TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.268


Andra tahu ini malam Minggu tapi dia mau di ajak Sisi keluar, mungkin dia juga jenuh.


"Kita makan malam dulu ya, di restoran kemarin mau tidak?"


Ungkap Sisi.


"Baik"


Jawab Andra datar.


Sisi sangat senang jika dia sudah bisa merebut hati Andra. Dia tidak menyesal meninggalkan kekasih nya yang masih berusaha buat sukses.


Berkendara di malam Minggu memang sangat ribet harus lamban karena banyak muda-mudi juga yang berkeliaran. Sampai 1 jam baru sampai di restoran itu.


"Sudah sampai tuan, nona"


Mereka turun dari mobil, Andra segera duduk di kursi roda nya. Sementara Roy sudah reservasi di restoran itu nampak akan penuh karena mereka terlambat.


"Tuan saya di luar saja ya"


Andra mengangguk, mereka segera memesan makanan. Pesanan datang cukup lama memang karena banyak nya pengunjung yang makan disana. Namun semua tamu terlayani dengan baik, konsep restoran itu sangat bagus karena mengusung kepuasan konsumen.


Tak berapa lama ada pelayan restoran yang membawa troli makanan mendorong kearah mereka. Awal nya Andra tak jelas melihat gadis itu, namun dari parfum dan siluet nya saja Andra sangat kenal.


Hingga gadis itu mendongak, benar saja itu gadis remaja yang beberapa Minggu kalau mengejar nya. Andra menanti gadis itu memandang nya dan gotcha mereka akhir nya saling pandang.


Andra menatap gadis itu, sedangkan gadis yang dia tatap terlihat kaget, menunduk lantas berubah ekspresi menjadi ramah dan penuh senyum untuk para pengunjung.


Setelah menghidangkan menu yang Andra dan Sisi pesan gadis itu sejenak masuk ke dapur agak lama lalu ke luar lagi kembali melayani para pengunjung restoran.


"Kok melamun?"


"Ah tidak, aku sedang menunggu dessert nya kata nya kalau malam Minggu lebih spesial"


"Oh ya"


Andra mengangguk, Sisi selalu tersenyum manis namun entah mengapa Andra tidak suka senyum itu.


Dessert mereka datang, tamu semakin banyak. Meski Rindi melewati meja Andra namun gadis itu tak pernah sekali pun memandang nya.


'Apa dia tahu jika Minggu lalu aku makan disini dengan Sisi? jadi dia berubah?'


Gumam Andra.


"Lihatin apa sih?"


Andra menggelengkan kepala nya.


"Oh keluarga itu ya?"


Sisi mengira Andra memandang kearah keluarga Cemara yang ada di pojok itu. Bukan memperhatikan pelayan yang melayani mereka.


'Nampak nya lelaki cacat ini menyukai keluarga yang bahagia'


Ucap Sisi dalam hati.


"Apa kamu mau berencana berkeluarga seperti mereka?"


"Iya"


Andra menjawab nya tanpa dia dengar pertanyaan Sisi, sementara Rindi mendengar nya dengan jelas.


"Aku bersedia menjadi pendamping mu"


"Iya"


Rindi memejamkan mata nya, lantas berlalu begitu saja.


"Yes, akhir nya, baiklah kalau begitu aku akan berbicara dengan Tante Elian"


"Oh oke, tak usah meminta ijin pada ku"


Kali ini Andra mendengar ucapan dari Sisi, entah apa yang mau di bicarakan gadis itu.


Setelah lebih dari 45 menit makan di restoran mewah itu, Andra dan Sisi segera bergegas untuk menonton film kesukaan mereka atau lebih tepat nya kesukaan Sisi.


"Wah cepat habis ya film nya"


"Kan memang waktu nya segitu, mau pulang atau jalan lagi"


"Pulang saja, cape kaya nya"


"Ayo aku antar"


Roy sudah siap dengan mobil nya, mereka segera menuju komplek tempat tinggal Sisi.


"Aku tidak mampir ya"


"Loh kenapa?"


