....


Rei menyenggol salah satu bahu rival cinta nya itu, membuat lelaki itu sedikit oleng.


"Hei.....!"


Rei menengok ke belakang.


"Ada apa?"


"Oh pak Rei, tidak ada pak"


Boy membungkuk sambil menjawab pertanyaan Rei.


Rei kembali berjalan menuju ruang kantor nya, lift yang akan tertutup segera di tahan oleh sepatu mengkilap nya.


Semua karyawan kantor menunduk setelah menyapa pimpinan kantor mereka, nampak hening mereka pun keluar satu demi satu hingga Min akan keluar.


GREEPP.....


Rei menahan tangan perempuan secantik porselen itu.


"Maaf pak saya harus keluar"


Lift segera tertutup kembali menuju lantai paling atas atau rooftop.


Klik.


Rei mengunci pintu rooftop itu, dia mendekat pada gadis cantik yang di tarik tadi.


"Apa maksud bapak membawa saya ke lantai ini?"


"Kau mau tahu jika tadi pagi ibu mu di tagih rentenir?"


Mata Min membola.


"Rentenir?"


"Benar"


"Apa alasan nya pak?"


"Tanya pada ibu mu, aku hanya mengetahui itu saja"


"Jadi hanya untuk ini bapak membawa ku ke lantai atas ini?"


"Bukan"


"Lalu?"


"Tentu saja imbalan nya belum?"


"Imbalan?"


"Bukan kah aku sudah memberi mu informasi yang sangat penting yang ingin kau ketahui?"


"Imbalan apa?"


Dengan segera Rei mengungkung gadis cantik itu, memaksakan bibir mereka menyatu. Meski Min memberontak tetap saja tidak akan bisa.


Rei melepaskan pagutan bibir mereka setelah nya dia bergegas turun. Min masih mengatur nafas di lantai atas setelah sadar lelaki itu pergi dia pun bergegas pergi.


BERSAMBUNG.