
Queena berlari dengan kencang kearah sang nenek untuk menghampiri nya karena nenek tua itu menjatuhkan gelas minum tanpa sengaja.
"Nenek, nenek tidak apa kan?"
Sang nenek menggelengkan kepala nya lantas tersenyum hambar.
"Nenek ada apa?"
"Tidak cantik, nenek tidak apa"
BBRRAAKK.......
Segerombolan lelaki berbadan tinggi besar memasuki kediaman keluarga Aryandy.
"Siapa kalian!"
Nenek bertanya dengan lantang serta mengintimidasi.
"Cepat geledah semua nya, cari barang berharga dari mereka lalu sita"
"Jangan masuk seenak nya ke rumah kami, panjaga!"
Namun tidak ada yang datang seorang pun.
"Berteriak lah sampai lidah mu putus, karena mayat tidak mungkin menuruti perintah mu"
Mata nenek melotot.
"Kalian mau apa?"
"Kami mau melakukan semua perintah tuan kami"
"Jangan lakukan apa pun, kalau tidak suami ku akan membereskan kalian!"
"Nenek tua diam lah"
Lelaki ketua tim pasukan yang sedang menggeledah rumah milik Aryandy itu menodongkan pistol pada nenek Aryandy.
"Jangan sakiti nenek!"
Queena mulai bersuara.
"Diam lah cantik, giliran mu belum tiba!"
Mereka semua tertawa dengan gembira.
"Lapor bos, kami tidak menemukan apa pun"
"Brengsek, dia sudah mempersiapkan hal ini"
Lelaki paruh baya yang di panggil bos oleh bawahan nya itu, terlihat emosi dan membanting semua barang yang ada di rumah itu.
"Tanyakan pada nenek tua itu di mana mereka simpan kunci brangkas milik mereka juga bunuh cucu kesayangan mereka"
"Lancang!"
Nenek Aryandy emosi lantas memukul beberapa diantara nya.
"Nak cepat pergi dari sini, lari lah temukan Rei jangan sampai dia pulang, cepat"
"Tapi nek...."
"Tidak ada waktu"
Lantas sang nenek mengacungkan tangan nya ke cctv utama yang terletak di ruang tamu, menyelipkan semua kotak surat di laci besi dapur tempat dia memasak. Karena jika terjadi sesuatu sang suami berpesan agar memberi kode ke cctv utama karena cctv itu secara otomatis terekam ke dalam penyimpanan khusus.
Dengan cepat Queena berlari, namun seorang pengawal memukul nya dengan tongkat kayu hingga pingsan.
"Queena, jangan sakiti gadis itu, lepaskan dia aku akan memberitahukan kode sandi brangkas nya yang ada di negara M"
"Baik lah beritahu dulu"
Bos penyergapan malam itu memberi kode pada anak buah nya.
"Kode brangkas nya nama ku, dan tersimpan di bank xxx"
GREEPP
Mereka segera menyergap sang nenek, mengikat nya berdiri diatas kursi dan mengalungkan tali di leher nya.
"Cepat buka semua pakaian Gadi itu, sebelum nenek mati, nenek harus menyaksikan calon cucu menantu nya itu di gilir dan di bunuh dengan tragis"
Ucap lelaki paruh baya bos mereka, setelah menelanjangi Queena lalu bos itu memperkosa Queena yang sudah sadar dan di pegang beberapa bodyguard. Air mata nenek mengalir deras menyaksikan semua itu, begitu pun Queena yang di gilir oleh bos dan bodyguard nya.
"Nenek sakit"
Ccrraaaasshh
Queena merebut pisau dari salah satu mereka dan langsung menusukan ke perut nya beberapa kali.
"Queena! tidak!"
Nenek menjerit bersamaan dengan mengalir nya air mata Queena dan nafas terakhir nya gadis itu juga tali yang menjerat leher nenek tercekik dan nenek pun tidak bergerak.
"Bakar semua bagian rumah ini, segera"
Para anak buah dari bos bejad itu segera membakar semua lantai rumah itu tanpa terkecuali.
Sementara mobil sang kakek yang tadi nya diapit oleh dua mobil hitam itu sudah terguling ke jurang.