"Sudah malam sekali"


"Baik lah, sampai jumpa"


Andra melambaikan tangan nya begitu pun dengan kedua orang tua Sisi.


"Hebat kamu buang si miskin dapat jutawan"


"Apaan sih mamah"


"Iya sih pah, bagaimana perkembangan mu dengan anak tunggal Rei?"


"Maksud mamah Andra?"


"Ya siapa lagi"


"Tadi di restoran dia udah janji mau menikahi aku mah"


"Hah! benarkah?"


Sisi mengangguk semangat, dia sangat bahagia beserta orang tua nya mereka malam-malam bersorak.


"Kita mau kemana tuan?"


"Ke restoran itu"


Roy melakukan kecepatan nya dengan cepat.


Rindi baru saja selesai membereskan restoran itu bersama dengan para karyawan restoran.


"Wah malam ini sungguh sangat melelahkan ya"


Sahut mereka karena memang pelanggan sangat padat di malam Minggu ini. Tidak seperti biasa nya meskipun padat namun masih bisa di jangkau.


"Ini mungkin karena non Rindi"


Ujar salah satu nya.


"Tentu saja tidak"


Ujar Rindi, semua karena restoran ini sangat enak dan ramah meskipun restoran bintang lima.


"Ya sudah ayo kita semua beberes dan pulang"


Waktu sudah pukul sepuluh malam, restoran bukan restoran 24 jam jadi mereka harus pulang.


Rindi segera mengganti pakaian nya, dia sudah bersiap untuk pulang.


"Non kami pulang duluan ya"


Mereka rata-rata nebeng ke temen nya yang membawa kendaraan, Rindi hanya mengangguk dengan senyuman manis nya.


Rindi berjalan sedikit ke depan, dia hendak menunggu bus terakhir. Di duduk di halte bus itu, pikiran nya menerawang ke kejadian tadi sore, melihat wanita yang sama yang Minggu lalu bersama Andra.


'Jadi adalah pacar nya, wanita impian yang dia idamkan'


Gumam Rindi.


'Mungkin aku datang saat waktu yang tidak tepat, apa lah aku, aku hanya seorang gadis yang tak mampu apa pun'


Lanjut nya, Rindi menutup wajah nya, dia mengusap wajah nya yang lelah.


'Jangan sedih, tidak ada guna nya sedih, semangat kesedihan adalah teman terbaik mu'


Rintih nya.


Tak jauh dari halte, sebuah mobil terparkir di dalam mobil itu seseorang sedang memperhatikan seorang gadis yang sendirian itu.


"Antar dia pulang!"


"Baik"


Roy melaju perlahan dan menghentikan mobil nya.


"Non Rindi, ayo pulang"


Rindi mendongak, lantas menggelengkan kepala nya.


"Non in hujan, tidak ada bus yang lewat lagi, taksi juga sudah jarang, mari non"


Rindi terdiam, akhir nya dia melangkah masuk ke dalam mobil milik Andra. Andra memberikan selimut pada Rindi, dan mengenakan nya, hujan semakin deras.


"Roy kita berhenti di rest area saja"


"Tapi penuh tuan"


"Tak apa kita di mobil saja"


"Baik lah"


Mereka di mobil sementara Roy turun dari mobil, nampak canggung hanya berdua dengan Andra.


"Apa kita bisa bicara?"


"Apa yang perlu dibicarakan, tidur lah, aku ngantuk sekali"


Andra meluruskan semua kursi nya, lalu dia ambil bantal, Andra memejamkan mata nya. Rindi memperhatikan wajah Andra, jelas lelaki itu sangat tampan tak terlihat sudah berumur namun layak nya mereka seumuran.


Entah tepat nya kapan mata Rindi sudah berpejam, hari sudah pagi, mata Rindi mulai terbuka masih pagi tapi sangat hangat sekali.


"Hemm........."


Rindi melenguh karena sangat nyaman, Rindi mengelus guling yang alot. Guling biasa nya empuk ini kasar sekali. Rindi membuka mata nya perlahan.


"Ahhh......!"


BERSAMBUNG.