
William terdiam menyaksikan kisah pilu kedua orang tua nya.
"Mommy wanita yang kuat"
Ucap William pada ibu Amelia.
"Aku tidak pernah menikah dengan siapa pun termasuk dengan ayah nya Alesa putri"
"Terimakasih mommy, selalu mencintai Daddy"
William menyodorkan sebuah foto kehadapan ibu Amelia.
"Ini apa nak?"
"Ini dulu berupa keisengan Will"
Ibu Amelia menerima ponsel milik William, lalu melihat nya dengan serius lantas memandangi nya dengan senang hati.
Mata ibu Amelia melotot melihat kedalam foto yang ada di ponsel William.
"I.......Ini"
"Itu Akta catatan nikah mommy sama Daddy"
Ibu Amelia melihat kepada William.
"Ini adalah akta kelahiran kami mommy"
Ibu Amelia juga melihat nya, ibu Amelia menitikkan air mata nya, sambil memandangi akta-akta tersebut.
"Bagaimana bisa nak?"
"Mommy butuh waktu berbicara pada dengan Daddy mom"
Dengan lembut William berbicara pada wanita yang menjadi ibu kandung nya ini. Entah apa yang sudah German lakukan hingga kedua anak nya memiliki ibu yang sama.
"Masukan mommy berbicara dengan Daddy?"
Ucap Will lembut bahkan terdengar seperti lirihan.
Air mata ibu Amelia dan William sama-sama deras nya. Ibu Amelia memandangi wajah tampan putra nya itu. Ibu Amelia mengangguk pada William, meski Will menangis dia tersenyum.
"Boleh peluk mom?"
Ibu Amelia kembali mengangguk. Will segera memeluk mommy kandung nya, tubuh seorang ibu yang Will rindukan dan inginkan sedari kecil.
"Will sayang mommy"
Lirih Will membuat air mata ibu Amelia terus mengalir tanpa henti.
Ibu Amelia memeluk pemuda yang mengaku sebagai anak nya, mengelus rambut anak nya dengan sayang.
"Mommy janji ya mau ngomong sama Daddy?"
"Iya mommy janji nak"
William mengusap air mata yang membasahi pipi sang mommy.
"Ternyata mommy sangat cantik"
William membingkai wajah sang mommy, lalu merebahkan kepala nya di pangkuan sang mommy. Ibu Amelia tersenyum mengelus kepala William dengan sayang.
"Seneng amat, main rebut ibu orang aja"
Andra masuk ke kamar ibu Amelia.
"Emang ini mommy ku lah"
"Tidak ada pokok nya"
"Mommy ku yang hilang ini sudah kembali"
Mereka berdua berebut tidur di pangkuan ibu Amelia.
"Arvin jangan begitu nak, tidak sopan"
Ucap mommy Jasmin yang ikut masuk kedalam kamar yang Ibu Amelia tempati. Ibu Amelia hanya tersenyum saja dibuat kedua anak lelaki dewasa ini.
"Sudah pada tua juga masih berebut kaya anak kecil saja"
Ucap Daddy Rei.
"Ayo cepat makan malam sudah siap, Will kau mandi dulu, Lisa mencari mu"
Ucap Daddy Rei tegas.
"Siap om"
Daddy Rei membawa Andra keluar dari kamar ibu Amelia untuk pergi ke meja makan.
"Dad, kok Avin di tarik sih?"
"Kamu jangan nakal oke"
William tertawa juga ibu Amelia tersenyum.
"Will mandi dulu ya mom?"
"Iya nak"
"Mommy juga nanti kita makan malam bersama, aku sayang mommy"
"Mommy juga sayang pada mu"
Ucap ibu Amelia, Will dengan tersenyum kembali ke kamar nya.
"Bagaimana?"
"Berhasil dong yang"
"Kamu hebat banget"
"Iya dong William kan hebat"
"Mandi gih kita kan akan makan malam"
"Ini malam bersejarah ku sayang, doakan mommy mau mengakui ku ya"
William berbicara dengan menggenggam kedua tangan Lisa.
