
Min memandang Rei sejenak, lelaki tua di samping nya ini pantas tidak merasa bersalah sama sekali atau pun terkena tekanan batin saat berhubungan intim dengan nya. Rupa nya dia sudah menikahi diri nya sejak masih di desa xx, sungguh ironi karena Min sendiri yang merasa parno.
"Ayo masuk, nanti masuk angin kalau lama-lama di luar"
Min mengekori lelaki itu masuk kembali ke villa.
Hidangan makan malam sangat menggugah selera, ada jenis soto, juga daging yang di bumbui. Kalau biasa nya Min tidak terlalu suka yang berkuah, atau pun berbumbu.
Min mengambilkan makanan ke piring Rei.
"Mau lauk apa?"
"Ambilkan soto nya di mangkok, juga daging nya di piring, lalu beberapa sayuran nya"
Min dengan cepat mengambilkan apa yang di mau om bos nya itu.
"Apa ini soto?"
"Iya soto meskipun tanpa santan atau warna kuning, itu soto bening"
Min lebih tertarik ke soto bening karena terdapat beberapa cabai utuh yang matang. Entah itu selera siapa, tapi rasa nya sangat segar. Min makan sampai nambah sepiring nasi lagi karena sangat enak, perut nya juga tidak menolak.
'Banyak sekali makan nya!'
Gumam Rei, karena melihat Min makan seperti orang kelaparan.
"Ah, kenyang nya"
Paman James segera menghampiri mereka setelah makan.
"Tuan dan nyonya mau di kupaskan buah apa?"
"Tidak usah, aku sudah kenyang"
Ucap Rei.
"Aku jeruk yang manis tapi yang berair dan segar"
"Baik nyonya"
Paman James segera bergegas.
"Masih mau makan buah, itu soto kamu habisin semangkuk loh"
"Memang kenapa? om perhitungan sekarang!"
Nada Min ucapkan agak meninggi, entah mengapa itu menyinggung harga diri nya.
"Tidak usah di kupaskan paman James, aku mau langsung tidur"
Min langsung berdiri, kalau menuju kamar atas untuk segera beristirahat.
Paman James terdiam dia tidak mengerti situasi sekarang, karena sesaat tadi masih akur tapi sedetik kemudian terjadi pertengkaran.
"Bagaimana tuan, apa mau dikupaskan atau tidak?"
"Tidak usah nanti juga dia tidur"
Rei segera beranjak bukan nya ke kamar, tapi malah ke ruang kerja memeriksa beberapa pekerjaan nya.
Min menangis tersedu-sedu, dia sangat sedih akan ucapan Rei itu.
"Dia bukan nya menghibur ku tapi malah pergi"
Karena Min sudah menunggu selama 1 jam, dia ingin berbicara penting namun yang ditunggu juga tidak muncul.
Perut Min tidak mual tapi baru saja 1 jam lebih makan soto dengan dua porsi nasi Min sudah lapar lagi.
"Kok selera makan ku naik ya?"
Ucap Min.
"Ya mungkin karena banyak pekerjaan"
Lanjut Min.
Min segera turun ke lantai bawah menuju dapur, dia menyeduh segelas susu coklat hangat. Mengambil sedikit kue kering tapi dirasa tidak enak Min mengembalikan nya. Min melirik ada jeruk yang sudah di kupas, sangat berair dan terlihat manis.
"Seperti nya sudah di kupaskan oleh paman James"
Min mengambil nya dan memakan nya di meja dapur.
Sementara Rei sudah selesai dengan pekerjaan nya, dia bermaksud naik ke kamar nya. Namun terlihat lampu dapur menyala, dia sedikit mengintip.
"Siapa yang masih di dapur sudah larut begini"
Karena jam dinding menunjukkan angka 11.
"Hem, manis sekali"
Rei sampai melotot dibuat nya, karena wanita seranjang nya. Ada 2 gelas susu, sepiring jeruk manis tanpa biji, camilan kering, 2 iris bolu coklat.
