
Afar datang ke kantor agak siangan karena semalam dia telah menghadiri perjamuan keluarga Braja.
"Lelah sekali?"
"Selamat pagi pak"
"Kenapa kau sudah disini?"
Salah seorang asisten Afar sudah datang menghampiri bos nya.
"Ada tamu untuk anda, pak"
Afar menengok, tatapan nya jelas tersirat kebingungan.
"Bos Braja, pak!"
"Oh, oke..oke terimakasih ya"
Dengan senyum yang tersurat manis, Afar menemui calon besan nya.
"Wah pak besan maaf saya baru datang"
Senyum lebar Afar suguhkan, namun aneh nya lawan bicara nya hanya melihat dengan acuh tak acuh.
"Ada apa?"
"Ada apa kau bilang!"
Afar kaget karena Indra berbicara dengan sedikit membentak.
"Tanyakan pada putri kedua mu itu, apa yang dia lakukan pada anak ku, putri bar-bar kau patok dengan harga seratus juta mana ada!"
AFA kaget, dia masih bingung dengan perkataan Indra.
"Tunggu apa maksud mu?"
"Dia melarikan diri semalam, anak ku hanya mau mengenalkan nya pada teman-teman nya semalam tapi nyata nya dia kabur"
"Apa!"
Afar kaget, dikira anak bungsu nya masih bersama dengan Bayu nyata nya kabur, dia berpikir dengan cermat selama ini anak bungsu nya selalu menurut.
"Didik anak mu agar tidak melempari muka mu dengan kotoran"
Begitu sakit hati Afar diberi perkataan tersebut oleh Indra Braja. Dia hanya diam sesaat, mungkin ini kesalahan nya juga karena gadis itu masih sangat muda jadi wajar. Afar segera melakukan meeting untuk tender yang dia dapatkan untuk segera dituntaskan.
Lisa dengan geram keluar dari perusahaan yang Andra pimpin itu, dia bergegas ke lantai paling bawah untuk mengambil mobil nya di basemen.
"Sial!"
Teriak Lisa karena rencana nya gagal hari ini.
"Hanya menghadapi si cacat saja aku tidak bisa menaklukan nya, apa hati nya cacat juga?"
Untung nya Lisa menutup jendela mobil nya, kalau tidak pasti akan ketahuan satpam dia mengumpati bos tertinggi perusahaan ini.
"Oh, aku kesal sekali!"
Dia segera melajukan mobil nya secara ugal-ugalan dan mengebut, beberapa pengemudi lain bahkan sampai meneriaki nya.
Lisa sampai di perusahaan papah nya, dia masuk ke ruangan nya.
Tok...tok....tok.
"Masuk!"
"Bagaimana hasil nya?"
Lisa terdiam ketika sang papah mendekat dan menanyakan hasil kerjasama mereka.
"Lisa tidak berhasil pah?"
"Kok bisa?"
"Ya mana Lisa tahu, kali papah tanya Lisa, Lisa harus tanya siapa?"
"Kamu jabarkan perencanaan kita, keuntungan juga ada setelah kerjasama terjalin"
"Sudah lah, Lisa kesal pokok nya, Lisa mau pulang dulu"
Lisa pulang ke rumah untuk sekedar tidur siang karena rencana nya nanti malam dia akan clubbing.
"Mah, tumben gak arisan?"
"Mamah kesel"
"Kesel kenapa emang?"
Lisa membuka kulkas mengambil jus jambu nya, lalu menenggak nya tanpa duduk.
"Mamah tidak punya perhiasan baru yang bisa di pamerkan"
"Papah tidak kasih bulanan ke mamah?"
Sang mamah tak menjawab hanya cemberut saja.
"Lisa naik ke kamar dulu, mah"
Lisa pergi ke kamar di paling ujung rumah, karena pada pembantu ada rumah singgah yang kecil di sebelah rumah mereka.
Roy hanya tersenyum kecut, melihat tingkah Lisa, wanita itu seperti ****** saja.
"Ada apa?"
Novan melihat nona Lisa dari perusahaan keluarga Mukti itu pergi begitu saja, pada hal belum ada berkas kesepakatan kerja sama yang dia terima.
"Buat apa bekerja sama dengan seorang wanita pelacur itu"
Novan mengerutkan kening nya, dia memang kenal dengan Lisa saat dulu kuliah di Inggris mengambil gelar magister nya.
"Sayang sekali ya kesempatan bagus disia-siakan"
"Ya begitu lah wanita tidak ada harga nya sama sekali"
"Kalian sedang apa?"
Mereka berdua kaget melihat Rindi muncul tiba-tiba di samping mereka.
