TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.205


Elian sampai di tempat yang di tunjukkan oleh anak buah nya, meski pun sudah mengoles dedaunan yang begitu menyengat namun itu hanya untuk binatang melata yang beracun seperti ulang.


10 kilo mencapai batas jarak dia sempat bertemu anak beruang, untung Elian siaga jadi hanya punggung nya saja yang tergores, kaki nya penuh dengan luka lecet karena beberapa kali terjatuh.


"Nona....nona!"


Semua anggota yang menjemput Elian mendekat dan segera mengangkat nya ke mobil karena Elian sudah pingsan.


"Berani sekali dia menantang Rei Alkatiri"


"Kabar nya dia adalah adik angkat tuan Rei"


"Benar sekali, tapi sangat disayangkan tindakan ceroboh nya membuat diri nya dihapuskan dari keluarga kaya raya itu"


"Mungkin dia tidak tahu jika seorang Rei itu kekejaman nya seperti iblis"


"Mungkin, untung dia selamat"


Mereka membawa Elian yang pingsan ke markas pembunuh bayaran itu. Mereka selalu memberikan pengobatan agar Elian cepat pulih, dengan perawatan medis pribadi.


"Bagaimana dok?"


"Luka yang diderita sangat parah, tidak ada racun tapi dia koma, kemungkinan besar akan sadar dalam 3 Minggu ini"


"Baik lah lanjutkan saja"


Waktu berjalan dengan cepat, hingga tiga Minggu telah berlalu.


Elian membuka mata, dia melihat sekeliling. Ini bukan rumah kakak nya atau rumah sakit.


"Apa aku sudah mati"


"Hanya koma 3 Minggu saja"


Elian kaget dan melihat kearah sumber suara itu, dia melihat ketua pembunuh bayaran yang berjubah hitam dan juga bercadar.


"Siapa kau?"


"Bukan kah kau yang menyuruh ku untuk menjemput mu, kami sudah bersusah payah menjemput mu, kenapa kau yang bertanya?"


Elian mengingat nya saat ini.


"Kau tidak sedang bersama lupa ingatan kan?"


"Ya aku ingat, apa kau melihat tas ku?"


"Disebelah mu"


Elian mengambil semua barang bawaan nya.


"Pergi tarik semua uang dan simpanan pribadi ku di bank"


"Untuk apa?"


"Tentu saja membayar kalian, dokter, juga sewa kamar"


"Oh, kau tahu diri juga"


Pria pemimpin pembunuh bayaran itu mengambil kartu dari tangan Elian dan langsung menyuruh anak buah nya untuk mengambil nya.


"Aku ingin memulihkan diri ku dan secepat nya membalas dendam"


"Pada siapa?"


"Wanita yang menyebabkan aku seperti ini!"


"Bukan kah itu karena rencana bodoh mu sendiri"


"Ya mungkin rencana ku terlalu gegabah, jadi mungkin kau punya saran?"


"Memang nya apa keinginan mu?"


"Aku ingin membuat wanita itu terlempar dari hidup kakak ku"


"Apa ingin menciptakan kesalahpahaman?"


"Lebih dari itu!"


"Tidak mungkin, kalau lebih dari salah paham maka kami akan dihabisi dalam hitungan detik"


"Apa kau takut?"


"Tentu saja, karena nyawa lebih berarti dari uang mu yang hanya secuil itu"


"Baik lah, kerjakan saja asal jangan sampai gagal, ini foto wanita itu"


"Siapa wanita ini?"


"Istri simpanan nya"


"Bukan kah tuan Rei belum menikah?"


"Entah lah aku tidak peduli!"


"Oh kau mencintai Rei, kakak angkat mu sendiri"


Elian memandang tajam ketua pembunuh bayaran, sementara lelaki dibalik topeng itu acuh saja. Bahkan dia segera pergi dari ruangan itu.


"Hei kau mau kemana?"


"Aku ingin merancang rencana agar berhasil 100 persen"


"Oh, bagaimana dengan makanan ku?"


Elian terdiam, dia terdampar di sarang para pembunuh bayaran. Selama ada uang aman, tapi jika tidak ada uang bagaimana, pikir Elian berkelana.


