
Oma Mandy pun segera turun selesai dengan obrolan nya dengan putri satu-satunya itu. Dia memasak semua makanan kesukaan si kecil dan opa nya.
Arvino si bocah lelaki kecil itu menggeliat, dia segera turun dari tangga menuju ke dapur karena saat ini pasti Oma nya itu sedang memasak.
"Oma.....!"
Sang Oma kaget karena suara kecil itu sudah nyaring ditelinga nya.
"Sayang nya Oma sudah bangun ya?"
Dengan segera Oma Mandy membuka Appron yang melekat di tubuh nya ketika memasak.
"Oma kok tinggalin Vino waktu Vino bobo"
"Kan Oma harus masak makanan"
"Kan ada nenek"
Arvino biasa memanggil koki atau pelayan wanita dengan sebutan nenek dan kakek untuk koki lelaki dan pelayan lelaki, tukang kebun, supir bahkan satpam sekali pun. Semua pekerja di keluarga Mid tidak ada yang marah bahkan sangat suka dengan panggilan dari bocah kecil nan tampan itu.
"Kan perlu arahan dari Oma, sayang"
"Oma Vino masih kecil loh, nanti kalau mommy pulang Arvino laporin sama mommy"
"Ha....ha"
Oma Mandy tertawa, seraya mencubit hidung mancung milik cucu nya itu yang mirip dengan opa nya itu.
"Oma jangan tertawa ya!"
"Habis nya kamu lucu kalau marah tambah ganteng"
"Memang adek paling ganteng"
"Dih percaya diri nya gede banget"
Arvino tertawa menampilkan deretan gigi putih nya itu.
"Oma masak semua makanan kesukaan adek sama opa"
"Oke deh, adek akan makan"
"Janji gak nangis lagi"
"Janji, janji lelaki"
"Itu untuk opa"
"Oh iya lupa ya Oma"
Oma menemani sang cucu makan malam duluan, bocah itu makan dengan lahap yang disuapi oleh pengasuh nya.
"Oma kapan ayah Andreas akan datang?"
"Memang ayah ada janji?"
"Nggak"
"Lalu"
"Adek tanya aja"
"Adek jangan nakal ya!"
"Adek kan kesepian tidak ada mommy"
"Iya tapi ayah Andreas itu sedang kerja, sayang tidak boleh asal panggil"
"Kata ayah, adek boleh panggil ayah kapan pun, ayah Andreas kan baik Oma"
"Iya ayah mu memang baik"
"Jadi boleh panggil ayah ya Oma?"
"Jangan dong"
Bocah lelaki kecil itu berlalu ke halaman belakang, diikuti salah satu pengasuh nya. Sang Oma hanya menatap iba pada cucu lelaki nya itu, dia tidak bisa berbuat apa pun karena anak perempuan nya tetap bungkam akan latar belakang ayah dari Arvino.
Menjelang sore, Arvino sudah mandi karena puas dengan acara main nya di taman belakang rumah.
Saat makan malam, opa sudah pulang dari kantor. Andreas memarkirkan mobil nya dipekarangan rumah keluarga Mid, sudah dua tahun lebih sejak bayi mungil lelaki yang tampan itu lahir Andreas seolah adalah seorang lelaki yang memiliki seorang putra.
"Selamat malam"
Arvino yang mendengar suara yang familiar itu segera keluar dari ruang keluarga menuju ruang tamu.
"Ayah......!"
Jeritan Arvino membuat seutas senyum Andreas terbit, lelaki itu berjongkok untuk bisa di peluk oleh bocah kecil itu.
"Hei boy, belum tidur?"
Arvino menggelengkan kepala kecil nya, nampak dari sudut mata nya ada kesedihan.
"Lelaki tidak boleh menangis ya"
Arvino terdiam kepala nya sengaja di selipkan ke punggung lebar milik Andreas.
Andreas menatap kedua orang tuan Min yang juga menyambut nya.
