TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.257


Selama ini Andra tidak pernah pulang ke rumah Daddy nya bukan karena anak adopsi dari ibu tiri nya yang tidak sopan tapi karena Daddy nya tidak pernah menemukan nya selama 5 tahun. Tapi Andra tidak menyangka jika kasus nya sampai sangat membuat Andra bisu dan lumpuh.


"Tuan"


"Siapkan pesawat untuk besok kita kembali ke negara Z"


"Baik"


Andra melihat Daddy nya tidur pulas, dia menyempatkan mengecup kening sang mommy lantas keluar dari ruang rawat mommy nya.


Rei tahu jika putra nya berkunjung atau anak itu lebih tepat nya menguping pembicaraan intim antara Rei dan istri nya Jasmin.


'Anak ini tidak pernah melihat orang tua nya senang!'


Gumam Rei dalam hati.


Rei terkejut ketika Andra mengelus tangan nya.


"Dad, maaf selama ini Andra tidak mau mendengar perkataan Daddy, karena menurut Andra Daddy lebih baik tidak memilih diantara anak adopsi atau anak kandung"


Seusai mengucapkan hal yang demikian Andra langsung keluar dengan kursi roda nya.


"Kau satu-satu nya anggota keluarga Alkatiri yang pecut!"


Andra berhenti lantas menengok ke belakang, dia tidak tahu lelaki tua itu sudah bangun.


"Tidak tahu tempat mengucapkan maaf, Daddy itu sedang tidur dengan mommy mu, dasar pengganggu busuk"


Andra melihat sekilas lantas dia pergi begitu saja.


"Hei! mana mau kemana kau?"


"Pulang"


"Ini masih hari ulang tahun mommy mu!"


"Andra ada urusan"


"Seenak nya saja datang dan pergi, apa tidak ada waktu untuk berbicara saja"


Andra mendengar nya, dia berlalu menuju bandara untuk kembali ke negara Z. Andra mengudara cukup lama, dia baru tiba di negara Z hampir malam hari.


"Apa ada kabar?"


"Tidak ada, tuan"


"Bagaimana dengan gadis itu?"


"Dia tidak keluar rumah 2 hari ini"


Andra berpikir sebentar rasa nya ada yang aneh dengan itu.


"Nanti kita bahas, selidiki Kematian kak Alesa 25 tahun lalu"


"Baik tuan"


Semenjak Rindi di kurung, gadis itu hanya diam, dia di kurung dalam gudang yang gelap. Untung box dari Andra dibawakan pelayan ke gudang itu. Rindi memakan makanan nya, sedangkan kue kering atau buah belum dia makan. Minimal bisa mengganjal perut nya untuk 3 hari. Setiap hari Rindi hari menerima 5 pukulan tongkat di punggung nya. dia tidak berteriak sama sekali atau pun menangis di malam hari. Afar sempat mengunjungi gudang, dibalik pintu Afar tidak mendengar suara apa pun.


"Apa gadis itu di pukul setiap hari?"


Ucap nya pada salah seorang pelayan yang menjaga putri bungsu nya itu.


"Benar tuan"


"Apa dia kesakitan?"


"Iya tuan, tapi nona tidak menangis atau pun mengeluh, dia hanya diam saja"


Afar terdiam, tidak seperti biasa nya gadis itu akan berteriak, menangis, bahkan memohon menyebut nama nya.


"Sudah berapa hari?"


"Hari ini hari yang ketiga, besok nona keluar dari gudang tuan"


"Iya, antar dia ke kamar nya malam ini"


"Baik, tuan"


Afar nampak diam, apakah gadis bungsu nya sudah dewasa. Dia tidak lagi menangis seperti tiga tahun lalu saat di kurung dia ketakutan, menangis dan selalu menyebut nama nya.


Malam hari nya pintu gudang terbuka dan seorang pelayan datang.


"Nona keluarlah, tuan sudah mengijinkan anda untuk kembali ke kamar"


"Baik"


Rindi berjalan dengan membawa box merah itu, dia tidak terlihat lesu, kesakitan atau pun menderita. Di tangga Rindi berpapasan dengan sang papah.


