TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
EPS.48.


Seminggu sudah Haris terbaring di kamar rawat rumah sakit, dia bernafas, dia tidur, dia memakan suapan yang diberikan sang mamah tercinta.


"Kak cepat sembuh"


Ucap Sheyla, lantas mengelus tangan sang kakak dengan lembut. Dia menjawab dengan anggukan dan kedipan mata seolah tak terjadi apa pun. Namun setelah sang mamah berlaku pergi, air mata Haris mengalir. Sheyla mengusapnya dengan lembut, memeluk hangat sang kakak bahkan Sheyla rasakan tubuh itu tak berjiwa sama sekali.


"Yang sabar kak, jangan seperti ini hiks...hiks, Shey tidak mau kehilangan kakak, maaf Shey pernah membentak kakak"


Ucap Sheyla pelan.


Dia mengelus wajah sang kakak tersayang nya.


"Aku ingin kakak bangkit, aku ingin kakak mencari kak Rista bukan terpuruk seperti ini kak"


Haris menundukan kepala nya, terdiam entah ada apa di pangkuannya itu.


"Aku ingin kakak berjuang, berjuang memperjuangkan cinta yang kakak inginkan, bangkit lah"


Haris mengangguk lemah lalu tersenyum tipis. Semua keluarga berkunjung setelahnya, terlihat sangat ramai namun bagi Haris itu sebuah kehampaan.


Namun di desa dekat pegunungan yang asri, sejuk lagi indah seorang wanita tengah berbadan dua menginjak 4 bulan sedang menikmati teh pagi nya. Tersenyum manis dan semakin cantik saja meski kini dia bersama janinnya itu. Ya wanita itu adalah Rista istri dari Haris Dimitri yang pergi dari rumah sang suami seminggu lalu, disaat pagi buta bahkan ketika semua orang masih terlelap dalam selimut tebal nyaman mereka tapi Rista melakukan perjalanan nya sendirian bukan bukan sendiri tapi bersama janin mungilnya. Karena baru tadi pagi Rista mendapat tendangan kecil dari si kecil didalam perutnya itu, begitu pun ketika ia mengelus perutnya seolah merespon nya.


"Kesayangan mamah!"


Ucap Rista sembari mengelus perutnya, seketika didalam perutnya sedikit bergerak.


"Masih bobo ya, atau baru bangun?"


Sungguh Rista begitu bahagia, meski kadang dia juga merindukan pelukan suaminya. Walau Rista menghubungi Cinta menanyakan kabar lelaki itu. Namun jika takdir Rista sendirian mengurus buah hati mereka tentu ia tak keberatan.


"Perasaan ku tidak enak 2 hari ini"


Drrtt..ddrrttt.


belum selesai Rista berbicara pada dirinya sendiri, namun ponsel disaku nya sudah bergetar.


"Cinta .."


Rista bergumam ternyata yang menghubungi nya adalah sepupu cantik nya.


"Kakak"


"Iya cantik"


"Ada berita tak enak, apa kakak mau dengar?"


"Iya"


"Kak Haris masuk rumah sakit, dia ditemukan tergeletak di lantai ruang kerjanya di rumah"


Lirih Cinta, dan itu sukses membuat hati Rista teriris seketika.


Cinta menunggu balasan ucapan dari kakak sepupu wanita nya, namun Rista hanya menarik nafas saja. Sudah barang pasti Rista terpukul, meski kadang Rista ingin lelaki itu sadar namun bukan menginginkan ayah dari janin nya menderita.


"Aku juga ikut menengok nya sekarang aku berada di balkon rumah sakit"


"Iya"


"Baik lah kak, Cinta tutup dulu ya"


Tut....


Rista terdiam, air matanya seketika mengalir, dia terisak di bangku itu sendirian. Meski udara nampak masih sangat sejuk namun terasa sesak bagi Rista.


"Bagaimana?"


Tanya Aksara, setelah sang istri mematikan sambungan ponselnya yang baru saja terhubung dengan kakak sepupu nya.


Cinta menunduk lantas menggeleng.


"Ya sudah, kita sudah berusaha yang terbaik, ayo kita masuk"


mereka memasuki kamar rawat inap milik Haris. Haris melihat sepasang suami istri itu, Haris bergerak dan tiba-tiba berlutut dihadapan Cinta. Sontak Cinta mundur, karena kaget.


