TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.242


"Bagaimana kabar mu?"


Tanya Andreas setelah dia berjumpa dengan pujaan hati nya.


"Baik, kok kalian kesini tidak mengabari?"


"Kejutan, jagoan memaksa ikut, kata nya rindu mommy nya"


Min melihat bocah lelaki yang tersenyum manis itu pada nya.


"Anak nakal, kenapa kabur ikut ayah?"


"Adek rindu mommy, kata nya sebentar kok lama mom?"


"Kan mommy kerja nak"


Lelaki kecil Min mengangguk, dia terlihat lebih kurus.


"Kan bisa telpon mommy, jangan ikut sembarangan dengan ayah ya nanti ayah repot loh"


"Iya mom"


"Ya sudah ayo mau ikut mommy?"


Arvino mengangguk.


"Baik lah aku kembali ke hotel, kapan kau pulang?"


"Mungkin tiga hari lagi"


"Oke aku akan jemput kalian"


Andreas segera bergegas pergi, dia tidak membiarkan Min begitu saja. Andreas menaruh beberapa pengawal yang ditempatkan secara diam-diam.


Rei mematikan cctv nya dia tidak sanggup mendengarkan celoteh lincah bocah yang Rei perkirakan berusia dua tahun.


"Anak ku"


Entah mengapa air mata nya mengalir.


"Dosa ku sangat besar, pantas kah aku menjadi seorang ayah karena keegoisan ku ini nak"


Rei mengambil beberapa foto anak balita nya dari rekaman cctv, dia mengelus foto itu dengan sayang.


"Maaf, mungkin aku bukan ayah yang baik"


Setelah mengucapkan kata-kata racauan yang tidak berguna Rei tertidur begitu pulas nya.


"Selamat pagi baby"


Arvino bocah kecil itu tersenyum tampan pada sang mommy, ini lah yang Min inginkan setiap membuka mata hanya ada jagoan kecil semata wayang nya saja.


"Selamat pagi mommy sayang"


"Ayo kita mandi"


Min memandikan dan memakaikan baju untuk putra kesayangan nya setelah ritual memakaikan bedak juga telon untuk balita nya.


"Ayo kita turun"


Mereka memesan sarapan nya.


"Mommy ke toilet sebentar ya sayang"


"Oke mommy"


Arvino memakan dengan lahap sarapan nya.


Rei membuka mata nya, malam ini hujan hingga pagi jadi lebih cerah dan sejuk. Rei segera mandi, lantas bergegas untuk turun sarapan lalu ke kantor.


"Selamat pagi tuan? apa mau sarapan seperti biasa?"


"Iya"


Pelayan resort itu bergegas menuju koki untuk membuatkan sarapan milik Rei. Rei menyapukan pandangan nya, disana terlihat lelaki kecil sedang memainkan balon. Meniup nya hingga kedua pipi nya menggembung, terlihat gemas dan sangat tampan.


Jika si kecil itu melihat kearah Rei, maka Rei berpura-pura tidak melihat kearah nya. Hingga balon yang ditiup lelaki kecil itu lepas terbang kearah Rei.


"Hei kembali?"


Bocah berusia dua tahun itu mengejar nya hingga hampir tersungkur untung Rei menangkap nya.


"Terimakasih om"


"Sama-sama"


Arvino melihat kearah Rei sangat lama, Rei hanya terdiam tidak tahu harus bagaimana berbicara Dengan bocah itu.


"Balon aku terbang semua om"


"Jangan dikejar di luar licin, nanti om belikan yang banyak"


"Benar kah? tidak usah om"


"Kenapa?"


"Kata mommy orang tidak kenal tidak boleh Avin ikutin"


"Memang nama adek siapa?"


"Avino"


"Mommy adek kemana?"


"Ke toilet"


"Kan mumpung belum kembali om belikan balon yuk"


"Tapi......"


"Sebentar kok, nanti kalau mommy kembali kita sudah disini lagi"


Nampak anak kecil itu berpikir dengan lucu nya di mata Rei.


"Oke"


"Adek mau balon om"


"Oke"


Rei segera memanggil pelayan toko untuk memilih semua warna balon yang diinginkan oleh Arvino.


"Adek mau apa lagi?"


"Tidak"


"Mau mainan?"


Mata nya melirik mainan, tapi kepala Arvino menggeleng. Rei tersenyum melihat gelagat putra nya itu.


