
Pagi yang cerah disambut kicau burung yang merdu, Rei begitu kedinginan. Dia melenguh menarik selimut nya, kepala nya masih berat.
Dia meraba sisi bagian lain nya, harum tubuh nya tidak seperti biasa nya. Dia heran, namun masih memejamkan mata nya, sedetik kemudian Rei ingat semalam dia menghadiri reuni kampus nya. Dengan paksa Rei membuka mata nya, benar saja ini bukan kamar nya. Rei melirik ke samping mata nya melotot karena wanita yang tertidur tanpa busana bukan istri nya.
'Brengsek'
Umpat Rei, Rei menelpon Aryos dengan segera.
"Ke club xxx, nomor kamar xxx"
Sambungan dimatikan, lantas Rei mandi 1 jam kemudian dia telah bersih dari kuman, dia keluar menggunakan handuk mandi saja.
"Tuan"
Aryos datang dengan sejumlah pengawal pribadi pilihan.
"Kakak"
Di pojokan Elian berteriak.
PLAAKK.......
"Lancang!"
Aryos menampar wanita yang tanpa busana itu, dia jijik dengan wanita murahan yang sudah tuan nya besarkan.
"Bawa ke markas"
"Kak, aku sudah berkorban untuk mu aku sudah menyerahkan diri ku semalam"
"Dan aku tidak meminta mu"
"Kak, aku menyukai mu sejak kecil, aku melatih diri ku dengan apa pun di dunia ini"
Rei hendak melangkah tapi terhenti dan berbalik.
"Yos, angkat rahim nya"
Mata Elian membulat sempurna.
"Kak, aku ingin memiliki pewaris dengan mu"
"Itu lah tujuan mu bukan, jadi jangan mendebat"
Elian tersenyum sinis.
"Kau akan menyesal dengan semua tingkah laku mu"
Rei mendelik kesal, Elian hanya tersenyum smirk bagaimana pun dia akan menang dan selalu menang dalam hal apa pun. Meski Rei adalah tuan nya, tapi hanya dia yang pantas bersanding dengan Rei bukan wanita tidak jelas dari desa itu pikir Elian.
Rei kembali ke kantor dia melihat Min sedang bekerja serius seperti biasa nya. Rei masuk ke ruangan nya, dia begitu kesal.
"Permisi nona?"
Min mendongak ternyata scurity depan pintu masuk kantor mendatangi nya.
"Oh ada apa ya pak?"
"Ada paket eksklusif untuk anda, tolong diambil di kurir dekat resepsionis"
"Oh baik lah"
Min melangkah keluar untuk mengambil bungkusan eksklusif itu. Min kembali bekerja untuk meneruskan pekerjaan nya, hingga makan siang. Makan siang Min di ruang kerja nya saja, karena Min selalu membawa makanan sehat serta susu hamil meski pun diminum secara diam-diam.
"Ini paket apa ya?"
Min membuka nya di bawah kolong meja, sebuah box mewah. Mata Min membulat setelah membuka box yang cantik itu foto juga alamat email yang harus dia klik di ponsel nya.
Min terdiam setelah melihat semua nya, dia segera merubah wajah nya menjadi seperti semula. Min pergi ke ruang asisten petinggi perusahaan, siapa lagi jika bukan Aryos.
Tok.....tok.....tok.
"Masuk"
"Selamat siang pak"
"Siang nyonya, ada apa mencari ku?"
"Bisa antar saya ke ruang pak CEO?"
"Mari"
Aryos juga bingung hari ini, nyonya istri dari tuan nya berkata sangat formal lagi sopan. Meski pun tidak terlalu dekat dengan wanita itu, tapi selama ini dia sudah bersikap baik.
Tok.....tok.....tok.
"Masuk"
Aryos masuk sebentar, lantas keluar lagi.
"Silahkan nyonya masuk, tapi hanya sebentar saja, karena tuan sedang sangat sibuk"
"Baik, terimakasih"
Min segera masuk ke ruang kerja suami nya, lelaki itu memang sangat terlihat sibuk. Rei mendongak karena ada langkah kaki masuk, dia melihat istri nya.
"Duduk"
"Selamat siang pak CEO, saya hanya mau membagikan paket eksklusif untuk anda dari seseorang"
"Siapa?"
