TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
EPS.51


Mommy Diah sedang meminum teh hangat nya sambil menunggu putra tunggal serta menantu nya memadu kasih. Memang benar tidak bisa seorang suami berpisah dari istrinya, demi apa pun tindakannya memang salah.


"Dasar anak nakal ini seenak nya saja, nanti istrinya tidak patuh dia mengomel pada ku!"


"Apa yang membuat mommy kesal sih? sampai menggerutu begitu?"


Mommy Diah hanya diam, sementara Daddy Ditya hanya tersenyum lantas menggelengkan kepalanya.


"Mommy tuh lucu, suami istri kok di tunggu sih"


Sambil menyelesaikan sarapan daddy Ditya berlalu untuk pergi ke kantor.


"Ihh si Daddy kok malah ngeledek mommy sih!"


Mommy Diah mencebikkan bibir nya.


"Selamat pagi oma"


"Eh pagi sayang"


Seorang bocah lelaki berusia 7 tahun naik ke meja makan, mengoles selai ke rotinya.


"Kamu mau sekolah?"


"Iya Oma"


Bocah lelaki cilik itu tersenyum dengan manis memamerkan deretan giginya yang mulai ompong.


"Selamat pagi mom?"


"Pagi Cath"


Mereka ibu dan anak duduk bersampingan sambil menikmati sarapan hingga Cath dan Ahaaz selesai dan pergi ke sekolah.


"Belum juga turun"


Sang mommy yang bosan menuju ruang keluarga, menonton acara kesukaannya. Hingga jam 10 siang terlihat pasangan itu menuruni lantai 2, dengan putra tunggalnya yang tersenyum manis sambil menggandeng istrinya. Nampak mereka bercanda ria, sangat harmonis. Pemandangan itu membuat sang mommy sangat bahagia, apa lagi yang diinginkan orang tua selain melihat anaknya bahagia. Sepasang suami istri itu, menuju meja makan lantas menghabiskan sarapannya.


"Mom"


"Kau tidak kerja?"


"Tidak ada agenda di kantor, jadi kami akan pamit untuk berjalan keluar sebentar"


"Pergi lah"


Dengan gembira Aksara tak melepaskan jari jemari sang istri, lantas mereka segera bersiap untuk menuju tempat tujuan mereka.


Sementara seseorang yang hendak masuk memasuki rumah utama Alkatiri itu terhenti di depan pintu. Tangannya mengepal, meremas rok ketat berbahan span itu.


'Brengsek, mereka sudah direstui untuk bersama, aku tidak rela, lagi pula kenapa wanita tua itu mengendur'


Ucap wanita itu yang tak lain adalah Karenina.


Niat awal Karenina berkunjung ke rumah utama Alkatiri adalah ingin mengunjungi nyonya rumah, dengan demikian dia terlihat perduli pada wanita paruh baya alias nyonya rumah keluarga Alkatiri. Jadi dia bisa menjadi kandidat kuat menjadi nyonya muda di rumah konglomerat itu.


Dengan gerak cepat Karenina segera kembali ke mobilnya yang berada diluar gerbang, dia segera meluncur ke jalan raya untuk melaporkan semua info yang baru saja di dapat nya.


"Aku harus melaporkan pada kak Cath, aku haru mengumpankan nya"


Ucap Karenina.


Sedetik kemudian ide licik nampaknya sudah muncul di otak nya, dia tersenyum miring karena pasti keberhasilannya sempurna.


"Aku memang cerdas!"


Karenina segera membanting setirnya menuju gerbang sekolah dasar yang nampak elit dengan penjagaan beberapa security. Dia nampak ditanyai beberapa pertanyaan, namun Chat segera menghampiri dirinya itu.


"Kak"


"Ada masalah apa kau kesini?"


"Urgent"


"Ayo ke mobil ku"


Karenina nampak berjalan dibelakang Cath, memasuki mobil milik Cath.


"Katakan!"


"Mommy sudah menyetujui hubungan mereka, ruang gerak kita semakin sempit"


"Apa kau yakin"


"Aksara meminta ijin membawa istrinya pergi untuk jalan"


"Baik lah"


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Tunggu bagaimana mereka mengambil tindakan baru mereka, baru kita bertindak"


"Hanya begitu?"


Cath mengangguk, karena bila dipikir sudah tidak ada celah, meski dia tidak mau dikalahkan oleh anak kecil.