Tok......tok.


"Masuk"


"Nona ini makanan mu"


"Terimakasih"


"Ini sisa uang mu"


"Taruh saja dimeja"


"Kalau begitu saya permisi"


"Iya"


Elian segera meminum dan memakan makan siang nya saat itu.


"Ini enak sekali, beda dengan infus"


Luka Elian memang mengering namun sakit nya masih terasa. Di tambah dia sudah 21 hari lebih hanya berbaring di ranjang.


"Kakak maaf kan aku jika aku kejam pada mu, kau yang memulai nya sendiri"


Gumam Elian sambil memandang langit cerah menuju sore dari balik jendela kamar di sarang para pembunuh bayaran itu.


Hubungan Rei makin erat dengan Min selama tiga Minggu ini, Rei juga sudah memikirkan untuk menggelar pesta pernikahan dengan gadis itu. Meski awal nya untuk membalas sakit hati nya, namun setelah kejadian Elian yang mengungkit masalah papah dari Min, Min lebih menurut apa pun dia lakukan untuk menyenangkan suami nya.


Hati Rei yang beku karena cinta di masa lalu itu, kini sudah mulai menghangat sedikit demi sedikit karena kebaikan hati Min. Seperti hal nya di hari yang cerah ini, mereka berjalan di tepi pantai. Rei tiba-tiba mengajak nya untuk berjalan-jalan ke resort nya kali ini.


Merek menggelar tikar di tanah dekat dengan pantai, memakai baju pantai pasangan bahkan memesan beberapa menu makanan khas pantai lengkap dengan minuman nya.


"Kemari lah?"


"Iya"


"Aku sudah membicarakan dengan mamah, papah, juga para kakak, Minggu depan akan menggelar acara resepsi pernikahan secara besar sekaligus ulang tahun perusahaan sehari sebelum nya"


"Baik"


Min tersenyum bahagia, dia begitu cantik. Entah perasaan Rei atau hanya gadis itu berdandan lebih cantik saja setiap hari nya. Rei memang memenuhi setiap kebutuhan istri nya. Dua Minggu yang lalu juga diri nya sudah memberitahukan jika Rei sudah menikahi diri nya semenjak masih di kampung jika dihitung pernikahan mereka sudah hampir 6 bulan ini.


"Kalau ada yang kau inginkan bicarakan dengan mamah dan para kakak"


"Siap bos"


"Satu lagi"


"Iya"


"Jangan panggil om, nanti aku bisa ditertawakan, dikira aku pedofil"


Min mengangguk, dalam hati dia ingin sekali tertawa. Suami nya enggan disebut pedofil lantas apa namanya jika usia mereka terpaut sangat jauh tidak tanggung-tanggung 15 tahun.


'Si om minta nya ada-ada saja'


Rei melirik istri nya.


"Kenapa melamun?"


"Tidak, aku sedang menikmati pantai nya om, sangat indah"


"Kan sudah dibilang ganti panggilan nya"


"Tapi....."


"Susah kah?"


"Belum terbiasa"


"Apa aku segitu tua nya, pada hal baru akan 35 tahun beberapa bulan lagi"


Min melirik suami nya, ternyata om di samping nya ini memang suka narsis.


"Nanti besok-besok Min pasti rubah kok panggilan nya, ini hari yang terakhir"


"Baik lah, aku menunggu mu"


Min tersenyum manis.


'Tapi bener sih, meskipun usia kita berbeda jauh namun om masih tetap muda dan tampan apa lagi jika memakai stelan rumahan'


Gumam Min.


"Kenapa?"


Min menggelengkan kepala nya.


"Aku ganteng, mapan lagi setia"


Ingin rasa nya Min tertawa namun dia hanya menahan nya, nanti dia akan kena hukuman. Min hanya mengangguk sambil menikmati penghujung senja di pinggir pantai dengan angin yang semliwir menerpa anak rambut nya.


'Semoga selalu seperti ini, bersama mu om'


Doa Min di pinggir pantai saat itu, karena kita tidak ada yang tahu dengan takdir di hari esok.


BERSAMBUNG