"Cinta tolong berikan kakak kesempatan, sungguh tidak ada niat sedikit pun untuk menghindari nya atau pun menyakitinya"


Haris berkata dengan lirih juga menundukkan kepalanya.


"Tolong kakak Cinta"


Haris sampai melipat tangannya di dada dihadapan Cinta.


"Cinta sudah memberitahukan kondisi kakak, tapi Cinta tidak bisa menjamin kak Rista buat pulang"


Haris mengangguk dengan cepat.


"Terimakasih Cinta"


Cinta pun mengangguk.


"Sudah jelaskan kami sudah membantu mu, tapi semua keputusan ada ditangan nya"


Haris tersenyum.


"Boleh kah aku berbicara dengan nya sebentar saja"


"Tapi kak, nanti kak Rista syok, dia kn sedang hamil"


Cinta mengangguk.


"Kakak hanya mendengarkan suaranya saja, kakak tidak akan berbicara pada nya"


"Baik lah"


Cinta menghubungkan ponselnya dengan ponsel sang kakak diseberang sana.


"Halo....Cinta"


Haris segera menuju balkon kamar rawat inap ya.


"Kenapa menelpon lagi, kakak sudah dengar apa yang kamu katakan"


Haris mendengarkan dengan seksama, sungguh hatinya begitu berbunga bunga mendengarkan suara sang istri. Meski suara itu serak, dapat dipastikan istri cantik Haris baru habis menangis.


"Maaf Cinta, kakak masih mau mempertimbangkan nya untuk pulang"


Dirasa tak ada sepatah kata dari Cinta, itu sangat janggal karena adik cerewetnya pasti akan mengomel.


"Cinta kamu masih disana?"


"Iya ayy........"


Suara itu Rista begitu mengenalinya, itu suara suaminya.


"Si .....siapa ini?"


Tanya Rista, suara nya setengah bergetar.


"Ini mas....."


"Siapa, aku tidak kenal"


Gugup itu yang dialami Rista disana.


"Sayang kamu tidak mengenali mas mu lagi"


Tut......


Rista langsung mematikan sambungan ponselnya. Haris terdiam, wanita nya menolak nya kali ini, pergi menjauh bahkan tak ingin mendengar suaranya sekali pun. Air mata Haris tumpah, bahkan bahu nya bergetar. Aksa segera meraih pundak dengan tubuh kurus itu, merangkulnya layaknya seorang kakak.


"Bersabar lah"


Haris mengangguk.


"Maaf aku berbicara pada nya"


"Tak apa, memang kalian butuh bicara"


"Dia menolak ku kak!"


"Bersabar lah"


"Tapi aku rindu kak, aku rindu sekali"


Aksa hanya menghela nafasnya saja, tapi memang suami istri harus tinggal bersama. Dia juga tidak bisa untuk jauh dari istri cantik nya, meski harus memanjat jendela setiap malam sekali pun.


"Kau juga memanjat jendela setiap malam untuk tidur disisi istri mu"


"Apa!"


Itu ucapan mommy Diah, yang membawakan makan siang untuk mereka semua.


"Jadi kau memanjat jendela setiap malam demi tidur disisi istri mu?"


Sambil menjewer Aksa menuju kamar rawat dari balkon.


"Mom, mom sakit mom"


"Biarin, kan sudah dibilang hanya beberapa bulan, ini malah tiap malam"


Semua yang berada disana tersenyum, termasuk Haris.


"Mom, Aksa kn tidak bisa tidur sendiri, Aksa kan sudah punya istri, lihat Haris saja mau punya bayi, Aksa juga ingin"


Semua saling pandang, Haris mengangguk. Papah Alan menghubungi seseorang untuk melacak keberadaan Rista menantunya.


"Kau membiarkan calon cucu papah pergi jauh selama seminggu?"


"Maaf pah, semua diluar kendali Haris"


"Lelaki bodoh, sudah tahu istri mu pergi membawa milik mu yang berharga, mengapa sakit sakitan begini, lemah kamu"


Haris hanya menunduk.


"Lindungi istri mu, karena dia sudah ada digenggaman mu, anak yang ada didalam kandungan istri mu adalah senjata mu, ayo semangat boy"


Ucap papah Alan berapi api.


Daddy Ditya hanya tersenyum masam saja, karena pada kenyataannya Daddy Ditya lah yang menemani adiknya melahirkan kedua putra putri mereka. Sedangkan sang suami ada proyek di luar negeri.


BERSAMBUNG.