
Min tidak bisa memejamkan mata nya semalaman. Meski Rei menyuruh nya untuk istirahat, gadis itu bukan sekedar khawatir akan kondisi sang mamah namun kondisi setelah selesai operasi. Tepat pukul 5 pagi Min segera mencuci muka, bergegas ke dapur melihat bahan makanan apa saja yang bisa dia masak.
"Masak gulai ayam, tumis kangkung sama tahu tempe saja lah"
Gumam Min sendirian.
Dengan cekatan Min segera menanak nasi di rice cooker yang tersedia. Entah bagaimana lelaki itu membeli nya yang penting semua peralatan ada, Min juga membersihkan ayam lalu menggoreng nya dengan racikan bumbu yang dia buat. Setelah nya menyiangi kangkung lalu menumis dengan bumbu yang Min tahu, menggoreng tahu dan tempe juga.
"Huh, selesai juga"
Min bergegas menuju kamar mandi untuk mandi, lalu memakai baju kerja nya yang kemaren.
Klek.
Rei keluar dari kamar nya, menelisik tampilan gadis itu.
"Pakai baju yang baru, ambil paper bag yang di sofa ruang tamu"
Min mengangguk dengan segera ke ruang tamu mengambil baju baru, bergegas ke kamar mandi untuk ganti pakaian. Min menyemprotkan sedikit minyak wangi ke badan nya, menyisir rambut yang sudah agak kering itu.
Rei sudah memakan sarapan nya.
"Sarapan dulu, nanti ku antar kau membesuk mamah mu"
"Baik tuan"
Min dengan bergegas menghabiskan sarapan nya, tak ingin menunda waktu berharga sang bos.
"Ini"
Rei memberikan berkas itu pada Min, Min membuka nya dia terbelalak dengan map tersebut pembayaran hutang dengan bunga 10 kali lipat itu.
"Tuan ini....?"
"Hutan mamah mu, berbunga dengan lebat yang 5 hari ku pangkas"
"Bagaimana aku menebus nya?"
"Gampang, nanti ku beritahu cara nya, ini transaksi yang sangat mudah, camkan ucapan mu semalam memohon pada ku"
"Aku mengerti"
"Bagus"
Rei tersenyum smirk sambil memandang gadis yang sudah berada dalam kendali nya itu.
Merek keluar apartment, lalu pergi menaiki mobil mewah milik Rei.
"Ini ambil lah"
Rei menyodorkan sebuah kartu debit milik nya.
"Ini apa tuan"
"Ambil lah untuk keperluan mu, mamah mu butuh makanan bergizi juga higienis itu membutuhkan biaya"
Min mengambil nya lalu memasukkan nya kedalam tas selempang nya.
"Sudah sampai, ayo turun"
Merek turun lalu beriringan menuju rumah sakit, Rei membawa bunga aroma terapi juga sekeranjang buah segar.
Mereka memasuki ruang rawat tempat mamah Min terbaring sakit.
"Mah......"
Min segera memeluk sang mamah, wanita paruh baya yang di peluk putri tunggal nya itu tersenyum hangat seraya mengelus Surai hitam nya yang panjang.
"Apa Min menangis?"
Min menggelengkan kepala nya, lantas menyesat air mata nya sesegera mungkin.
"Maafkan mamah ya, sudah menyusahkan Min"
Min hanya terdiam.
"Tuan muda Aryandy, terimakasih sudah membantu mamah nya Min"
"Sama-sama dokter, maaf semalam saya menyuruh Min menginap di apartment saya karena sudah larut selepas kami pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan darah juga menghubungi dokter spesialis tumor"
Dokter Ervan mengangguk tanda mengerti, sedang kan mamah Laula tersenyum.
"Terimakasih nak, sudah mau menolong Tante karena permintaan anak bandel Tante ini"
"Sama-sama Tante, maaf hanya keranjang buah ini yang Rei bawa"
"Nak Rei masih mau repot"
"Tidak repot Tan, Jasmin nanti kau boleh cuti sekitar 2 hari lagi ya"
"Baik tuan, terimakasih"
"Saya pamit Tante"
Rei segera undur diri setelah selesai berbasa-basi. Dia segera menuju kantor untuk segera menyelesaikan pekerjaan nya.
