
Herdan bangkit berdiri dihadapan adik ipar nya ini.
"Jelaskan pada ku?"
Rei terdiam tanpa ingin menjelaskan apa pun. Rei hanya duduk di sofa empuk tanpa ingin apa pun, lelaki itu hanya terdiam sambil menatap satu demi satu anggota keluarga nya.
"Apa salah adik ku pada mu?"
Herdan menatap tajam.
"Aku sudah bilang akan menebus semua salah papah ku dimasa lalu, tidak peduli seberapa banyak nya, asalkan kau jangan libatkan Jasmin, dia masih sangat kecil waktu itu dan tidak tahu masalah yang sudah papah kami perbuat"
Ucap Herdan panjang lebar namun tidak ditanggapi.
"Rei katakan yang sebenar nya?"
Bahkan sang mamah sudah turut berbicara.
"Rei sedang tidak ingin berbicara"
"Lalu dimana Jasmin"
Rei yang hendak masuk ke kamar atas nya dicegat segera oleh Herdan.
"Min sudah pergi dari villa ini, dia menaiki pesawat yang meledak itu"
Jantung Herdan langsung terasa diremas oleh tangan tak kasat mata. Jiwa nya terasa sakit ketika adik satu-satu nya itu kini pergi dengan tragis.
"Ada apa?"
Riana berlari menuju kearah sang suami lantas dia merengkuh suami nya untuk menenangkan.
"Min sudah tiada, sayang. Aku sebatang kara saat ini"
"Tenang lah masih ada aku"
Riana mencoba menghibur sebisa nya, lelaki yang menjadi pendamping nya sedang sangat bersedih dan menderita jiwa nya.
Mereka memutuskan untuk pergi dari villa yang biasa Rei naungi selama ini. Sementara sang pemilik villa sudah tidak ingin membahas apa pun dengan siapa pun.
"Yos, kita ke pusat yang menangani kecelakaan kapal itu!"
"Baik tuan"
Aryos segera menyiapkan mobil untuk menuju tempat yang tuan muda nya inginkan.
1 jam mereka sudah sampai di tempat yang dituju, banyak kerabat dari penumpang yang mengalami kecelakaan.
"Cepat cari informasi nya?"
"Baik tuan"
Aryos berlari segera ke bagian informasi korban kecelakaan pesawat untuk sekedar mengetahui detail dari informasi.
"Tuan hanya ini yang saya dapatkan untuk hari ini, saya sudah mendaftarkan ke bagian informasi tentang data diri nyonya"
"Baik lah, ayo kita pulang"
Seperti semua media sosial dan elektronik yang memuat berita kecelakaan pesawat tersebut bahwasan nya data korban masih diidentifikasi juga dicari kembali.
Setiap hari Rei menanyakan kabar perkembangan informasi nya hingga enam bulan lama nya kasus itu di tutup tanpa kejelasan.
"Apa masih ada perkembangan tentang kasus kecelakaan pesawat terbang itu?"
"Maaf tuan, semua penyelidikan itu terhenti"
Rei terdiam, akhir-akhir ini diri nya selalu gelisah tak menentu entah apa penyebab nya. Hari ini dia menatap kearah parkiran biasa nya melihat gadis belia itu sedang menunggu antrian bus. Tapi sekarang dia sudah tiada, semua seperti debu raib tanpa bekas.
'Andai waktu itu aku tidak menyuruh mu untuk aborsi apa kau masih berada disisi ku?'
Sejak Min menghilang Rei hanya sesekali ke kantor jika ada urusan mendadak.
"Yos!"
"Iya tuan"
"Aku ingin pulang"
"Baik tuan"
Sejak Min menghilang, mamah Cinta melarang Rei untuk mengemudi sendiri ditakutkan Rei akan menabrakkan diri nya ke benda kasar atau terjun ke laut.
Rei juga sudah jarang datang ke kantor, dia lebih sering bekerja di rumah untuk meningkatkan kinerja nya.
'Aku merindukan mu, apa kau masih marah pada ku? kapan kau akan kembali, bukan kah kau tidak pernah membatah ucapan ku, kembali lah Jasmin!'