"Nona Rindi, bikin kaget saja"
"Nampak nya kalian senggang sekali ya?"
"Tentu saja kami asisten bos yang elit"
Ucap Novan bangga.
Tak.......
Jitakan maut Roy mendarat di kepala Novan.
"Sakit lah bos"
"Untuk apa?"
Kedua nya serempak menjawab nya.
"Aku membuat makan siang istimewa"
Mereka saling lihat, lalu Rindi menyeret mereka berdua.
Satu jam kemudian Andra selesai mandi, dia keluar dengan rambut basah. Rindi tersenyum, Andra melihat gadis cantik itu meski kakak nya membuat dia kesal namun dia tidak membenci gadis itu sebagai adik nya.
Disana sudah berkumpul tiga asisten nya dan seorang gadis belia. Rindi tersenyum lalu sengaja mengagetkan ketiga nya.
"Kenapa kalian berkumpul disini?"
Mereka saling lirik dan menunjuk pada Rindi.
"Ada apa?"
"Sini aku keringkan dulu rambut mu?"
Rindi membimbing Andra pergi ke tempat pengering rambut lantas mengeringkan rambut milik Andra.
"Mereka seperti suami istri!"
TAK.....
Sekarang bukan hanya Roy bahkan Anita menjitak kepala Novan.
"Kenapa kalian menjitak kepala ku! sakit sekali tahu!"
Suara Novan seperti toa pedagang sayur keliling.
"Ada apa? kenapa kalian ribut?"
Andra sampai kaget, dia menjalankan kursi roda nya mendekat.
"Tuan mereka menjitak ku, rasa nya nyeri sekali tuan, berikan lah aku bonus"
"Apa hubungan nya kepala mu dengan bonus?"
Rindi tersenyum manis.
"Kenapa kau tertawa? mana makan siang ku?"
Rindi membawakan sepiring nasi dengan lauk-pauk, memang terlihat enak rasa dan bau nya juga sedap. Rindi mendekat lalu menyuapkan sendok yang penuh nasi dan lauk ke mulut Andra.
"Aku bisa sendiri"
"Aku akan menyuapi mu untuk aku berterimakasih pada mu"
"Apakah kita juga bisa bersuap-suapan teman"
Ucap Novan.
"Mau kau ku suapi dengan sekop?"
Novan melihat Anita garang.
"Atau kau ingin aku menyuapi mu dengan sepatu?"
Ucap Roy.
"Tidak kalian sekongkol!"
Mereka semua tertawa sambil menyantap makan siang. Selesai makan siang ketiga asisten Andra segera kembali ke ruangan nya masing-masing. Sementara Rindi masih di ruangan Andra.
Drrttt...drrtt.
Tiba-tiba ponsel Andra bergetar, dia melihat layar yang tertulis Daddy nya sedang memanggil nya.
"Aku angkat telpon dulu ya?"
Ucap Andra pada Rindi, Rindi hanya mengangguk sedangkan Andra segera menuju pojok kantor nya.
"Iya dad?"
"Rumah sakit kakek menghubungi Daddy, kau membawa seorang pasien"
"Iya, dad"
"Siapa wanita itu?"
"Bukan orang yang Andra kenal"
"Arvin! kau tidak bisa menyepelekan hal ini, kau tahu seluruh pembisnis mengenal mu belum menikah"
"Iya"
"Semua anak perempuan klien daddy banyak yang mengincar mu, perhatikan itu"
"Iya dad"
"Pulang lah nanti malam, mamah memasak masakan kesukaan mu"
"Andra sibuk, dad"
"Ini ulang tahun mamah"
"Baik, Andra akan bawa hadiah nya"
"Kedua kakak mu juga menanti mu"
"Salam untuk mereka dad"
"Jangan lupa datang ya"
"Iya, Andra usahakan"
Tut......
Sambungan ponsel dimatikan sepihak dari seberang. Andra melihat Rindi, yang nampak bertanya pada diri nya.
"Ini Daddy, nanti malam ada pesta birthday di rumah megah nya"
"Oh, kalau keluarga kaya memang ada rumah utama ya?"
"Rumah utama masih ditempati kakak Aksara"
"Oh, aku tidak tahu silsilah keluarga mu"
Andra mengangguk.
"Aku akan hadir kesana setelah mengantar mu pulang"
"Baik lah"
Rindi jadi murung, baru sehari bertemu pujaan hati nya, dia harus pergi. Tapi memang mereka tidak punya hubungan apa pun jadi Rindi harus kembali ke habitat nya.
BERSAMBUNG.