"Bos......."
"Sementara biarkan dulu, umpan kita sudah dimakan mangsa"
"Baik"
Aryos tersenyum smirk, dia menunggu babak selanjutnya agar bisa berpartisipasi dalam adegan drama percintaan mengaitkan dendam ini.
"Mah, bagaimana perasaan mamah"
"Min sangat senang"
"Mah......."
Min bermaksud ingin mengatakan ucapan nya pada Rei semalam, namun dia urungkan mengingat sang mamah yang rentan akan ucapan yang menyakitkan. Min tidak ingin sang mamah bergaul dengan rumah sakit di sisa hidup nya.
"Kenapa sayang?"
Sang mamah tersenyum manis.
"Jangan sakit lagi ya mah, Min ingin mamah sembuh dan sehat terus"
"Mamah berjanji sayang"
"Oh ya hutang di tuan besar Irsandy sudah Min lunasi"
"Uang dari mana?"
"Meminjam dari pak Rei sekalian dengan biaya rumah sakit"
"Nak, maaf ya"
"Min kan bisa naik jabatan mah, pak Rei sendiri yang menawarkan karena prestasi Min yang menjanjikan jadi beliau yang menawarkan sendiri"
"Syukur lah"
"Jadi mamah jangn khawatir ya"
Sang mamah mengangguk dengan senang karena anak tunggal nya sudah membanggakan diri nya. Anak perempuan yang dulu hanya menangis dalam gendongan nya kini sudah bisa menjadi tulang punggung disaat tidak ada seorang pun yang bisa dia andalkan.
"Mamah istirahat lah, jangan terlalu lelah ya"
Siang itu Min memesan makanan sehat untuk makan siang sang mamah nanti, meski sedikit mahal Min akan hitung semua hutang nya pada bos nya Rei.
Rei mengerjakan tugas kantor nya, dengan lancar karena mood nya yang bagus.
"Tuan muda ini file terakhir"
"Baik lah"
Rave melirik tuan muda nya baru kali ini selama 13 tahun bekerja dengan suasana hati yang bagus. Dan di meja itu nampak kosong tanpa ada map dan kertas yang berceceran di ruangan itu.
"Bos waktu kita tinggal 4 hari lagi"
"Aku tahu Rav"
"Tadi pagi Tuan besar Alkatiri menghubungi saya, karena disana tuan muda Dimitri kesulitan menangani proyek"
"Bukan kah masih ada Raksa juga Herdan itu"
Deg........
Rei ingat hari ini sore nanti Herdan akan ke desa ini, Rei mengerutkan kening nya dan tersenyum smirk. Rave sampai merinding melihat senyum dari Rei.
"Ada apa tuan muda?"
"Tidak ada"
Rei sudah menyuruh Aryos untuk mengurus berkas setelah mendapatkan kelengkapan nya. Aryos lebih bisa diandalkan dibalik layar dari pada Rave meski pendidikan lelaki itu lebih rendah.
Drrttt.....ddrrrtt.
"Iya"
"Tuan mamah saya ingin pulang apa boleh?"
"Pulang saja semua sudah di urus oleh orang ku"
"Baik, terimakasih tuan"
Rave sedikit mendengarkan pembicaraan mereka, ternyata Min yang menelpon Rei.
"Ayo kita makan siang"
"Ayo"
Mereka beriringan ke kantin perusahaan.
"Aryos kemana sampai sekarang dia tidak kelihatan?"
"Ada urusan mendadak tentang klien yang mau mangkir dari perjanjian seharusnya jadi aku menyuruh Aryos membereskan nya"
"Apa tidak berlebihan?"
"Seharusnya tidak, karena aku takut klien itu membuat kerugian bagi perusahaan atau dia berencana korupsi"
"Hem, benar juga"
Tak lam kemudian Aryos muncul dengan tas yang rapih ke kantin perusahaan.
"Bos sudah ku selesaikan tugas nya"
"Apa mereka setuju?"
"Benar, semua bisa selesai karena uang"
"Oh, bagus lah kalau begitu"
Ucap Rei lalu mengambil tas itu sebelum tangan Rave menyentuh nya. Rave tersenyum hambar dan menyisakan kecewa bagi diri nya sendiri.
BERSAMBUNG.