
Pagi itu Andra mengerjakan mata nya, karena ada yang menarik lengan nya. Dia terbangun di ruangan aneh, melihat sekeliling nya.
"Pa....!"
Samar dia mendengar suara seorang gadis cilik sekitar berusia 1 tahun, cantik sekali terutama bibir dan mata nya itu milik Rindi. Andra tersenyum pada gadis cilik itu yang berdress pink tanpa lengan lagi berbando pink juga.
"Pa.......!"
Suara itu seakan memekakkan telinga, lantas gadis cilik itu hilang begitu saja.
Deg......Deg......Deg.
Jantung Andra seakan mau lompat dari dada sebelah kiri nya. Keringat membasahi tubuh nya ketika terbangun.
"Tuan"
Andra menoleh, ada Roy di samping nya.
"Dimana kita sekarang?"
Bukan nya Roy menjawab namun dia hanya diam saja.
"Kah lupa anak muda, kau sedang dimana?"
Suara bariton dan serak yang menjawab nya, dia dokter Ervan dan sekarang Andra masih berada di ruangan rawat milik ibu Amelia.
"Kau bermimpi nak?"
Andra tersenyum manis karena wanita baya itu mendekat pada nya.
"Selamat pagi Bu"
"Selamat pagi anak ibu yang tampan"
Andra bangkit dari sofa yang dia tiduri semalam, lantas meminta ijin untuk mandi sementara seseorang sudah mengantarkan baju ganti untuk nya.
"Anak itu belum berubah, setiap kalia tidur dengan terduduk maka akan bermimpi buruk"
Cerita ibu Amelia entah pada dokter Ervan atau Roy.
Ibu Amelia menyeruput teh nya dengan elegan, dia juga memakan obat nya sebelum sarapan dengan putra kesayangan nya itu.
KLEAK.....
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Andra yang sudah fresh karena mandi.
"Sudah mandi nya?"
"Sudah Bu"
"Ayo kita sarapan"
Ibu Amelia meraih tangan putra nya dan mengajak 2 orang lain nya yaitu dokter Ervan dan Roy untuk sarapan di balkon rumah sakit.
"Ibu masak sendiri loh"
Ketika sampai di meja dengan menu yang ada diatas meja tersebut. Andra terdiam cukup lama, itu masakan 30 tahun lalu yang selalu dia nikmati.
"Maafkan ibu yang sudah terlalu lama meninggalkan mu nak"
"Aku kangen sekali"
Lirih Andra, sungguh Andra tak pernah sekali pun berfikir jika dia dapat menikmati masakan ini lagi apa lagi hari ini tepat nya.
"Tuan..."
Roy mempersilahkan tuan nya untuk duduk di kursi.
"Ayo kita sarapan"
Andra mengangguk dengan antusias, dokter Ervan hanya tersenyum saja melihat pemandangan yang mengharukan. Rupa nya ibu Amelia adalah seorang ibu yang penuh kasih sayang dan kehangatan bukti nya Andra yang anak pungut saja bisa setulus itu menyayangi wanita yang sedang duduk di samping nya ini.
Piring Andra segera diisi oleh ibu Amelia dengan nasi putih, opor ayam, acar mentimun juga segelas teh manis hangat.
"Maaf ya disini tidak ada kerupuk"
Andra mengangguk lantas tanpa kata memakan masakan ibu Amelia.
"Makan yang banyak nak"
Roy menyuapkan makanan ke mulut nya, mengunyah nya perlahan. Memang sangat lezat karena racikan bumbu yang pas juga rasa nya meski ada santan yang kental namun bertambah gurih.
"Sangat lezat"
Ucap Roy perlahan, dia juga menikmati opor tersebut dan menambah nasi beberapa kali.
"Iya habiskan ya, ibu masak spesial buat kalian"
Ibu Amelia tersenyum manis, senang masakan nya masih bisa di nikmati oleh putra nya. Tak lama masakan ibu Amelia sudah ludes tak bersisa.
Drrtt.....drrttt.....ddrrtt.
