
Di ujung belahan benua lain, seorang lelaki paruh baya dengan keempat anak nya malam ini tak bisa tidur, entah apa yang membuat nya demikian. Ya lelaki itu tak lain adalah Wicaksara Rayz Alkatiri, dia turun ke ruang kerja nya, menatap foto yang diambil 18 tahun lalu itu. Aksara menyentuh foto itu yang terpampang besar di dinding, mengelus wajah putra bungsu nya yang memejamkan mata di pangkuan istri nya.
'Sudah 18 tahun nak, papah tidak pernah percaya jika kamu telah tiada'
Gumam Aksara. Seraya lelehan bening menetes dikedua pipi nya, bagaimana tak menyayat hati 7 hari setelah dilahirkan anak bungsu nya menghilang, meski ditemukan di pinggir got dekat rumah mayat nya yang gosong namun Aksa sungguh tak pernah percaya.
Anak lelaki bungsu nya itu saat masih bayi memiliki rupa yang sama persis dengan Aksara. Tetapi keempat anak yang lainnya memiliki paras seperti istri nya.
Klek......
"Pah"
"Belum tidur Raksa?"
"Belum pah, Raksa sedang memeriksa laporan"
"Oh, papah kebetulan tidak bisa tidur"
"Kenapa pah?"
"Entah lah tidak biasa nya papah seperti ini"
Aksara pergi ke taman belakang untuk berjalan-jalan menghilangkan perasaan gelisah yang melanda nya.
"Pah"
Istri cantik nya terbangun dan menyusul ke taman belakang. Aksara tersenyum dengan hangat pada wanita satu ini.
"Kenapa keluar mah, disini dingin loh!"
"Papah sendiri sedang apa disini?"
"Papah hanya tidak bisa tidur?"
Aksara membimbing istri nya untuk masuk kedalam rumah, waktu hampir dini hari di negara B jelas angin sangat dingin tidak baik untuk tulang.
Mereka kemudian masuk ke dalam kamar di lantai 2, setelah beberapa jam saja pagi sudah menyapa negara B. Pagi yang cerah dengan kicau burung, harum semerbak wangi bunga bertebaran mengikuti sepoy angin.
"Pah sudah jam 8 loh ayo bangun"
"Sudah pagi ya mah"
"Iya cepet mandi"
Secepat kilat Aksara mandi lantas memakai pakaian kerja lalu turun ke meja makan untuk sarapan bersama keempat anak nya.
"Selamat pagi pah!"
Sapa mereka berempat dengan kompak, Aksara tersenyum.
"Pagi sayang-sayang nya papah"
Mereka tampak akur, meski memiliki kesukaan yang berbeda.
"Kakak, kok makan sereal lagi?"
Semua menengok mangkuk Raksa si sulung lelaki di keluarga Alkatiri itu, RAKSA RIEFA ALKATIRI namanya.
"Bukan diet mah, tapi untuk membentuk otot"
"Umur mu masih 20 tahun kau masih dalam pertumbuhan"
Sang mamah hendak mengambil mangkuk sereal si sulung nya.
"Siang nya, Raksa makan daging 1 kilo kok mah"
Sang mamah melihat kearah suami nya.
"Biarkan kakak memilih mah, dia sudah dewasa"
Mamah Cinta meletakkan kembali mangkuk anak nya, semua anak gadis nya tertawa.
"Rieka tidak apa ya mah, kan Rieka model"
"Iya tapi harus seimbang, minum susu mu, juga daging ayam kukus mu"
"Iya mah"
Kali ini giliran Rieka yang di tertawaan adik-adik perempuan kembar nya, anak kedua pasangan Aksara dan Cinta ini RIEKA RIEFA ALKATIRI.
"Indri kok selalu makan wafel dengan selai coklat, itu tidak baik, sarapan yang sehat"
Kali ini sang papah yang berbicara pada anak perempuan ke tiga nya INDRINA MELIA ALKATIRI.
"Tapi kan Indri suka pah!"
Bibir Indriana mengerucut seperti apel kisut.
"Dia juga pah setiap hari pancake!"
Ketiga kakak nya kompak menyerang ANDRIANA MELIA ALKATIRI.
"Ria kan makan sehat pake madu"
Kelakar nya, memang anak keempat Aksara ini begitu pintar membuat orang mati kutu saja.
"Benar dia memakan pancake dengan madu, itu menambah energi otak nya"
Setiap pagi selama 18 tahun mereka akan ribut di meja makan, Aksara nampak menikmati sarapan kesukaan nya nasi goreng dengan toping telur ceplok, ayam juga sosis. Tampak lahap memakan nya, namun tanpa rasa di lidah Aksara. Sejak 18 tahun lalu rasa lidah Aksara sudah tidak ada, dia sangat sedih namun hanya dia pendam sendiri tak pernah di ungkapkan kepada siapa pun.
