
Lain hal nya Roy yang sekarang akan menyetir mobil nya, baru saja akan membelah jalanan di pemukiman yang padat penduduk itu namun segera dia hentikan.
Kepala nya sudah berdenyut nyeri, Roy tak ingin terjadi kecelakaan saat diri nya menyetir hingga membuat orang lain celaka.
Tok ......Tok.....Tok.
Pintu mobil milik Roy diketuk dari luar, Roy kebetulan sedang memejamkan mata nya. Roy pun membuka mata nya secara perlahan, melihat kesamping siapa yang mengetuk kaca mobil nya dari luar itu.
Gadis yang sama yang sudah menampung nya saat pingsan semalam. Roy membuka kaca jendela mobil nya itu.
"Keluar lah kalau masih pusing, jangan memaksa mengendarai mobil saat kamu tidak bisa"
Ucap gadis itu yang tak lain adalah Rose.
Roy menghela nafas, entah harus bagaimana nanti nya jika dia menginap lagi, ada rasa sungkan pada gadis itu.
"Ayo buka pintu nya, aku papah kau keluar"
Roy mengangguk lantas segera membuka kunci pintu mobil nya. Benar saja Rose segera membantu Roy untuk segera membantu memapah nya untuk turun dari mobil mewah nya.
"Apa kau di rumah tinggal sendirian?"
"Iya tadi nya aku punya seorang kakek, tapi beberapa bulan lalu beliau meninggal"
"Oh"
Roy tidak kuat lagi berbicara, kepala nya seakan berputar dan dia hanya bisa memejamkan mata nya saja.
"Aku ingin bersandar saja"
"Baik lah"
Rose segera menyandarkan tubuh Roy lantas segera kembali berdiri tegak, Lalau ke dapur membuatkan teh hangat yang di campur jahe.
"Ayo diminum dahulu?"
Rose menyodorkan gelas yang berisi teh yang barusan dia racik itu.
Roy segera menerima nya, meniup nya sebelum di minum sedikit demi sedikit.
"Hati-hati ya masih panas banget loh"
"Iya terimakasih ya"
"Masih pusing?"
"Lumayan agak hilang sedikit"
"Mau aku buatin bubur"
"Jangan ada bau amis aku masih mual, bubur sayur aja"
"Iya, sebentar ya"
Roy mengangguk, dia tidak rebahan karena kepala nya terlalu berat, jadi Roy memutuskan untuk duduk saja sambil tiduran agar pusing nya sedikit mereda.
Sudah setengah jam Rose pergi membuat bubur untuk Roy, kini gadis itu kembali dengan semangkuk bubur sayur dari labu kuning yang manis dan beberapa jenis buah yang ditanam nya di kebun samping.
Rose sampai ditempat Roy duduk sambil memejamkan mata nya, Rose mengamati wajah tampan nan matang itu. Wajah yang mirip seseorang jika diperhatikan dan diteliti lebih jauh wajah itu memang sangat familiar.
'Dia mirip sekali dengan seseorang, tapi aku lupa dimana aku ketemu'
Gumam Rose dalam hati, dia asik memandang wajah pria matang di samping nya hingga tak menyadari jika mata pria matang itu sudah terbuka.
"Kenapa? apa ada yang aneh ya?"
Tanya Roy pada gadis yang bernama Rose ini.
Rose pun segera menggelengkan kepala nya, gadis itu nampak malu karena ketahuan memandang Roy dari jarak yang begitu dekat.
"Tidak ada, maaf aku sudah memperhatikan wajah mu"
Ucap Rose sambil menundukkan wajah nya malu.
"Tidak apa, apa bubur itu untuk ku?"
"Iya"
Rose mengangguk lantas menyerahkan mangkuk itu pada Roy, Roy segera menerima mangkuk bubur itu yang masih hangat.
"Terimakasih Rose, maaf aku merepotkan mu"
Rose menggelengkan kepala nya dengan cepat.
