
Lisa melenguh dalam pelukan William dan balutan selimut tebal yang membungkus tubuh mereka bersama.
"Sudah bangun yang?"
Lisa mendongak, mengerjakan mata nya yang masih agak lelah karena hanya malam ini bisa tertidur karena mengawasi sang adik yang sedang di rawat di rumah sakit. Mengingat papah Afar yang kembali ke rumah sakit karena harus ada pemilihan untuk kesehatan ginjal dan jantung nya.
"Sudah bangun juga kah mas?"
"Iya sayang, bagaimana tidur mu?"
"Sedikit nyenyak"
"Mungkin karena lelah jadi tidur mu nyenyak"
Lisa mengangguk lantas duduk di sofa itu.
"Masih terlalu pagi"
"Aku mau turun buat cari sarapan ke bawah"
"Pesan via online saja nanti biar kurir yang antarkan, lagi pula ada makanan eksklusif disini"
"Benar kah?"
"Ini kan rumah sakit si tuan yang sedang bergelung dalam selimut itu"
Lisa menoleh pada sepasang manusia yang masih terlelap dengan damai nya.
"Ya sudah pesan layanan eksklusif saja"
"Oke"
William tersenyum sambil mengecup bibir kenyal istri nya itu lantas menekan tombol hijau untuk pesanan makanan yang paling enak, sehat dan termahal.
"Sudah?"
Ucap Lisa.
William mengangguk dengan cepat lantas segera memeluk kembali istri nya itu.
"Aku mandi"
"Bareng yuk"
Ucap William tersenyum kepada istri nya, Lisa memutar bola mata nya jengah.
William langsung menarik tangan Lisa ke kamar mandi untuk ritual mandi bersama. Hari masih sangat pagi tapi mereka sudah mandi, William mengaktifkan ruang kedap suara di kamar mandi itu dan menulis jangan ada yang mengganggu.
William melancarkan aksi nya menggerayangi tubuh indah Lisa yang sudah tanpa busana. Ya Will juga yang melakukan nya mencopoti semua pakaian istri nya lantas mengungkung nya.
Lisa menahan setengah mati ******* nya, sementara Will sudah ******* bibir istri nya dengan lembut serta tangan nya menyentuh sisi sensitif pada istri nya.
"Kenapa menahan, ini kamar mandi kedap suara loh baby"
Will berbicara sambil mendesah sehingga suara serak-serak indah di pendengaran telinga Lisa.
Setelah mendapat berita tersebut Lisa mendesah dengan keras karena sentuhan dan juga dorongan dari William di tubuh bagian bawah nya.
Sementara air hangat mengucuri tubuh mereka berdua hampir selama 2 jam.
"Lelah"
Ucap Will yang bertanya pada sang istri karena setelah menuntaskan hasrat nya untuk yang kedua.
Lisa mengangguk, karena nafas nya masih tersengal dada nya naik turun dan itu membuat tonjolan di dada Lisa seakan melambai meminta di untuk di jamah William.
Tak menunggu lama William langsung menyedot dua buah gundukan kenyal yang besar itu, Will menyedot nya dengan rakus seperti bayi yang kehausan.
Lisa sampai sedikit mendorong dada William yang menempel pada tubuh nya, karena sedotan William yang keras membuat ****** milik Lisa agak perih.
"Kenapa?"
"Pelan-pelan"
"Abis enak, ya mau bagaimana lagi"
"Jangan kenceng-kenceng nyedot nya, nanti bisa merah"
"Tidak kok"
William melepaskan ****** istri nya lantas melihat nya jika ada yang memerah disana, William pencet.
"Tidak ada, alasan saja"
Kembali William menyedot nya kali ini bukan hanya disedot tapi juga dijilati dan di gigit William sendiri merasa gemas pada benda mungil yang menempel di dada istri nya yang bisa membuat diri nya ketagihan.
Tanpa sadar William kembali menyatukan milik nya ke tubuh sang istri dan memacu nya.