'Baru 2 jam makan malam, sudah makan camilan, apa dia sedang sakit?'
Gumam Rei, Rei sengaja mendekati wanita itu.
"Belum tidur?"
Rei menarik kursi di meja makan, terlihat Min cemberut.
"Kenapa? aku tidak boleh makan ini kah?"
Rei terdiam, memang semua camilan dalam piring itu habis.
"Bukan begitu"
"Tenang saja, besok-besok aku tidak akan ambil"
Min berdiri dan langsung masuk kedalam kamar mereka.
"Kenapa marah? kan melarang kalau-kalau tidak di makan, tapi kalau habis ya sudah lah"
Rei juga dengan cepat menyusul istri nya masuk ke dalam kamar. Tubuh langsing istri nya sudah berbalut selimut tebal.
"Kenapa tidur seperti itu, nanti sesak nafas"
"Aku suka seperti ini, kenapa?"
"Terserah"
"Kalau kau tidak suka, aku akan tidur di sofa"
Rei terdiam tidak menjawab, lantas Min segera turun dari ranjang menuju sofa.
"Kenapa sensitif sekali?"
Ucap Rei, karena Min sudah berbaring dan terlelap.
"Sudah lah tidur saja"
Rei memejamkan mata nya, dia juga sangat lelah dengan semua pekerjaan nya.
Waktu masih sangat pagi, semilir angin begitu dingin karena dibarengi turun hujan gerimis. Rei berguling meraba sosok di samping nya, namun nampak tidak ada dan dingin. Rei duduk, dia mencoba mengingat nya.
"Ah, benar dia tidur di sofa"
Rei beranjak dari ranjang untuk segera membawa istri nya ke ranjang untuk dia peluk.
"Hah! kemana dia"
Sofa sudah kosong melompong, bahkan sudah agak dingin yang berarti penghuni nya sudah pergi sejak lama.
Rei menggerutu sendirian dengan malas lalu mandi, dia segera berpakaian kerja dan turun kebawah.
"Selamat pagi tuan?"
Paman James menyapa, lalu mempersilahkan tuan nya untuk sarapan.
"Kemana nyonya?"
"Maaf tuan nyonya sudah berangkat satu jam yang lalu, nyonya bilang tidak usah membuatkan sarapan untuk nya"
Rei menghela nafas dengan berat, rupanya istri nya itu pendendam.
"Taruh di wadah bekal"
"Baik tuan"
Rei segera pergi ke halaman, disana Aryos sudah menjemput nya.
"Selamat pagi tuan"
"Hem, bawa bekal itu, nanti di kantor berikan pada nyonya"
"Baik tuan"
Aryos mengambil bekal yang ada ditangan James. Mereka segera meluncur ke perusahaan, Rei langsung masuk ke ruang kerja nya.
Aryos segera pergi menemui Min, untuk menyerahkan bekal seperti kata tuan nya.
"Nyonya ini bekal dari tuan"
"Bawa kembali, aku sudah bawa bekal sendiri"
Min menjawab dengan acuh, sambil mengerjakan pekerjaan nya. Aryos terpaksa kembali, karena pekerja berdatangan.
"Tuan"
"Masuk"
Rei melihat Aryos dan kotak bekal itu.
"Nyonya tidak mau bekal ini, dia sudah membeli bekal sendiri"
"Panggil saat makan siang"
"Baik lah tuan"
Rei mengerjakan pekerjaan hingga tiba waktu makan siang.
Tok.....tok.....tok.
Pintu ruang kantor milik Rei di ketuk.
"Masuk"
Rei tersenyum, dia mengira jika itu istri belia nya. Namun yang muncul justru Elian.
"Kakak!"
Elian menghambur ke pelukan Rei.
"Kenapa?"
Rei bersikap dingin pada wanita yang kurang ajar dan picik itu.
"Kau tidak serius bukan akan mengeluarkan ku dari kartu keluarga?"
Elian mengiba hingga air mata nya berlinang di kedua pipi nya.