"Iya aku doakan supaya kamu bisa diakui oleh mommy Amelia"
"Terimakasih sayang, aku mandi dulu ya"
Lisa mengangguk, di berdoa dengan tulus agar suami nya itu memiliki keluarga yang lengkap meski sudah dewasa dan matang.
Setelah 15 menit William keluar dari kamar mandi, lantas segera berpakaian rapih untuk menghadiri makan malam bersama dengan keluarga besar nya dan keluarga besar Mid.
"Sudah siap?"
William terlihat begitu bersemangat dan berbahagia, Lisa sangat senang melihat suami nya malam ini.
Mereka bergandengan tangan menuju ke meja makan, lantas menuju kursi mereka disana sudah disiapkan dengan berbagai macam hidangan yang sangat spesial, memenuhi meja makan rumah megah itu.
Sedangkan Andra sedang misuh-misuh karena diseret sang Daddy ke kamar nya.
"Ayo mas, kita makan malam"
"Males lah yang, kesel"
"Loh kok kesel sih mas, kita makan malam bareng keluarga besar mas"
"Nanti lah masih jam segini"
"Ayo mas, cepat ih nunggu berapa lama coba"
Andra kesal mendengar Rindi mengoceh pada hal dia tidak suka situasi ini.
"Iya ih bawel banget sih"
"Ya maka nya cepat turun buat makan malam sama keluarga besar kita"
"Iya"
Andra di kamar sedang memakai baju nya, malam ini begitu cerah dan segar.
Sementara dihalaman samping ada kolam renang Novan sedang bersantai dengan Roy.
"Tumben sendirian Van?"
"Loh bukan nya kamu juga tumben sendirian, tidak ngebor pacar mu"
"Kan aku dipanggil sama bos Van"
"Oh begitu, kirain suka rela"
"Anita kemana?"
"Ada noh di ruang gym, bagaimana punya pacar?"
"Nikmat, selalu dilayani"
"Tidak nyangka aja, lelaki yang pendiam jadi maniak"
"Maksud mu?"
"Ya ketagihan si pacar, gimana hot tidak?"
"Hot banget lah, tiap saat menggoyang dia puas"
"Dasar jomblo karatan"
"Bukan nya kau juga sama"
"Beda lah, aku ini selalu menetral nafsu ku seminggu sekali minimal"
"Gaya nya"
"Kenapa kita ngumpul ya?"
"Memang kau ada perlu?"
"Malam Minggu bro, ngapel"
"Bar?"
"Cari kesenangan lah apa lagi di negara ini?"
"Bener sih, maka nya aku jadikan Rose pacar ku, biar ada gairah hidup"
"Gairah hidup apaan?"
"Kan ada kegiatan kalau bosan bisa nidurin dia"
"Seneng amat gitu?"
"Iya lah jadi tidak nganggur lagi atau suntuk"
"Emang pernah suntuk?"
"Ya iya lah, suntuk ya mainin Rose, bosan ya ngerjain Rose, nganggur ya buat Rose sibuk gitu"
Novan hanya tertawa mendengarkan ucapan Roy.
"Dasar perjaka tua, kawin mulu"
"Lah kau juga sama"
"Bersih lah aku"
"Bersih dari mana, mana ada?"
"Kalian ngobrolin apaan sih?"
Ucap Anita yang tiba-tiba saja muncul dari dalam dengan membawa potongan buah segar, jus dan camilan kering.
"Biasa urusan lelaki"
Ucap Novan.
"Oh"
"Aku tanya pengalaman Roy punya pacar loh An?"
"Oh ya, Roy sudah punya pacar?"
Roy hanya mengangguk sambil menyesap cerutu mahal nya.
"Eksekutif muda dia, banyak duit"
"Sembarang kau Van"
"Emang bener kan?"
"Mana ada lah, aku kan nabung dari kecil"
Anita terdiam.
"Lah emang si Roy anak angkat tuan besar Rei kan? Wajar dia beruang"
Mereka berdua saling pandang ketika Anita menyebutkan kata beruang. Sontak mereka berdua saling terbahak di kolam halaman samping itu.
"Kalian sudah gila"
Ucap Anita memandang kedua lelaki itu secara bergantian. Namun mereka memandang kearah Anita yang seakan terus menjauh, masuk kedalam rumah.
BERSAMBUNG.