"Dia sedang rindu mommy nya, dari pagi ngotot mau telpon ayah terus"
"Kenapa di cegah mom"
"Tidak apa mom, Andre tidak keberatan kok"
"Ya sudah ayo kita makan malam dulu sekalian bawa bayi manja itu"
"Iya mom"
Mereka berempat makan malam dengan lahap dan tenang. 2 jam selanjut nya Andreas mengajak Arvino masuk ke dalam kamar nya untuk menemani bocah lelaki itu tidur.
Selesai menidurkan bocah dua tahun itu, Andreas segera turun ke lantai bawah disana sudah ada sepasang paruh baya.
"Belum istirahat Tante, om?"
Mereka berdua yang Andreas sebut itu menoleh.
"Duduk lah dulu nak!"
Oma Mandy segera menyambut Andreas.
"Jangan urus anak itu lagi, pikirkan masa depan mu, kemarin malam mamah mu datang agar kami mau melepaskan mu"
Oma Mandy terdiam sejenak, dia juga tidak enak berkata demikian pada Andreas.
"Aku mengerti Tante, tapi ini kehidupan ku yang mencakup pribadi ku lagi pula aku sudah mewariskan kedudukan pewaris pada Rio"
Ungkap Andreas.
"Kedua orang tua mu menginginkan garis keturunan mereka berlanjut"
Opa Jorge menyela percakapan sang istri dan teman anak tunggal mereka.
"Baik, saya mengerti"
Andreas nampak lesu setelah keluar dari kediaman keluarga Mid.
Pagi hari bocah lelaki kecil itu bangun dan langsung bergegas menuju lantai bawah. Selama 2 bulan di musim panas play group yang di diami Arvino itu libur.
"Oma!"
"Sudah bangun cucu Oma, ayo sarapan dulu sayang"
"Ayah kemana Oma?"
"Tentu pulang ke rumah nya"
"Memang kenapa Vino cari ayah"
Opa Jorge baru saja keluar dari rumah kerja karena ada sekertaris nya yang datang di hari libur ini.
"Kan dia ayah nya Vin, Opa"
"Tapi ayah mu sibuk, Mas"
"Tapi Vin kesepian semenjak tidak ada mommy disini"
Bocah kecil itu langsung menundukkan wajah nya, sudah barang pasti menangis karena keinginan nya akan di tentang oleh orang dewasa.
"Kalau ayah mu tidak sibuk pasti akan berkunjung kemari"
"Apa benar opa?"
Sang Opa mengangguk di kursi seberang meja itu, sambil mengambil nasi goreng sarapan pagi kesukaan nya.
"Mas tidak mau nasi goreng?"
Vino hanya menggelengkan kepala nya.
"Biasa nya paling suka"
Kini sang Oma yang bertanya, namun cucu lelaki mereka yang tampan itu hanya terdiam saja.
Sementara Andreas sedang termenung di teras rumah sang papah nya.
Puk......
"Tumben lesu, apa Arvino sudah tidak ingin bertemu dengan mu?"
Andreas menggelengkan kepala nya.
"Lantas?"
"Mamah bicara sama Tante Mandy pah, dia melarang Andre menemui Vino"
"Huh, mamah mu juga ada benar nya, kamu memerlukan penerus"
"Tapi itu semua sudah Andre serahkan pada Rino pah"
"Itu bukan alasan nak!"
"Entah lah"
"Kau terlalu terpaku pada anak gadi tunggal keluarga Mid itu, mereka tidak memberi mu kepastian akan status mu"
"Tapi aku bahagia dengan semua ini pah"
"Berpikir lah kembali dengan baik Andreas"
"Aku ada perjalan bisnis ke negara Z lusa, aku akn berpikir lagi nanti, aku ingin menenangkan diri"
Andreas langsung berjalan menuju kamar nya yang terletak di lantai paling atas, dia ingin merenungkan semua perkataan orang-orang terhadap nya. Dia juga ingin melangkah maju namun dia tidak bisa meninggalkan ibu satu anak itu apa lagi anak lelaki kecil itu sangat menggemaskan.
BERSAMBUNG