
Hari mulai senja, gerimis tiba-tiba turun dengan perlahan menambah kesejukan semilir angin. Jam kerja kantor pun selesai pada pukul 5 sore, Min segera mengemasi tas nya bergegas menuju tempat parkiran nya. Min melajukan dengan perlahan kendaraan roda dua nya, di pinggiran jalan ada pedagang kue cubit bau harum kue itu begitu terasa tanpa sengaja air mata nya berlinang mengingat sang mamah yang berada di desa xx.
"Mamah......"
Min mengusap lelehan bening di pipi nya, dia segera melajukan kendaraan nya. Rei melihat itu semua, dia hanya terdiam pikir nya gadis itu menangis karena dia bahagia bisa bersama pacar nya.
"Tuan....!"
"Jalan"
Rei tak menghiraukan nya, meski dada nya panas karena melihat air mata itu untuk sahabat nya namun mungkin Rave memiliki perasaan spesial pada gadis itu.
Min beru memasukkan sepeda motor nya ke garasi rumah, tak lama mobil Rei pun memasuki halaman.
"Selamat sore om"
Itu lah panggilan Min pada Rei ketika di villa, tidak dengan di kantor lagi pula mereka tidak akan ada kesempatan bertemu.
Rei tidak menjawab sama sekali, dia hanya bergegas masuk ke kamar nya lalu melepas baju nya hendak mandi.
Sementara Min, pergi ke kamar mandi yang kosong di lantai bawah kemudian sambil membawa baju ganti nya.
Saat Rei keluar kamar mandi, Min sudah rapi.
"Om makan malam sudah siap"
"Koki mana yang memasak?"
"Seperti biasa om, saya hanya bantu-bantu saja"
"Bilang pada mereka kita makan di luar, ganti baju mu dengan dress yang ada di lemari ku"
"Baik"
1 jam kemudian Rei sudah siap dan Min bergegas mengikuti nya.
Rei melihat gadis yang menjadi istri nya itu tidak buruk memakai pakaian seperti wanita pada umum nya. Dress diatas lutut berwarna salem tanpa lengan, hill tinggi dengan warna senada juga rambut yang tergerai indah.
Rei melajukan mobil nya membelah jalanan, malam ini malam Minggu banyak muda-mudi di jalanan sedang berkencan.
"Turun"
Min turun, mereka berdua berjalan beriringan menuju restoran. Rei sudah reservasi tempat dan makanan nya sehingga begitu mereka sampai makanan yang dipesan sudah langsung bisa dihidangkan.
Tak jauh dari sana, satu keluarga Alkatiri makan di restoran itu juga. Indi melihat sekitar, betapa kaget nya dia melihat bungsu Alkatiri makan malam dengan seorang gadis.
"Mah, lihat bungsu kita"
Indri menunjuk pada meja Rei, begitu pun Riana, Raksa dan papah mereka.
"Cepat undang mereka kesini!"
"Biar mamah yang datang kesana"
Mereka semua mengangguk, sang mamah dengan elegant menghampiri kedua orang yang ada dipojokan restoran itu.
"Ekhhmm......"
Rei mendongak karena familiar pada suara deheman itu.
"Mamah"
Mata Rei melotot, dia tidak bisa mengelak lagi.
"Ayo pindah makan malam nya sama keluarga didalam"
"Rei cum makan sebentar kok, lihat hidangan juga sudah hampir habis"
Dengan canggung Rei berbicara.
"Pelayan, bawa hidangan meja ini ke ruangan privat, saya akan membawa tamu nya masuk"
"Baik nyonya"
"Ayo!"
Sambil melotot mamah Cinta mengatakan pada anak nya agar masuk.
"Kau juga anak cantik"
"Baik"
Mereka dikawal mamah Cinta untuk masuk dan makan bersama keluarga.
Min menatap semua nya yang hadir, termasuk kakak lelaki satu-satu nya disana. Herdan merapatkan telunjuk nya pada kedua bibir nya.
"Rei, kau datang?"
"Iya pah"
"Hei, apa ini istri ku Hem?"
Rei hanya terdiam.
"Ya sudah kita makan dulu"
Ucap mamah Cinta.
Mereka 6 pasangan suami istri duduk dan makan bersama dalam satu meja.
BERSAMBUNG.