
Aksara sangat bahagia di usia senjanya ini ada istri yang selalu membuat di merasa muda kembali.
"Ya sudah byy berangkat dulu ya sayang"
Jika berdua mereka memanggil dengan panggilan kesayangan, lain hal nya jika bersama anak-anak maka akan memanggil panggilan milik anak-anak mereka.
"Apa tidak bisa pergi nya besok-besok saja?"
Terpancar raut kekhawatiran itu dari wajah sang istri yang sangat Aksara Cintai. Aksara mengelus kepala istri nya dengan sayang, serta memeluk nya. Usia mereka terpaut setengah nya, jika Aksara tak rajin mengontrol pola makan, nge gym dan diet sehat mungkin diri nya sudah kakek-kakek saat ini.
Namun karena Aksara lelaki yang peduli akan kesehatan jadi tubuh nya masih berotot, perut langsing tanpa lemak, segar, muda bahkan jika dilihat mungkin hanya terpaut 5 tahun usia nya pada hal mereka terpaut 17 tahun.
"Tapi pekerjaan byy banyak di kota B sayang"
Cinta kembali lesu.
"Hanya 2 hari byy janji akan segera kembali ya"
Cinta mengangguk meski demikian kecewa pada suami tua nya ini.
"Jangan kecewa dong sayang"
Aksara mengecup kening sang istri dengan mesra nya, dia selalu memperlakukan Cinta dengan istimewa setiap saat. Dia tidak pernah kasar, tidak pernah pula membentak istri nya apa lagi wanita itu sudah berjuang hidup dan mati bahkan sampai melahirkan ke 5 anak nya ke dunia ini.
"Byy pergi dulu ya"
Aksara bergegas karena dia tahu jika anak-anak nya sudah 2 jam lebih menunggu.
"Semoga masih sempat"
Saking buru-buru nya Aksara tidak memperhatikan jalanan jika dia sudah diikuti oleh beberapa mobil yang berkendara di belakang nya.
Semua lolos dari perhatian Aksara karena terburu dengan waktu, Aksara mengejar waktu karena takut anak-anak akan panik. Begitu lah selama 20 tahun Aksara sudah berjanji menjadi ayah yang mereka butuhkan. Anak-anak adalah prioritas nya yang utama, seberapa sibuk dan padat nya jadwal pekerjaan nya.
"Hadang dengan fasilitas umum"
"Baik bos"
Aksara sudah berhenti terkena macet, sementara dia sudah lama meninggalkan anak-anak nya.
"Pak itu ada kemacetan apa ya?"
Tanya Aksara pada salah satu polisi lalu lintas itu.
"Ada kemacetan karena jalan di depan ambruk pak"
"Oh begitu pak, sampe kapan ya?"
"Mungkin 5 jam lagi"
"Terimakasih ya pak"
Aksara menghela nafas nya, hendak menunggu itu tak mungkin, hendak kembali ada anak-anak.
"Lewat jalan pintas saja"
Aksara segera memutar jalan menuju jalan pintas dengan segera tanpa menunda waktu. Sementara penghuni 2 buah mobil hitam dibelakang nya tersenyum melihat itu.
"Burung masuk jebakan"
Gumam mereka sambil tersenyum devil.
Mereka sepasang mobil hitam itu mengikuti gerak laju mobil Aksara dengan pelan karena medan jalan nya yang licin dan agak terjal juga Sampit. Tiba-tiba salah satu ketua tim pasukan yang mengejar Aksara menekan interkom nya.
"Sekarang"
Maka terbuka lah jalan rahasia, sebuah gerbang mirip seperti tembok kokoh di tengah jalan pintas itu. Mereka menuju kelokan selanjut nya lalu melaju kencang untuk menyusul mobil yang dikendarai Aksara.
CEKKIIITTT.......
Mobil yang Aksara kendarai mengerem tajam hampir menubruk mobil yang melintas di depan nya. Entah dari mana mobil hitam sepasang itu datang, perasaan Aksara kembali tak enak seperti hal nya saat memasuki jalan pintas ini.
15 orang turun diantara nya, menuju mobil Aksara.
"Turun lah, tuan Alkatiri!"
Seru salah satu nya.
Aksara memperhatikan gerak-gerik mereka yang mulai mendekat.
"Percuma jika kau bermain trik, karena......"
Mereka memperlihatkan ketiga foto anak Aksara.
"Cepat keluar!"
Seru diantara nya.
Klek.
Aksara keluar dari mobil nya lantas berjalan dengan arogan.