"Entah lah, silahkan anda buka, mungkin anda tahu siapa pengirim nya"
Min tidak duduk dia masih berdiri setelah memberikan box warna hitam itu.
"Maaf saya permisi, saya mau makan siang"
Rei tidak menjawab, wanita itu aneh hari ini sangat sopan dan formal. Rei segera membuka nya, ada nama pengirim nya, mata Rei membulat sempurna dia begitu terkejut dengan nama pengirim nya. Apa lagi barang serta rekaman adegan yang Rei lihat itu, Rei menggertak gigi nya melihat itu.
"Wanita brengsek"
"Dia berani melawan ku"
Seru nya di kantor.
BBRRAAKKK......
Sang mamah wajah nya nampak merah padam, dia sangat marah dan melempar semua foto ke wajah Rei.
"Apa itu?"
Rei hanya diam menunduk.
"Kau dan dia mencemari keluarga besar kita, ini aib, sudah ku bilang taruh gadis itu di panti asuhan tapi kau bersikeras memasukan nya ke keluarga kita"
"Mah.…..."
"Bagaimana perasaan Jasmin hah!"
Rei hanya bisa menundukkan wajah nya dengan tanpa menjawab semua Omelan sang mamah.
"Kau sudah punya satu istri Rei, ingat kau tidak boleh berselingkuh"
"Iya mah"
Sang mamah terdiam sebentar meredakan emosi nya.
"Mamah pamit pulang"
"Mau Rei antar?"
"Tidak perlu, mamah ada supir, papah mu juga nanti sore mau berobat"
Rei hanya bisa memandangi punggung sang mamah yang sudah menghilang kedalam lift.
"Dia membuat kegaduhan ini"
Tak terasa jam pulang kerja, Min segera bergegas pulang menuju motor nya, bergegas menuju ke villa. Dia segera memasak makan malam dan menyimpan nya di kamar lantas mengunci nya.
Min mandi terlebih dahulu, sambil mengelus perut nya yang masih rata. Min sangat suka sekali dengan kegiatan nya setelah lelah bekerja, dia akan berbicara dengan janin kecil nya. Selesai mandi, 1 jam kemudian dia memakan makan malam nya, meminum susu hamil nya.
Tok.....tok.....tok.
"Masuk"
"Tuan makan malam sudah siap"
"Apa nyonya sudah di ruang makan?"
"Nyonya sudah membuat makanan sehat nya sendiri, kata nyonya sedang diet, tuan"
Rei melihat James, dia terdiam apa mungkin wanita itu belum memberitahu orang lain tentang kehamilan nya.
"Dia tidak menyuruh kalian membuat makanan, camilan atau yang aneh-aneh begitu?"
"Tidak tuan, nyonya biasa saja, meski berat badan nya agak naik 3 kilogram Minggu ini"
"Baik lah, aku segera turun ke meja makan"
Paman James segera pamit untuk bersiap menghidangkan makan malam. Rei memakan makan malam nya dengan khidmat, meski sesekali dia melihat kearah pintu kamar tamu utama dimana sang istri beristirahat malam disana.
'Apa dia makan dengan benar?'
Rei bergumam, berharap pintu itu terbuka.
Min langsung tidur setelah makan malam, dia lupa tidak mengambil air minum hingga tengah malam dia kehausan.
Klek.
Min keluar dari kamar nya menuju dapur, mengambil air dingin dari lemari pendingin menuangkan nya ke gelas. Min duduk dengan meminum segelas air putih nya.
Min menoleh karena ada langkah yang mendekat.
"Belum tidur?"
"Sudah, baru kebangun karena haus"
"Oh, bagaimana dia?"
Min tahu jika Rei menanyakan janin yang ada diperut nya.
"Dia sudah tertidur"
Min lantas bangkit dari kursi nya.
"Min"
Min berhenti menunggu kata-kata suami nya selanjut nya.
"Apa bisa kita mulai dari awal?"
Min terdiam.
"Tanpa siapa pun?"
"Termasuk anak ini kah?"
"Benar"
"Kenapa?"
"Karena aku belum siap"
"Lalu?"
"Gugurkan dia!"
BERSAMBUNG