Sementara Aksara membawa istrinya, dia tidak pernah melepaskan tautan jarinya dengan jari sang istri.


"Om lepas ihh malu tau"


"Kenapa harus malu"


"Kan di tempat umum om"


"Ini kan ramai, lagi pula kita suami istri, setiap malam juga berpegangan"


Mata Cinta melotot.


"Om mesum"


"Justru kamu yang mesum sayang"


"Kok bisa aku?"


Cinta menunjuk pada dirinya sendirinya.


"Iya karena kamu berbisik pada ku ditempat umum"


Ucap Aksara sambil menoleh hidung bangir milik Cinta, wanita kecil milik Aksara ini begitu cantik.


"Jangan liatin Cinta terus om, nanti makin cinta loh"


Aksara mengecup pucuk kepala istrinya, mengelus surai panjang legam itu.


"Mau beli apa?"


Cinta menggelengkan kepalanya, bergelayut manja pada lengan suaminya. Mereka nampak serasi sekali, Aksa dengan pakaian kasual kaos yang dipadu dengan jaket lelaki juga celana selutut sangat membuat usia nya nampak lebih muda. Karena untuk menyesuaikan dengan usia Cinta yang sangat belia.


"Om kenapa gak pakai jas?"


"Kita dimana?"


"Di mall"


"Saya tidak sedang meeting sayang buat apa pakai pakaian formal?"


"Tapi kan terlihat lebih muda dan ganteng banget"


Sontak Aksara memandang kearah istrinya, seraya tersenyum manis.


"Ihh om, jangan tersenyum"


"Iya sayang"


Merek sangat mesra, sementara dipojok barisan food court seorang wanita meneteskan air matanya.


'Seharusnya aku yang disisi mu, bukan gadis kecil itu, seharusnya kita bahagia Aksara bukan hanya kamu'


Ucap Cath yang sedang berada ditempat yang sama.


"Bagaiman kak, kau percayakan?"


Cath mengangguk.


"Hapus air mata mu, kita tidak boleh lengah atau mengalah pada gadis licik itu"


Cath hanya kembali mengangguk, lantas menuju ke tempat Ahaaz bermain.


"Bagaimana kalau kita kesana?"


Cinta hanya mengangguk.


Mereka menuju toko perhiasan, memilih sepasang cincin juga lainnya.


"Bagaimana? mana yang kau suka?"


"Yang ini simple juga sederhana tapi ini indah"


Aksa tersenyum, memang model itu pesanannya namun ingin sang istri sendiri yang memilihnya.


"Apa jelek?"


"Sangat bagus, sini"


Aksa membawa istrinya mencoba kalung yang di design nya.


"Ini bagus sekali"


"Jangn dilepas ya"


Cinta mengangguk dengan patuh, Aksara sangat menyukai sikap istrinya. Bukan karena usia tapi dia lebih dewasa, lagi manja.


"Om"


"Iya"


"Cinta laper"


"Ayo kita makan dulu"


Mereka memesan makanan untuk dua orang, duduk berhadapan.


'Kebersamaan kalian tak akan lama'


Gumam Karenina dalam hati.


Setelahnya, mereka keluar dari pusat perbelanjaan itu. Mereka menuju kawasan pantai yang sepi meski hari masih sangat terik namun banyak nya pohon kelapa membuat terasa sejuk dengan yang semliwir bergerak kesana kemari.


"Suka?"


"Indah sekali"


"Tentu saja, ayo kita duduk di saung itu"


"Kenapa tidak main air?"


"Masih terik, nanti kulit mu terbakar"


"Baik lah"


"Mau pesan apa?"


"Masih kenyang"


"Camilan, es kelapa?"


"Nanti saja om"


"Baik lah sayang"


Aksa menggelar tikar yang disediakan penyewa dekat pantai, lalu mereka berdua duduk bersebelahan.


"Om angin nya segar sekali ya"


"Iya"


"Apa om bisa berjanji, tidak akan meninggalkan Cinta sampai kapan pun"


Aksa melirik istrinya, pertanyaan itu terdengar ngawur pikir Aksara.


"Janji"


Namun Aksa menautkan juga jari kelingking nya, melihat itu Cinta tersenyum manis karena om suaminya sudah berjanji padanya.


"Janji tidak akan mencintai wanita lain selain Cinta?"


"Janji, sayang"


Cinta tergelak dan akhirnya Aksara pun ikut tertawa.


BSERSAMBUNG.