"Cepat turun ke bawah periksa dengan segera mati atau hidup nya"
"Baik bos"
Namun sebelum mereka turun mobil polisi lalu lintas terdengar sirene nya.
"Bos itu polisi lalu lintas"
"Cepat naik lagi, kita cepat kabur"
Mereka kabur, pada hal itu adalah mobil para bodyguard milik Dino yang pergi mencari kakek Aryandy karena di rumah mereka sudah menerapkan penjagaan yang ketat.
Mereka setengah jam setelah turun kebawah jurang.
"Mereka terluka parah"
"Angkat mereka"
Kedua orang itu diangkat keatas lalu segera mereka melemparkan mayat palsu untuk melakukan kematian, setelah nya membakar mobil tersebut hingga meledak di kawasan itu.
Cinta yang sudah setengah jalan di jalan raya menuju kediaman Dimitri kini diapit oleh dua mobil dengan kecepatan tinggi.
"Siapa mereka?"
"Tetang nyonya, tuan dekat dengan lokasi kita"
"Ada apa ini sebenar nya"
"Tenang lah nyonya"
CEKKITTTT
Benar saja beberapa menit dijalan kedua mobil itu menghentikan mobil yang Cinta naiki.
"Turun!"
8 orang berpakaian hitam turun, menggedor pintu dan menembaki ban mobil yang di naiki Cinta.
"Bagaimana ini?"
DOORR....DOORRR.
Mereka semua mati di tempat.
"Sayang cepat turun, ayo kita segera pindah mobil"
Aksara, Melki, Dino dan beberapa bodyguard khusus mereka menghampiri. Aksara membawa Cinta naik ke mobil yang di supiri Melki.
"Dino jemput Rei, sekarang"
"Baik bos"
Cinta masih gemetar, Dino dengan kecepatan penuh menuju titik dimana bocah itu berada.
"Ada apa byy?"
"Ada yang menyerang keluarga kita"
"Siapa mereka?"
"Byy tidak tahu"
"Bagaimana dengan Rei?"
"Jangan khawatir, Dino menjemput nya, kita ke tempat aman dulu"
Mereka menuju rumah kediaman Dimitri.
Rei baru saja tiba di restoran nya, dia lupa ponsel nya tertinggal di rumah, Rei hendak menghampiri mobil nya di parkiran.
CEKKITTT
"Masuk ini darurat"
"Baik paman"
Rei segera masuk ke mobil yang dikendarai Dino.
"Paman di rumah ada pacar ku dan nenek"
Dino masih diam.
"Paman"
"Kita tunggu kabar dari mata-mata"
"Baik"
Dino dengan secepat kilat menuju ke kediaman Dimitri. Mereka segera menutup rumah itu dengan tameng seperti kubah. Aksara yang mengusulkan semua ide untuk membuat rumah sang paman menjadi markas mereka sekaligus.
"Cepat masuk"
Dino dan Rei berlari kedalam sementara penjaga berjaga di luar dengan ketat meskipun serangan luar tidak akan mampu menembus pertahanan namun tidak memungkinkan serangan udara untuk bisa di bendung.
"Bagaimana keadaan mu?"
Rei dan Dino berlari, namun lari Rei melambat tatkala ada sosok di suatu ruangan yang menarik perhatian nya.
"Kakek"
"Rei, jangan berhenti, kita bisa melihat didalam nanti"
Rei segera mentaati instruksi mereka.
Mereka menuju tangga darurat, setelah nya sampai di rumah bawah tanah. Semua keluarga menunggu disana, lantas terdapat beberapa cctv yang sudah mereka pasang.
"Kita sudah berkumpul disini"
Rei tetap berdiri disana tanpa terganggu, semua memandang kearah Rei.
"Rei, kakek ditabrak oleh seseorang ketika di perjalanan pulang"
Aksara menyampaikan sambil memperlihatkan ruangan perawatan kakek Aryandy kepada putra bungsu nya. Rei terlihat diam, mengawasi, dan mencermati nya.
Tak berapa lama ada panggilan masuk pada ponsel seluler milik Aksara dari mata-mata handal milik nya.
Aksara terlihat syok dengan pembicaraan di ponsel tersebut hingga ponsel nya hampir jatuh.
BERSAMBUNG.