"Katakan mau kalian?"
"Tuan kami ingin berkas kerjasama mu itu"
"Kerja sama yang mana yang kalian maksud?"
"Jangan banyak bacot, cepat serahkan!"
Ke lima belas orang itu hendak memeriksa mobil Aksara, namun dengan sigap Aksara melayangkan tendangan maut nya.
BUGH...BUGHHHH.....bughh....
Kreekk....krekkk....kreeekk.
Bunyi senjata gemeretuk mengarah pada Aksara.
"Jangan banyak tingkah pak tua, kau sudah terkepung dan jangan sesuka mu bertingkah"
"Kenapa tidak"
Senjata api langsung diarahkan mereka ke kepala Aksara.
"Tikus got semacam kalian saja berani mengancam ku"
Ucap Aksara, meski diri nya tak membawa senjata api, namun dia masih sanggup membunuh mereka semua. Namun nyawa ank nya sedang diintai.
Ssrreettt.......
Ada ban mobil berhenti dan berdecit sangat dekat Aksara kira itu musuh yang datang kembali. Hingga keluarlah seorang bocah yang familiar di kepala nya.
'Bocah itu lagi?'
Gumam Aksara dalam hati, apakah bocah itu selalu menjadi penyelamat nya pikir Aksara. Hingga anak muda itu turun dan seperti nya dia tidak sendiri.
"Wow seperti nya disini ada perdebatan sengit, bisnis ilegal kah?"
Aksara tahu jika anak itu ingin memancing keributan, anak yang sangat cerdas. Hingga perdebatan mulut antara Rei dan para penjahat bayaran pun terjadi, ya yang mendekat kearah Aksara adalah Rei.
Tak dapat di duga Rei langsung menyerang penjahat yang tadi sudah mengelilingi Aksara. Rei menerjang mereka bertiga hingga mati, lalu maju menghadapi sisa nya. Aksara dengan segera pula bertindak hingga semua terkapar.
Bahkan adu senjata api pun dilakukan untuk menaklukan para penjahat bayaran yang mengepung Aksara, pertempuran itu dimenangkan Aksara dan Rei.
"Sudah selesai, ayo pulang"
"Iya"
Rei berjalan lebih dulu, namun ketua dari tim bayangan itu meski linglung dia ingin membidik Rei.
DOORRR.......
Ketika senjata itu diletuskan oleh ketua tim penjahat bayaran itu, Aksara segera mendorong Rei kesamping hingga peluruh mengenai bahu Aksara, Rei mematung melihat nya.
"Kalian kira kalian sudah menang hah!"
Ketua tim itu bangkit meski sempoyongan, hendak kembali menarik pelatuk pistol nya.
"Cepat lari, masuk ke mobil ku"
Ucap Aksara, menyuruh Rei masuk mobil nya.
"Mau kabur hah! jangan harap kau bisa hidup hari ini, nyawa mu akan berakhir disini"
Rei menatap tajam kearah penjahat itu. Sementara lengan kanan nya juga terluka parah akibat sayatan beberapa anak buah penjahat itu.
"Kau pikir aku takut mati hah!"
Rei bangkit dari duduk nya menghampiri penjahat itu.
"Jangan kesana cepat lari lah"
Aksara menahan lengan Rei meski tak kuat.
'Jik dia anak bungsu ku aku tak akan biarkan dia mati, Cinta bisa marah meski aku sudah mati hari ini aku akan merasa sangat bersalah'
Gumam Aksara.
Si penjahat itu tertawa sumbang bahkan mengejek Rei.
"Sudah mau mati tapi masih sombong, rasakan ini"
DDOORR..........
Rei tak merasakan apa pun justru penjahat itu yang terkapar dengan dada berlubang, tubuh nya bersimbah darah.
"Apa kau tak apa?"
"Paman, kau datang"
"Tentu, kenapa tidak mengabari Rei"
"Maaf"
Rei menunduk, lalu melihat Aksara. Aksara tersenyum lalu dengan tenaga lemah dia bangkit.
"Tuan anda terluka!"
Ucap pria berjubah.
"Dino, kau datang"
Ucap lirih Aksara lantas terjatuh pingsan di pelukan lelaki yang disebut Dino itu.
"Paman"
"Kita bawa dia ke rumah sakit dulu"
"Baik"
Rei segera mengendarai mobil milik Aksara dan menyuruh Ravenda mengikuti mereka menuju rumah sakit.
BERSAMBUNG.