Rei sedang berdiri di balkon kamar nya, angin cukup kencang, meski dingin namun Rei masih di luar. Cuaca mendadak mendung, hingga lemari dan tempat penyimpanan akan terbuka.
HAAPP......
Rei menangkap sebuah foto buram, foto yang tak pernah Rei lihat. Meski waktu itu Min memberikan nya kejutan, istri nya tersenyum manis kala itu.
"Maaf, maafkan aku"
Rei seolah berdialog langsung dengan Min saat ini, meski hanya sapuan angin dingin. Kini Rei melihat nya dengan jelas kali ini, ada titik kecil tapi tidak samar dan itu jelas.
Tiba-tiba mamah Cinta datang masuk ke kamar bungsu lelaki nya itu.
"Ini foto USG siapa?"
Rei diam memandang foto hitam putih ditangan sang mamah.
"Jawab Rei?"
"Jasmin"
"Apa Jasmin hamil ketika kecelakaan itu?"
Rei menggelengkan kepala nya.
"Lalu?"
"Dia tidak hamil, karena sebelum pergi Min sudah Rei suruh untuk menggugurkan kandungan nya itu"
"Apa!"
Mamah Cinta terkejut bukan main dengan pernyataan yang diutarakan anak lelaki bungsu nya.
"Apa maksud nya ini?"
"Itu bukan bayi milik Rei, mah!"
"Hah!"
"Min selingkuh dengan lelaki lain, itu bayi milik lelaki itu"
Mamah Cinta memandang Rei dengan intens.
"Sungguh? kau sudah selidiki dan ketahui kebenaran nya kah?"
Rei mengangguk.
"Mamah boleh liat bukti nya?"
Rei mengambil foto yang ada di laci terakhir disebelah tempat tidur nya.
"Ini mah"
Sang mamah mengambil foto vulgar itu dari Rei dan melihat nya.
"Apa kau bilang tentang foto ini pada Min?"
Rei menggelengkan kepal nya.
"Lalu?"
"Rei menerima Min dengan kekurangan nya meski sudah selingkuh dengan lelaki lain, Rei ingin Min bahagia dengan melenyapkan anak itu dan mengandung bayi milik Rei segera"
"Sejak kapan kalian sudah menjadi suami istri sesungguh nya?"
"Dua bulan setelah menikahi diri Min"
"Lalu kapan foto ini kau dapatkan?"
"Lima bulan setelah nya"
"Nak, dosa mu benar-benar tidak terampuni"
Lirih mamah Cinta.
Rei melirik sang mamah, dia tidak mengerti dengan ucapan sang mamah.
"Apa kau tidak melihat foto USG ini? bayi di dalam perut istri mu sudah berusia tiga bulan, yang artinya bayi itu milik mu"
Perkataan sang mamah di sore itu, seperti sambaran petir untuk Rei.
"Apa!"
"Kau membunuh anak mu sendiri!"
Mamah Cinta berucap demikian dengan tangis yang sudah pecah. Cucu yang dia dambakan telah diperas oleh mesin dan itu perintah langsung dari anak nya sendiri.
"Apakah itu benar mah?"
Tubuh jangkung Rei ikut bergetar dengan hebat, bahkan lelaki yang mengantar sang mamah yang tak lain kakak kandung istri nya itu membungkam mulut nya. Meski Herdan mendengar semua nya itu tapi lelaki itu menahan nya hingga muka nya merah padam.
Setelah kepergian mamah Cinta dan Herdan, Rei semakin terpuruk penyebab kematian kedua makhluk tercinta nya adalah diri nya.
"Nak maafkan Daddy, sayang"
Ucap Rei sambil mengusap foto berwarna hitam putih itu, bulatan kecil itu anak pertama nya buah cinta nya dengan sang istri.
"Aku memang bukan Daddy yang baik untuk mu, dengan tangan ku sendiri aku yang melenyapkan mu"
Rei terbaring diatas ranjang menatap langit malam yang kelam meski bertabur jutaan bintang.
"Semoga kau menjadi bintang yang paling terang, agar Daddy selalu melihat mu meski dari kejauhan"
BERSAMBUNG.