
Pagi sekali Aksara terbangun dari tidur dan bergegas ke kamar mandi, Aksara membersihkan tubuh nya karena akan segera terbang ke negara B.
"Mah bangun"
Aksara membangunkan istri nya, karena dia harus bergegas.
"Masih pagi pah"
"Papah harus segera terbang ke negara B mah"
"Papah tidak ingin menetap disini lagi kah?"
"Sudah lah mah, nanti kita bahas lagi kan papah harus kerja disana tidak ada yang mengurus nya"
"Baik lah"
Cinta bangun untuk menyiapkan pakaian suami nya.
"Mamah akan tetap disini ya pah"
"Baik lah, tapi hati-hati, anak-anak akan papah tanya apa mereka mau pulang atau disini?"
"Iya"
Cinta seakan kecewa dengan keputusan suami nya yang akan kembali ke negara B.
Mereka saat ini sedang melakukan sarapan bersama, tak ada yang berceloteh seperti biasanya mereka berebut makanan, bertengkar hanya untuk masalah sepele atau pun hanya sekedar ngobrol tidak ada judul dan tujuan.
"Tumben sangat khidmat hari ini?"
Ucap opa Ditya.
"Itukan bagus opa?"
Sahut Oma Diah.
Mereka hanya terdiam menikmati sarapan nya.
"Riana duluan pah, mah"
Riana beranjak dari kursi nya.
"Tidak sopan, duduk kau"
Bukan suara kedua orang tua mereka atau pun opa dan Oma, akan tetapi itu suara dari Raksa kakak sulung mereka. Riana jelas mematung akan ucapan atau lebih tepat nya bentakan kakak sulung nya.
"Atas dasar apa kakak membentak ku!"
Riana langsung melengkungkan suara nya. Sebelum Raksa membuka mulut untuk menjawab ucapan gadis itu terlebih dahulu Aksara menyela.
"Raksa berangkat lah dulu, ajak adik mu yang mau kembali ke negara B"
"Baik pah"
Raksa beranjak dari kursi lalu mengajak Rieka dan Indri untuk pulang ke negara B.
"Mah, papah pamit, Riana jangan nakal ya"
"Iya pah"
Aksara segera meluncur menuju jalanan dia berkendara sendiri karena Melki menyupiri anak-anak nya. Ketika sedang menempuh jarak seperempat jalan diri nya baru teringat akan berkas yang harus dia bawa.
"Seperti nya masih tertinggal di ruang kerja"
Aksara segera memutar kembali arah mobil nya menuju rumah. Dia sangat kencang melajukan mobil nya karena anak-anak nya sedang menunggui nya.
BRAAKK.
"Loh kok papah kembali?"
"Mau ambil berkas yang ketinggalan"
"Ohh ..."
Riana hanya ber oh ria saja, sedangkan gadis itu sedang menonton acara talk show kesukaan nya.
"Bisa terlambat ini, kenapa kok jadi begini sih?"
Gerutu nya, suara gerutuan Aksara terdengar keluarga karena pintu ruang kerja nya terbuka sedikit. Cinta hanya tersenyum saja melihat tingkah pelupa dari suami nya.
"Perlu bantuan?"
"Tidak usah sayang"
"Ya sudah, aku mau memasak saja"
"Hem....."
Setelah setengah jam Aksara baru menemukan berkas itu berada dalam brangkas rahasia nya.
"Kok bisa?"
Lalu muncul sebuah pemikiran dalam benak Aksara.
"Oh begitu"
Aksara tersenyum lantas segera menuju dapur untuk menemui istri nya.
Grep.
Dengan segera Aksara mendekap istri nya yang sibuk mengolah bahan mentah dari masakan yang akan dia buat.
"Eh, kok malah kesini sih?"
Cinta kaget akan dekapan suami tua nya itu.
"Jangan pura-pura linglung sayang"
Kata-kata Aksara di tekan kan begitu.
Cinta hanya tersenyum melihat suami nya sudah peka dan Aksara sangat gemas melihat istri nya itu.
"Lalu?"
"Kau sengaja membuat ku terlambat kan?"
"Tidak juga pah"
Riana segera masuk ke kamar pada hal acara talk show baru mulai.
"Kenapa malah bermesraan sih, sudah talk show kesukaan ku baru mulai lagi"
Gerutu Riana kesal pada kedua paruh baya itu.
Sementara di bandara ketiga orang pemuda-pemudi itu di buat bingung, pasal nya kapan merek akan berangkat ke negara B.
"Kak, papah mana sih?"
Ucap Indri kesal di buat nya.
"Iya nih lama banget sih, papah"
Rieka juga menimpali.
"Mungkin kejebak macet, sabar lah"
Mereka masih menunggu hingga setengah jam berlalu, yang di tunggu tak nampak batang hidung nya.
"Kita susul saja kak ke rumah opah"
Ucap Indri yang sudah tidak sabar dan mengagetkan Raksa yang sedang asik dengan game di ponsel canggih nya.
"Ayo kak kita susul, bener kata Indri"
Rieka juga keburu tidak tenang.
Mereka akhir nya memutuskan untuk kembali ke rumah opah mereka.
Rei membuka mata, setelah bunyi dering ponsel nya berkali-kali berdering.
"Ya"
Rei menatap jam dinding menunjukan angka 9 pagi.
"Kau benar, semalam aku tidur terlalu larut"
"Segera mandi dan kita akan berangkat pagi ini bersama"
"Baik lah, kau lah bos nya"
Rei bangun dengan segera menuju kamar mandi hanya 10 menit mandi dan keramas saja. Berpakaian rapih ala anak kuliahan, turun kebawah sekedar mencomot sebungkus roti saja.