"Mas sudah siang loh"
Ucap Lisa meski terbata-bata.
"Tidak apa-apa, lagi pula kita senggang"
William mendongak, menatap sang istri lantas meneliti. Benar saja dia hampir lupa saking enak nya menunggangi tubuh Lisa.
"Udahan yuk"
"5 menit lagi ya kita muncak bareng-bareng"
Lisa mengangguk, benar saja 5 menit kemudian William menarik milik nya keluar dari tubuh inti istri nya itu.
William menggendong Lisa segera ke shower untuk membersihkan tubuh mereka berdua. Namun William terus saja mendekap Lisa hingga Lisa tak leluasa mandi.
"Lepasin dulu mas, nanti saja di rumah ya mas bisa lakukan sepuas nya"
William tersenyum memang selama ini Lisa selalu menuruti keinginan William sewaktu sudah menikah di catatan sipil.
Mereka keluar kamar mandi dengan baju yang William minta dari asisten sang Daddy.
KLEAK......
Saat mereka keluar dari kamar mandi, mereka melihat dua pasang mata yang menatap mereka dengan tajam.
"Lama sekali mandi aja sampe 3 jam loh kalian ini!"
William hanya tersenyum saja lantas tak menjawab ucapan dari adik ipar nya sekaligus sahabat nya itu.
"Maaf kelepasan!"
Andra mendengus kasar seraya menghela nafas nya yang berat itu.
Lisa hanya bisa menundukkan kepala nya, malu jelas saja karena dia membiarkan suami nya melakukan ritual suami istri di kamar mandi sejak mereka mengadakan resepsi.
"Maaf"
Tawa Rindi meledak karena tingkah Lisa seperti orang ketahuan mesum dan di grebek satu RT saja.
"Jangan di hiraukan kata mas Arvin kak, wajar dong kalian pengantin baru kok"
Ucap nya dengan lembut dan senyum yang nampak ceria.
Lisa mendongak disana bukan hanya adik ipar dan adik nya bahkan semua orang hadir bertambah malu lah Lisa kini.
"Ya ampun malu banget"
Lirih Lisa yang masih di dengar oleh William.
"Tidak apa-apa mereka pasti mengerti akan keadaan kita yang masih kejar setoran"
Bisik Will.
"Kejar setoran?"
"Iya lah sayang, aku pengen punya anak yang lahir dari rahim mu, aku sangat mencintai mu"
Lisa melihat kearah William tidak ada sorot mata kebohongan di tatapan mata itu.
Lisa terdiam, dia tidak akan bertanya pada suami nya mengapa menginginkan anak dari diri nya itu karena mereka seperti nya akan pulang pagi ini.
"Kalian jadi tidak tinggal dengan kami, Arin sudah di perbolehkan oleh dokter untuk pulang"
Ucap Andra melirik kearah Lisa dan William.
"Bagaimana sayang?"
Ucap William.
"Aku mau tinggal dengan adik ku"
Ucap Lisa lirih.
"Kami akan ikut tinggal di mansion mu sobat"
Ucap William yakin.
"Baik lah kita pulang ke mansion keluarga Mid sekarang"
Andra langsung membawa tas kecil milik nya, tas sedang milik istri nya dan mendorong sang istri dengan kursi roda nya.
"Mas aku bisa jalan loh"
Protes Rindi, namun tak Andra indahkan karena dia ingin istri nya segera sembuh.
"Tapi kamu masih dala masa pemulihan yang, ingat perut bagian bawah mu bisa sakit lagi karena terlalu banyak gerak"
Rindi hanya bisa mencebikkan bibir nya maju 5 Senti.
"Jangan di monyongin ya yang nanti aku kelepasan bukan kita ke mansion mommy tapi check in ke hotel bintang lima"
Mata Rindi terbelalak mendengar ucapan suami nya lantas terdiam sepanjang menuju parkiran.
BERSAMBUNG.