'Kau pasti akan mengampuni ku kakak'
Gumam nya dengan percaya diri.
"Memang kenapa jika aku mengeluarkan mu, itu hak ku atas dasar apa kamu berani mempertanyakan keputusan ku hah!"
Elian diam dia mundur selangkah sebab selama ini dia tidak pernah melihat amarah seorang Rei.
"Kakak aku adik mu"
Elian bersujud memeluk kaki Rei sambil menangis.
"Atas dasar apa kau mengaku sebagai adik ku, kau tentu tahu kedudukan mu yang sesungguh nya bukan?"
Rei menghempaskan tubuh sexy Elian hingga dress yang Elian kenakan sedikit melorot dari dada nya.
"Kakak aku sudah di samping mu sejak kecil, bagaimana kau Setega itu pada ku?"
"Ku juga menerima keuntungan itu, jangan lupa aku membawa mu, menetapkan mu sebagai adik ku karena aku menghormati jasa ayah mu sebagai supir kakek ku yang sangat setia"
Elian tercengang mendengar penuturan yang keluar dari mulut Rei.
"Apa dengan semua identitas mu, kau bisa bertindak sesuka hati haha!"
Elian menunduk, dia masih mengusap air mata nya.
"Aku membesarkan mu agar ku tahu diri dan menjadi orang kepercayaan ku mendampingi ku, bukan membuat onar kesana kemari dan mengganggu istri ku"
Ucap Rei berapi-api.
"Kau salah kakak, kau memang tuan ku tapi aku tidak ingin menjadi orang kepercayaan mu yang hanya mendampingi mu saja, aku ingin menjadi milik mu menyerahkan semua diri ku, tubuh ku juga raga dan jiwa ini"
Rei memandang dingin pada Elian.
"Aku bersedia mendampingi dan menjadi pemuas nafsu mu tuan ku, aku tahu aku tidak pantas maka jadikan saja aku ****** mu, aku tidak akn keberatan, aku akan melayani mu sepenuh hati ku"
"Ha....ha, kau ingin menjadi ****** ku, apa kau pikir diri mu sebersih itu?"
Deg.......
Jantung Elian berdetak kencang, dia menundukkan kepala nya.
"Saat kau berumur 17 tahun, kau pergi ke hotel untuk menyerahkan diri mu pada seorang pria dengan identitas anak pejabat, umur 20 tahun kau mengadakan pesta *** di malam kelulusan mu yang pertama di universitas, apa kau pikir aku bodoh dan mau memakai barang bekas?"
Rei menjambak rambut Elian.
"Ahh, kakak kau tahu semua nya? lalu kenapa kau diam saja?"
"Itu hak mu, bukan hak ku, anjing yang setia pada tuan nya tidak akan membuat diri nya pincang hanya untuk berebut belas kasihan dengan anjing liar"
Mata Elian membola, diri nya disamakan dengan anjing, rupa nya hanya diri nya yang menganggap tinggi diri nya sendiri.
"Jangan mencampuri urusan ku, terlebih lagi mengacau seperti anjing gila"
Rei sudah di duduk di sofa.
"Pergilah sejauh mungkin atau kau ingin kembali ke negara tempat mu berkuliah"
Elian bangkit, lalu mengangkat wajah nya.
"Arei Rafiensah Alkatiri, seorang lelaki yang menyandang dua nama keluarga besar, raja bisnis yang kejam dan sombong. Aku sama sekali tidak pernah menduga kau akan tunduk pada seekor tikus betina"
Rei mengernyitkan alis nya, lantas tersenyum devil.
"Kau kira yang kau dapatkan sekarang adalah cinta, kau memungut istri seperti memungut sampah, apa kau sudah mengatakan pada istri lugu mu jika ayah nya pernah membunuh kakek dan nenek Aryandy, memperkosa kekasih yang sangat kau cintai lalu menyiksa dan membunuh nya, belum lagi menenggelamkan kakak perempuan pertama mu kedasar samudera hanya demi harta"
PRRAAANNGG........
BERSAMBUNG.