"Sarapan yang bener dulu"
"Aku buru-buru nek, sampai jumpa"
Rei berlari ke arah mobil nya, ya sejak kemaren dia sudah memiliki mobil kesayangan nya itu. Sang kakek hanya tersenyum melihat cucu nya pergi sambil memakan roti nya, pada hal dulu anak itu selalu mementingkan kesehatan.
"Tidak biasanya"
"Karena dia sudah punya tanggung jawab"
"Asal jangan sampai lupa waktu saja"
"Ha..ha"
Ravenda sudah melambaikan tangan nya.
"Kemari lah, kemana mobil kalian?"
"Kami ingin menumpang mobil mu"
Arah pandang Ravenda begitu terpesona dengan mobil milik Rei.
"Jangan jatuh cinta pada mobil ku, kalau tidak ingin kepala kalian berlubang"
Mereka langsung menjauh seraya menggelengkan kepala nya.
"Apa disentuh saja tidak boleh?"
"Tidak, dia hanya milik ku"
"Cih, posesif sekali"
Ucap Aryos yang lalu mendapat jitakan dari Rav.
"Ayo kita berangkat"
Merek berangkat menyusuri jalanan dengan kecepatan sedang hingga seperempat perjalanan mereka ada perbaikan jalan.
"Kenapa mendadak sial sih"
Aryos bergumam, yang lalu mendapat lirikan tajam dari Rei.
"Iya maaf"
Mereka mendapat jalan pintas yang agak sulit jalanan agak becek juga terjal. Sampai di pertengahan jalan melihat seorang pria yang dikerumuni oleh orang-orang berjas hitam.
"Rei seperti nya, aku kenal lelaki yang sedang di todong itu"
Rei menatap lurus.
"Tuan Alkatiri"
Mereka bertiga saling pandang, Rei segera menutup kap mobil nya agar tertutup.
"Kau bisa mengendarai mobil ku bukan?"
Rav mengangguk.
"Aku akan menolong lelaki itu, mobil ini anti peluruh jadi berlindung lah disini, jangan ada yang keluar oke"
Mereka berdua mengangguk walau pun seketika wajah Aryos pucat.
"Lalu aku mengkode untuk pergi maka pergi lah, jika aku meminta untuk dijemput maka jemputlah, jangan bertindak gegabah"
Mereka kembali mengangguk.
Rei turun dengan santai nya, lantas menghampiri mereka yang sedang berdebat sengit.
"Wow seperti nya disini ada perdebatan sengit, bisnis ilegal kah?"
Mereka semua menoleh, lalu menatap Rei dari dari ujung kaki hingga kepala.
"Jangan ikut campur anak muda, jika tidak kami juga akan meledakkan mu"
Rei tersenyum meremehkan, sementara Aksara melihat lelaki kecil itu hanya tersenyum senang saja.
'Kau lagi nak, apa kita memang ayah dan anak, jika demikian maka aku berhutang nyawa pada mu'
Ucap Aksara.
'Mungkin ini lah hikmah nya ketika aku terlambat terbang ke negara B'
Lirih nya lagi.
"Jika aku tidak ingin pergi bagaimana?"
"Maka kau cari masalah dengan kami"
"Boleh juga"
Buggghh....
Rei menendang tengkuk 3 orang itu dan langsung tersungkur begitu pun Aksara sudah menendang bagian perut kiri yang mengakibatkan korban nya memuntahkan darah.
Tersisa 5 orang karena 5 orang lain nya sudah terkapar tanpa nafas.
"Kalian boleh juga"
Mereka mengarahkan senjata tajam kearah Rei namun di tendang kaki lincah Aksara, begitu pun selanjut nya sedangkan dari arah belakang datang 3 mobil dengan 15 pasukan bayangan terkuat.
"Kita mundur"
Ucap Aksara berbicara pada Rei.
"Tapi tuan"
"Mereka terlalu berbahaya, mereka pasukan bayangan bayaran terkuat di negara Z"
Mereka berdua saling beriringan.
"Kalian ingin kabur! jangan mimpi tuan Alkatiri"
Ucap ketua pasukan yang menggunakan topeng itu.
"Tidak ada jalan untuk kembali"
Ucap Rei, seketika Aksara memandang Rei dengan perasaan tak menentu.
"Aku akan menghadang mereka, masuk lah ke mobil mu, kau masih muda, kau tidak pantas mati sia-sia begini"
Rei terdiam menatap wajah orang tua di samping nya, seperti ada perasaan aneh. Perasaan hangat, nyaman dan khawatir yang berlebih.
"Sudah lah jangan berunding lagi, kalian ayah dan anak akan mati disini"
Mereka menyerang dengan gesit, demikian Aksara dan Rei. Hingga mereka bersikap licik ingin membidik kedua nya.
Dor...dor....dor.
Rei menembak merek dengan sekali bidik, itu membuat Aksara terkejut. Hampir saja nyawanya melayang jika tak ada Rei. 1jam pertempuran itu mereka semua tergeletak dan terluka parah, begitu pun dengan Rei lengan nya tersayat pisau. Beberapa kali tertusuk di bahu.
"Sudah selesai, ayo pulang"
"Iya"
Rei berjalan lebih dulu, namun ketua dari tim bayangan itu meski linglung dia ingin membidik Rei.
DOORRR.......
BERSAMBUNG.