Andra melihat ponsel nya itu bergetar, ada nama Daddy nya tertera di layar ponsel pintar nya.
"Bu, Andra angkat telepon dulu ya"
"Iya nak"
"Iya dad......"
"................."
"Baik dad, sebentar lagi Arvin kesana"
Tut.....
Sambungan ponsel dimatikan oleh seberang sana.
"Ada apa nak?"
Terlihat wajah Andra yang sudah pias.
"Tidak apa Bu, hanya ada kabar saja tentang mommy yang koma selama 35 tahun"
"Ya sudah kamu cepat ke tempat mommy mu, barang kali ini kabar baik nak, semoga tuhan memberikan mommy mu kesembuhan ya sayang"
"Iya Bu, Andra pamit dulu ya Bu, nanti Andra kabari dan tengok ibu lagi"
"Iya pergi lah nak"
Andra kemudian pamit pada dokter Ervan, Roy mengikuti nya dari belakang. Andra segera menuju lantai 25 yang ada kamar rawat buat mommy nya yang sedang koma.
Andra masuk lift memencet angka 25 lantas masuk.
TING......
Lift sudah terbuka di lantai yang Andra tuju, ayah Andreas sudah menyongsong diri nya di lift.
"Ayah....."
"Cepat ke ruangan mommy mu Vin"
"Baik"
Mereka berlarian di lorong rumah sakit besar itu, Andra sempat ketakutan tadi saat Daddy Rei menelpon nya.
Namun diruangan rawat sang mommy nampak banyak dokter yang sedang menangani mommy nya.
"Dad......"
Andra menepuk punggung Daddy nya.
"Dari mana saja kau, tadi mommy mu sempat kritis, detak jantung nya lemah kembali, Daddy takut Vin"
Andra mengelus punggung lelaki yang menjadi Daddy nya itu, beliau sangat khawatir dan syok.
"Kita sama-sama berdoa ya dad, semoga mommy melewati masa kritis nya"
"Kritis itu terjadi karena ada ingatan yang kembali, kata dokter itu efek samping terkecil bisa mempengaruhi detak jantung"
Andra terdiam sambil menyimak penuturan dari ayah Andreas.
Tak berapa lama para dokter keluar dari ruangan itu.
"Bagaiman istri saya dok?"
Daddy Rei langsung bertanya ke hadapan dokter.
"Kritis nya sudah terlewati, siapa yang berbicara terakhir kali dengan ibu Jasmin?"
"Saya dok"
Andra maju ke depan karena dia ingin mendengarkan ucapan dokter.
"Andra harus selalu di sisi ibu anda tuan, karena jika sewaktu-waktu ingatan nya terkumpul maka bisa saja mempengaruhi laju jantung nya"
"Baik dokter"
"Tolong di jaga ya jangan sampai anda pergi lebih dari 3 jam"
Andra menghela nafas, meski pun sulit namun dia harus fokus.
"Baik dokter, terimakasih"
Tim dokter segera berlalu, dan Andra segera memasuki ruang rawat mommy nya. Andra duduk di kursi yang terdapat di sebelah ranjang mommy nya.
"Mommy maafkan Arvino ya mom, meninggalkan mommy terlalu lama. Arvin tahu mommy merindukan anak tampan mommy ini, teruslah mengingat Arvin mom, Arvin mencintai mu"
Lantas memegang tangan mommy nya, mengelus lembut. Mengecup kening mommy nya sama seperti 35 tahun lalu. Andra juga menyanyikan lagu yang suka mommy nya nyanyikan, membacakan cerita agar ingatan mommy nya secepat nya kembali.
"Mom, Avin rindu"
Ada suasan bahagia dan juga pedih yang masuk kedalam relung hati nya. Karena satu-satu keluarga yang Andra punya saat kecil hanya mommy nya yang cantik jelita ini.
Andra menggenggam tangan mommy nya erat hingga terlihat mengantuk.
GREEPP......
Jantung Andra terpacu ketika ada gerakan dari tangan yang dia genggam.
BERSAMBUNG.