"Mau tambah pah?"
"Sudah kenyang sayang"
Mamah Cinta segera menyimpan piring bekas kelima orang tersayang nya
"Mamah juga mau ke butik pah"
"Kita berangkat bersama pah"
"Ayook"
Supir sudah menunggu bersama menjemput dengan Melki, biasanya mereka semua berangkat namun kali ini hanya menggunakan mobil biasa karena twins cewe tidak ikut mereka liburan di rumah.
Saat ini anak-anak sedang liburan setelah selesai dengan sekolah menengah mereka. Aksara pergi ke kantor, untuk menjalankan bisnis yang dia geluti di negara B yang terbilang sukses selama 18 tahun disana. Raksa juga mulai ikut dengan sang papah karena kuliah nya sedang libur pula, sedangkan mamah Cinta pergi ke butik nya dan Rieka ada pemotretan.
"Tuan"
Melki sudah ada dihadapan nya untuk memberikan berkas nya.
"Ada apa?"
"Kita harus ke negara Z tuan, disana ada masalah penting yang mengancam perusahaan"
"Apa tidak bisa ditunda?"
"Ini sangat serius tuan'
"Baik lah, kau dampingi Raksa menggantikan aku disini"
"Tapi anda akan sendirian kesana?"
"Tidak apa hanya beberapa jam disana"
"Baik tuan"
Melki segera berlalu dari kantor.
"Andai saja Dino masih ada mungkin tuan bisa aman ada Di o disisi nya"
Lirih Melki.
Drrtt....ddrrtttt.
"Iya pah, kenapa?"
"Mah, papah sore ini harus terbang ke negara Z, bisnis kita yang disana ada masalah"
"Apa harus papah?"
"Begitu lah"
"Baik, tapi hati-hati ya pah"
"Iya mah"
Sore hari Aksara terbang dari negara B menuju negara Z, dia hanya seorang diri lagi pula dia mengenal negara tempat istrinya di besarkan. Setelah 13 jam akhirnya sampai juga, Aksara pergi ke penthouse nya untuk sekedar mandi dan beristirahat karena jam 5 sore ketemu dengan klien.
Alarm berbunyi sudah jam 4 sore saja, Aksara memesan makanan lewat layanan kamar karena dia mau berenang dulu. setelah 1 jam layanan kamar itu datang, Aksara sudah rapi meski dengan pakaian casual nya. Dia diberi jadwal rapat itu diadakan dengan klien di sebuah resto ternama dekat toko buku.
"Apa mau nya? menyuruh ku datang hingga ke sini pada hal bisa meeting melalui video kan?"
Lirih Aksara karena dia harus terbang berjam-jam tapi setelah sampai klien yang satu ini hanya ingin meeting saja. Aksara memasuki restoran mewah bergaya modern dengan menu terjangkau ala anak muda modern, selain itu dekat dengan toko buka juga menyediakan layanan VVIP yang lengkap dan nyaman.
"Klien ku yang satu ini jelas ingin membeberkan jati diri nya"
Aksara disambut dengan megah, berbagai menu makanan disajikan. Aksara menikmati nya sambil berbincang bisnis mereka akhir nya kesepakatan terjadi. Mereka mengantarkan Aksara keluar resto namun entah dari mana datang nya seseorang lelaki menyabet dompet nya.
"Maling.....maling"
Namun tak ada respon, hingga keluar resto itu istri klien nya masih berteriak.
"Maling.....tangkap....maling mas tangkap!"
Seseorang pemuda menghampiri si maling yang berlari itu.
BUGH......
Satu pukulan tak berarti melayang hingga si maling itu tersungkur. Pemuda itu mendongak.....
Deg......
Wajah pemuda itu membuat Aksara seketika mematung di tempat. Pemuda itu hanya memberikan dompet nya tanpa niat berbasa-basi lantas pergi dengan sepeda motor matic nya. Setelah 30 menit Aksara baru sadar.
"Tuan apa anda terluka?"
Klien nya menyadarkan.
"Ohh tidak, maaf saya harus buru-buru"
Memang Aksara memesan tiket pukul 7 malam nanti, dia masih memiliki waktu sekitar 1 setengah jam lagi. Beberapa saat lalu dia ingin segera pulang ke negara B, namun saat ini dia ingin menemukan bocah lelaki tadi. Di tidak akan mungkin salah, karena hatinya mendadak bergetar.
BERSAMBUNG