"Tolong bungkus setiap jenis mainan untuk bocah lelaki ya mba, kirim ke resort atas nama ini"


Ucap Rei pada penjaga toko.


"Baik pak"


"Nah kita sudah beli semua nanti tinggal tunggu di resort saja"


Ucap nya pada bocah lelaki yang sejak berangkat dari resort dia gendong tak pernah Rei turunkan.


"Baik lah om, terimakasih"


Rei tersenyum, dia mengelus pipi gembul milik putra tunggal nya. Rei membawa Arvino kembali ke resort segera.


Sementara Min selesai dari kamar mandi.


"Sayang sarapan nya habis belum?"


Kursi yang putra nya duduki tidak ada siapa pun, Min bergegas menelpon Andreas barang kali lelaki dewasa itu bersama anak nya.


"Iya"


"Apa Arvin ada bersama mu?"


"Tidak, ada apa?"


"Tidak ada"


Tut......


Min langsung memutuskan sambungan ponsel nya, dia segera berlari ke dapur resort untuk bertanya tentang anak lelaki nya.


Min sangat panik, dia bergegas menuju ke depan resort. Disana nampak seorang lelaki dewasa menggendong anak lelaki kecil milik nya. Min bergegas menuju kedua lelaki itu, meski Min melihat anak nya tertawa pada lelaki itu dia sungguh tidak suka.


"Mommy.....!"


Arvin menyebut mommy nya yang sudah bergegas menuju kearah nya, Rei menyadari itu.


"Mommy maaf"


Balita itu menundukkan kepala nya, merasa bersalah karena ikut dengan orang asing. Min sudah sampai di hadapan anak tunggal nya, dia segera meraih lelaki kecil tampan nya.


"Sayang mommy khawatir"


"Maaf mommy"


Min menciumi putra nya dengan sayang, lelaki kecil itu hanya memeluk nya tanpa berkata lagi. Min segera berbalik tanpa mengucapkan apa pun pada Rei, Rei pun hanya diam mematung. Min berhenti sejenak, sedikit menengokkan kepala nya.


"Terimakasih tuan CEO sudah membantu anak saya"


Rei hanya terdiam, saking asing nya sampai harus berterimakasih hanya untuk menggendong anak kandung nya sendiri. Tapi apa pantas dia menjadi ayah bagi anak lelaki kecil yang tampan itu.


Ddrrtt...drrttt.


Suara bunyi ponsel canggih milik Rei membuyarkan lamunan nya.


"Iya, mah?"


"Datang ke rumah papah sekarang!"


"Baik lah"


Rei terpaksa menunda urusan nya dengan Min, lantas bergegas ke parkiran untuk berkendara ke rumah kedua orang tua nya.


Selang 2 jam Rei sampai di rumah kedua orang tua nya, mamah nya sedang duduk di ruang keluarga.


"Mah"


Sang mamah langsung melempar foto-foto yang terdapat ibu dan anak yang sedang tertawa bersama.


"Jelaskan?"


Rei terdiam seribu bahasa dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari kedua orang tua nya.


"Mamah dan papah kehilangan kamu karena kecelakaan, meski pun demikian kami membenci kami itu bisa di maklumi, bagaimana dengan kau sendiri?"


Sang mamah menjeda ucapan nya.


"Kau membuang darah daging mu sendiri bukan?"


Lanjut mamah Cinta.


"Jelaskan pada kami apa yang kau lakukan dalam hidup mu Arei Rafiensah Aryandy?"


Sang mamah pasti sangat murka, karena tindakan tak manusiawi nya.


"Kau menyiksa istri mu hingga dia menemukan keluarga kandung nya, kau ingin membunuh anak mu dalam bentuk janin tapi kau tidak bisa punya anak lagi, kau sudah menyakiti banyak orang Rei, apa kakek Aryandy pernah mengajarkan mu demikian? kau buta oleh dendam apa mau mu hah?"


"Maaf mah, Rei banyak kesalahan"


"Hanya itu, apa kata maaf mu membuat waktu 2 tahun akan kembali seperti semula, minta maaf pada istri mu itu pun jika dia masih menganggap mu sebagai suami nya"


"Baik mah"


Rei segera pergi menuju resort kembali untuk memohon ampun atas dosa yang pernah Rei lakukan.


BERSAMBUNG.