"Tidak, kecelakaan mu juga akibat diri ku yang menyebrang sembarangan, jadi aku harus bertanggung jawab"
Roy mengangguk saja, dia memandang bubur di mangkuk itu.
"Mau aku suapi"
Roy menggelengkan kepala nya dengan cepat.
"Tidak usah, aku coba makan sendiri saja ya"
"Sudah aku bantu saja ya"
Rose mengambil mangkuk bubur itu lantas menyendok kan sendok itu, lalu meniup nya perlahan dan mengarahkan sendork itu pada Roy.
"Buka mulut nya!"
Roy membuka mulut nya, menerima suapan demi suapan dari Rose hingga bubur sayur itu habis tak bersisa.
"Sudah habis ya"
"Terimakasih"
"Sama-sama, ini minum dulu air hangat nya setelah itu minum obat supaya nanti sore bisa pulih"
"Baik lah"
Roy segera meminum obat dan meminum air hangat itu sampai habis.
"Mau rebahan atau duduk saja, istirahat nya?"
"Duduk saja"
"Memang tidak pegal?"
"Kepala ku sangat sakit jadi aku tidak ingin tambah lama merasakan sakit ini"
"Baik lah, aku akan mengambil bantal untuk menyanggah kepala mu"
"Terimakasih"
Rose berlalu sesegera mungkin ke kamar nya membawa banyak sekali bantal hingga tubuh nya serasa tertutup bantal.
"Ini ayo pakailah"
"Kenap banyak sekali?"
"Iya kan kamu butuh buat menyanggah kepala dan tubuh mu, kalau bantal nya kurang nanti tulang atau urat-urat mu bisa salah"
"Baik lah nona, aku menurut saja pada mu"
Ucap Roy dengan lembut yang bisa membuat senyum indah milik Rose terbit.
Rose memang berwajah oriental pribumi penghuni negara A, hidung mancung, rambut pirang dan lagi dengan bibir tebal dan sexy. Bahkan suara Rose itu agak serak, tubuh nya kurus semampai namun di beberapa bagian tubuh nya nampak padat berisi.
"Kenapa?"
Rose melihat lelaki matang itu nampak memperhatikan nya, Roy menggelengkan kepala nya.
"Kemana kedua orang tua mu?"
"Kedua orang tua ku meninggalkan aku bersama kakek mereka pergi ke negara lain untuk bekerja tapi sampai sekarang tidak pernah kembali"
"Apa tidak pernah mendengar atau menerima kabar dari mereka"
"Tidak sama sekali"
Rose terlihat sendu, gadis itu yang semula ceria kini berubah menjadi masam.
"Maaf aku sudah menyinggung mu"
Ucap Roy tak enak hati karena dia membuat Rose menjadi sedih, Rose menggelengkan kepala nya itu.
"Tidak apa, mungkin mereka sudah melupakan ku, mereka mungkin lebih bahagia tanpa diri ku"
Ucap disertai derai air mata sambil berucap membuat Roy teringat dengan kisah diri nya sendir. Pasti gadis di hadapan nya ini sangat kesulitan menghadapi hidup apa lagi diri nya seorang gadis.
Roy saja yang notabene lelaki hidup dengan sangat keras meski diri nya sangat beruntung karena diadopsi oleh keluarga Alkatiri.
"Jangan menangis ya"
Roy mengusap air mata Rose, lantas Rose segera mendekap tubuh tegap lelaki dewasa yang matang itu. Dada bidang itu lama kelamaan membuat Rose menjadi tenang dan hangat dalam pelukan Roy.
"Bukan kah kau ingin tidur"
"Ah, jadi lupa"
"Maaf aku yang memanfaatkan mu dengan memeluk mu"
"Tentu saja tidak, ku kan sudah menolong ku"
"Kan kau celaka karena diri ku, jadi aku sudah seharus nya menolong mu"
"Baik lah aku mau tidur sebentar dahulu, bangunkan aku jika sudah sore"
"Baik lah, selamat istirahat ya"
Roy segera memejamkan mata nya, Rose kembali ke kebun untukemanen sayur.
BERSAMBUNG.