"Selamat malam pah!"


Afar melihat putri bungsu nya berjalan dengan anggun, dia terdiam melihat anak itu seperti wanita yang dia cintai begitu lemah lembut namun dia seorang pendendam.


"Sudah keluar?"


"Indy mau mandi dulu pah, sampai jumpa"


Benar tebakan Afar gadis nya sudah tidak butuh diri nya lagi, dia berubah hanya dalam hitungan detik.


Meski sudah malam namun Rindi nekat menghubungi Andra selesai dia mandi dan bebersih.


Sering ponsel itu langsung di jawab oleh pemilik nya di seberang.


"Aku rindu"


"Lalu?"


"Besok aku mulai mengejar mu"


Andra sedikit geli diseberang sana, gadis kecil ini kemungkinan tidak pernah pacaran.


"Diam berarti setuju ya, aku akan datang ke kantor besok"


"Baik lah"


"Selamat malam tuan tampan"


"Selamat malam"


Terdengar suara melompat dan jeritan kecil, bisa Andra tebak jika gadis itu sedang bangga karena bisa menggoda nya.


"Jadi besok siap di kejar nih tuan"


"Dia hanya gadis kecil"


"Oh ya"


"Sudah lah dia juga tidak akan macam-macam"


Andra segera menyuruh Roy untuk pulang ke rumah nya atau lebih tepat nya rumah yang dulu pernah Min tinggali dengan Rei.


Disana Andra merasakan kehadiran sang mommy, dari taman hingga semua ruangan Mommy nya yang mendesign.


Rindi sudah bangun pagi, dia mandi lalu turun ke bawah dengan pakaian sport untuk jogging.


"Mau kemana?"


"Jogging pah"


Sang papah yang sedang di teras depan meminum kopi pagi nya melihat gadis itu sudah dewasa rupa nya.


Afar sudah pergi mandi, dia akan bersiap untuk bekerja, sementara Melina sedang memasak di dapur dengan para pelayan mereka.


Rindi datang ke dapur, dia meneguk susu untuk membentuk otot untuk para wanita muda.


"Kaya nya jorok banget ya"


Mereka melihat kearah Rindi.


"Kamu ini habis jogging langsung berkomentar, bukan nya mandi badan kamu bau keringat"


Rindi tidak menjawab dia segera naik ke lantai atas untuk mandi.


"Mana semua orang?"


"Mamah sudah memanggil Lisa dan Arin"


Lisa datang dari kamar nya dengan piyama kucel nya, hari sudah jam 9 pagi.


"Lisa kau tidak ingin ke kantor?"


"Males pah"


Lisa tidak mendapatkan nutrisi dari Bayu semalam. Rindi baru turun dari lantai atas untuk sarapan.


"Wow, sinderela baru turun juga"


Rindi hanya melirik saja tanpa menggubris, jika biasa nya dia akan berteriak membuat seisi rumah gaduh.


Afar melirik kedua putri nya kini Lisa yang nampak kesal, sementara Rindi menyuap roti bakar nya dengan tenang dan elegan.


"Papah kerja dulu ya"


"Dah pah"


Ucap Lisa.


"Hati-hati pah"


Ucap Rindi.


Afar tersenyum dia mengecup istri nya dan menyalin kedua anak nya. Afar berangkat ke kantor karena pagi ini ada meeting penting.


Rindi tersenyum sendiri, dia sudah menyusun pengejaran cinta nya untuk jadwal hari ini. Dia akan mengeksekusi baju-baju lawas nya dulu. lantas memilih baju yang enak dipakai dan pantas ke kantor Andra.


"Kau gila ya, senyum-senyum sendiri jijik tahu"


"Kenapa senyum harus jijik, yang jijik itu melacur"


Lisa hendak menarik rambut Rindi seperti biasa nya namun kali ini adik bungsu nya itu menghindar.


"Gak kena....gak kena!"


Rindi naik ke lantai atas, sementara Lisa sangat kesal.


BERSAMBUNG.