
Andra yang kaget langsung membungkam mulut Rindi, dia sangat kaget.
"Ada apa kenapa kau berteriak?"
Rindi menggelengkan kepala nya.
"Apa sudah pagi?"
Rindi mengangguk, Andra segera melepaskan tangan nya pada bekapan mulut Rindi.
"Maaf"
"Tidak apa tuan"
Tok....tok.....tok.
Roy mengetuk kaca pintu mobil, agar orang yang berada di dalam segera keluar.
Klek.
"Ada apa?"
"Apa tuan mau mandi?"
"Tentu saja"
"Ini baju anda dan handuk serta perlengkapan mandi lain nya"
"Baik lah, jaga Rindi"
Roy mengangguk lantas bergegas duduk di luar dekat mobil.
Hanya selang 20 menit Andra sudah kembali ke mobil.
"Ini baju untuk ganti, pergilah mandi"
"Aku mau pulang saja, kalian akan ke kantor bukan?"
"Iya, baik lah ayo Roy kita ke kantor"
"Baik tuan"
Roy segera melajukan mobil mereka dengan kecepatan normal. Tak berapa lama Rindi melihat Andra, dia memejamkan mata.
"Apa aku boleh bicara?"
"Katakan saja"
Andra berkata sambil melihat laporan pekerjaan yang masuk ke email nya semalam.
Rindi menarik nafas panjang, dia akan meyakinkan jika ini keputusan yang benar.
"Maaf"
Andra berhenti sejenak memeriksa email nya lalu melihat gadis remaja itu.
"Maaf aku sudah mengganggu mu, membuat mu tak nyaman dan selalu merepotkan mu pada hal kau sudah menolong ku dua kalia tapi aku justru mengganggu mu"
Rindi menjeda perkataan nya.
"Jadi mulai hari ini aku tidak akan mengejar mu, maaf mungkin perasaan ku hanya kagum pada mu, oh ya untuk semua kebaikan mu maaf aku belum bisa membalas nya.
Ucap Rindi, lalu gadis itu menundukkan kepala nya.
Andra terdiam, bahkan semalam mereka tidur di satu tempat, tapi gadis ini malah berkata demikian pagi ini.
Andra tidak lagi membaca laporan, dia hanya melihat jalanan yang agak sepi.
"Saya mau turun di depan, sekali lagi terimakasih untuk semua kebaikan mu, semoga kau selalu bahagia"
Roy menghentikan mobil nya, Andra masih terdiam. Rindi keluar lalu membungkukkan diri nya. Rindi berharap Andra akan menjelaskan semua situasi itu namun lelaki itu memilih diam jadi keputusan nya untuk mundur itu keputusan yang tepat.
"Bahkan kau tidak mengatakan apa pun, apa lagi berkata kalau kau mencintai ku, biar lah cinta ku mati selama nya dan fokus pada masa depan saja"
Rindi berucap demikian namun air mata nya banjir membasahi pipi nya.
Di dalam mobil Andra, mereka menuju perusahaan dengan hening.
"Tuan"
"Apa sudah sampai?"
"Non Rindi masih di jalan, apa tuan tidak mau kembali"
"Lupakan saja Roy, aku lelaki yang sudah berumur dia adalah gadis remaja"
"Tapi tuan......"
"Dia pasti akan bertemu lelaki yang sebaya nya, benar dia hanya kagum saja pada ku itu bukan cinta"
"Jadi tuan akan bersama dengan non Sisi?"
"Aku sibuk Roy ayo ke perusahaan"
Rindi segera kembali ke rumah paman nya dengan naik taksi.
"Non, baru pulang?"
Bibi melihat nona kecil nya masih memakai pakaian yang kemaren jadi menyapa nya. Namun gadis belia itu tak menyahut, dia segera pergi ke kamar Sanga mamah.
Bibi segera menghubungi paman nya Rindi.
