
Setelah 1 jam dari perusahaan menuju perumahan yang cukup megah itu, namun kini hanya tersisa sisa kebakaran saja.
Terlihat polisi hilir mudik mengumpulkan data dari para korban.
"Tuan kami sudah mengidentifikasi ada 2 mayat hangus berjenis kelamin wanita muda dan satu nya wanita tua"
"Baik apa kalian sudah selesai"
"Sudah tuan"
"Paman terangkan pada mereka"
Dino menyuruh pengacara ke kantor polisi beserta beberapa anak buah nya.
"Semua nya suruh berjaga di luar paman, aku ingin masuk ke dalam"
"Baik"
Aryos dan Rave juga ikut bersama Rei, ada tiga orang lelaki penyidik handal lantas pengidentifikasi kejadian bukti forensik yang polisi peroleh di tempat kejadian.
Rei melihat banyak kejanggalan, yang sudah dia duga juga beberapa bukti fisik.
"Paman pergi lah menanyai polisi dahulu, tunggu aku kembali dari dalam"
"Baik tuan muda"
Dino pergi menemui polisi yang mencari bukti kecelakaan itu.
"Ambil semua yang ada kita ke lantai atas"
Lantai atas masih sedikit yang rusak.
"Baik tuan muda"
Mereka semua mengikuti Rei ke tempat rahasia ruang kerja sang kakek.
"Cepat laporkan"
Mereka ada di bawah tanah markas itu di bawah kolam renang.
"Tuan mereka berdua tidak kecelakaan tapi di bunuh, lihat dari alat dapur yang tidak beraturan, kursi meja makan juga habis terbakar karena sebelum nya rusak"
"Lanjutkan"
Rei memandang ke atas dimana terdapat air kolam renang.
"Wanita tua kemungkinan di gantung setelah wanita muda meninggal"
Rei mengepalkan tangan nya.
"Lanjutkan"
"Pelaku tidak beberapa orang tapi puluhan orang, kemungkinan mereka melecehkan wanita muda dulu, karena mayat mereka tidak terlalu hangus ada lubang di perut bagian kiri wanita muda dan tidak ada abu pakaian disekitar nya"
Deg......deg.
Rei terdiam membisu.
"Masih ada kah?"
"Kami baru menemukan sekian tuan"
"Pergi lah"
Semua keluar dari tempat itu.
Lirih Rei.
"Nenek maaf, Rei tidak melindungi mu"
Klik.
Siku Rei menyenggol layar datar yang ada di samping nya. Rei melihat rekaman dari dia bayi, lantas Rei mengambil nya lalu membawa semua nya pergi dari sana.
"Sudah selesai?"
"Aku sudah mengambil semua yang tersisa, paman"
"Ayo kita pulang Rei"
"Baik lah"
Rei sudah menutup semua akses internet, cctv juga semua barang berharga lain nya bahkan lukisan kesayangan kakek sudah dia ambil pula.
Rei menuju kediaman megah Alkatiri. Disana sudah berkumpul tetangga yang berbela sungkawa, baik dari keluarga besar Aryandy, Alkatiri, Dimitri, Ardana bahkan semua keluarga Sanunjaya pun hadir.
para mayat sudah selesai dengan acara penyucian tubuh mereka untuk segera di kubur. Semua berjumlah 5 mayat, kakek dan nenek Aryandy, Rieka, supir kakek Aryandy juga juga kekasih Rei yaitu Queena.
Mamah Queena yang sedang hamil besar juga datang untuk mengantarkan sang putri ke peristirahatan yang terakhir.
"Mah"
Rei mendekat pada mamah dari kekasih nya.
"Rei"
"Maaf Rei tidak bisa menjaga Queena"
Sang mamah menggelengkan kepala nya.
"Tidak nak, ini semua sudah takdir, tidak ada yang disalahkan, ikhlaskan dia, cintai dia melalui doa mu untuk nya"
Rei mengangguk, mamah Queena mengelus kepala calon menantu kekasih anak nya yang kini sudah tidak bernyawa.
"Terimakasih mah"
"Kau juga kehilangan lebih banyak dari mamah, kau lebih bersedih, kita harus saling menguatkan bukan?"
"Iya"
Prosesi pemakaman pun dimulai ke lima liang lahat sudah disiapkan mereka di kebumikan satu demi satu. Bunga merah bak darah mengalir membuat rona merah yang begitu cerah. Rei memandangi kelima batu nisan itu.
"Rei"
Rei menengok ke belakang ternyata sang papah yang menepuk bahu nya.
"Sebentar lagi pah"
Aksara menunggui anak bungsu nya, sementara istri nya pingsan dan dalam masa perawatan di rumah dengan dijaga anak-anak nya yang lain.
Namun mereka semua luput dari seseorang yang memandang sinis kearah pemakaman umum itu, dia memukul stir berkali-kali geram di rasa.
'Sial, musuh ku sesungguh nya masih berdiri tegak, sementara aku hanya memusnahkan pion-pion kecil nya saja, brengsek'
Gumam seseorang yang berada di dalam sedan mewah berwarna hitam mengkilat itu.
BERSAMBUNG.