"Iya bi"
"Si non kecil aneh tuan, dia datang dengan pakaian kemarin lalu bibi sapa tidak menjawab dia langsung berlari ke kamar mamah nya"
"Baik bi, saya pantau"
Rindi segera mengunci kamar nya, dia menjatuhkan badan nya pada kasur empuk itu. Air mata Rindi berlinang, gadis itu meringkuk di kasur seperti kucing kedinginan dengan Isak tangis yang tak terdengar hanya bahu nya yang bergetar.
" Akhir nya terjadi juga, paman tahu perasaan mu sangat sedih, kau harus melewati ujian hati mu sendiri"
"Mamah Rindi kangen!"
Rindi mengelus foto sang mamah, lantas karena cape menangis hingga dia tertidur.
Andra sampai di perusahaan dan langsung menuju ke ruangan nya. Andra mengunci pintu ruangan nya itu, dia terdiam mendengarkan ucapan gadis belia itu sesaat tadi.
"Kenapa seperti ini?"
Gumam Andra frustasi, di jam makan siang seperti ini harus nya Rindi sudah ada di kantor nya namun sekarang sepi, hampa dan kehilangan.
Seharian Andra terlihat uring-uringan hingga waktu pulang kerja.
"Apa mau saya hubungi non Rindi tuan?"
"Tidak usah"
"Lalu apa tuan mau pulang?"
"Benar"
Sementara itu di rumah utama keluarga Rei, keluarga Braja sudah berkumpul dengan membawa Sisi.
"Kalian ada masalah apa?"
Tanya Elian berpura-pura, sebenar nya dia sudah tahu kabar jika Andra sudah setuju menikahi keponakan matre dan rakus nya.
"Benar ada apa ini?"
Rei ikut bertanya karena si gadis menangis.
"Kita harus segera menikahkan mereka, besan"
Rei kaget belum ada apa-apa dia sudah di panggil besan.
"Hubungan Sisi dan anak tunggal mu sudah hampir 3 Minggu bukan?"
Ungkap ibu dari Sisi.
"Iya sejak kenalan"
Jawab Elian.
"Kalian tahu 2 hari yang lalu Sisi pingsan loh"
"Hah? memang kenapa?"
"Jeng anak ku hamil benih anak mu si Arvin itu"
"Apa!"
Mereka semua kaget, Aditya dan Camelia saling pandang lalu tersenyum bersama.
"Avin tidak mungkin berbuat demikian"
Ucap Rei, dia percaya bocah itu sangat bodoh dalam urusan percintaan.
"Hu...hu....hu"
Mereka semua melihat korban nya yaitu Sisi, gadis itu sedih juga agak lemah.
"Papah, mamah aku malu, aku ingin mati saja"
Ungkap Sisi dengan menyakitkan dan trauma mendalam.
"Tidak Sisi, jik benar anak om yang bejad maka om sendiri yang akan meminta pertanggung jawaban nya"
Melihat Rei yang emosi, maka Sisi melirik papah dan mamah nya secara bersamaan mereka menarik bibir mereka keatas membentuk senyum kepuasan.
Rei segera menghubungi Andra untuk makan malam ke rumah nya. Saat ini Andra sedang dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ponsel nya bergetar.
"Iya Dad"
"Lagi apa kau sekarang?"
"Di jalan, menuju pulang ke rumah, ada apa dad?"
"Datang ke rumah Daddy, penting, sekarang ya"
"Emang masalah apa dad?"
"Nanti juga kau akan tahu ketika tiba disini"
"Baik lah dad, sampai jumpa"
Tut.....
Panggilan dimatikan sepihak, Andra menggelengkan kepala nya.
"Ada apa tuan?"
"Tidak, aku harus pulang ke rumah besar, kita putar balik Roy"
"Baik tuan"
Roy segera merubah arah menuju rumah besar pada hal tinggal 10 menit lagi sampai di rumah mereka.
Tak berapa lama akhir nya mereka sampai di rumah besar, Roy segera membantu Andra menaiki kursi roda itu.
"Tuan muda sudah di tunggu di dalam"
Pelayan itu menyambut Andra, ini terlalu janggal.
"Iya"
Di ruang tamu nampak sudah ramai keluarga Braja terutama hadir semua, Andra terdiam diambang pintu.
BERSAMBUNG.