TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.280


Tanpa ragu Rindi mengirimkan semua rekaman itu pada email sang paman. Rindi menangis sendirian di kamar nya, tanpa dia sadari sudah terlelap di kasur nya itu.


Meski sudah larut sang paman tetap melihat nya, memutar rekam suara disertai video. Mata paman melebar mendengarkan nya, bahkan mendengar bukti melalui pertengkaran itu.


Paman Adidharma mendadak mata nya memanas, dia tidak mengira jika sang adik yang begitu lembut dan dia sayangi di siksa hingga ajal menjemput.


'Mukti, kau keparat sekali!'


Meluapkan amarah nya dengan memukul dinding kamar nya sendiri.


Tlinggh.....


Suara notifikasi datang dari keponakan kecil nya.


"Bagaimana paman?"


"Sudah cukup jangan terlibat lagi, biar sisa nya paman yang urus"


"Baik lah paman"


"Istirahat lah"


Sang paman segera menyiapkan pengawal untuk berjaga disekitar rumah Afar.


"Sebaik nya aku tidur, besok mau menjenguk papah"


Rindi tersenyum menyeringai, dia ingin mengerjai kedua orang itu namun paman nya melarang.


"Masih kalian sudah di tentukan"


Rindi segera terlelap ke alam mimpi, pagi sekali dia bangun. Lantas dia segera mandi dan bersiap mau ke rumah sakit.


"Non Arin sudah bangun?"


"Iya bi"


"Masih belum pada bangun ya bi?"


"Iya non paling siangan begitu"


Namun ketika Rindi sedang memakan sarapan nya.


KREAAK......


Pintu kamar depan terbuka yang itu arti nya ibu tiri nya sudah bangun. Melina terperanjat melihat putri bungsu suami nya.


"Arin!"


Rindi hanya menoleh lantas kembali menyuapkan nasi goreng nya.


SRAAKK.......


Wanita paruh baya itu duduk bersebelahan dengan Rindi. Rindi tahu wanita tua itu menatap nya dengan seksama.


"Datang-datang langsung comot sarapan!"


Rindi masih diam.


"Tidak menyapa orang rumah dulu!"


"Memang aku harus menyapa siapa, rumah sepi"


Melina menggelengkan kepala nya.


"Kau ini sudah besar tapi tidak sopan"


"Mandi lah dulu mah, kau berbicara di samping ku dengan bau mulut mu itu"


Melina terbelalak mendengar pernyataan nya.


"Aku sudah cuci muka dan sikat gigi"


Rindi melihat dengan malas.


"Aku juga mau sarapan"


Melina mengambil beberapa sendok nasi goreng yang ada di meja.


"Baik!"


"Iya nyonya"


"Man telor ceplok nya, NuGet, sosis atau sayur nya begitu"


"Kan nyonya sudah 2 Minggu tidak belanja"


Melina menghela nafas nya sebentar.


"Ya sudah lah kembali bekerja"


Melina memakan nasi goreng tanpa lauk nya. Hanya beraroma bumbu dapur yang masih tersedia.


"Kapan kau pulang?"


"Mamah bertanya pada ku?"


"Siapa lagi? apa si tukang tidur itu yang harus ku tanyai?"


"Kemaren sore!"


Deg...deg.


Melina menghentikan makan nya, jika anak tiri nya datang kemaren sore. Bukan kah diri nya bertengkar semalam itu sangat sengit dengan Lisa.


"Lalu kau dimana?"


"Apa nya dimana mah?"


"Semalam kau dimana?"


"Tentu saja aku tidur karena lelah"


"Oh"


Rindi bangkit hendak menuju kamar nya di lantai atas.


"Rin, tengok papah mu di rumah sakit"


"Iya aku akan bersiap kesana"


"Oh ya"


Langkah Rindi berhenti ketika akan naik tangga ke lantai atas.


"Kenapa mah?"


"Perusahaan papah mu akan segera bangkrut mungkin, mamah sudah menjual perhiasan buat kebutuhan sehari-hari"


"Kenapa bisa bangkrut?"


"Karena Lisa yang bodoh dia selalu mabuk entah pada siapa dia membubuhkan tanda tangan itu hingga uang yang seharus nya dipakai untuk mengerjakan tender raib entah kemana"


"Rumah ini sebagai jaminan, perusahaan papah mu memiliki penalti karena tidak mengerjakan tender yang dia menangkan"


"Lalu harus bagaimana?"


"Pergi lah, mamah akan membawa Lisa menyewa rumah sederhana, entah papah mu bagaimana karena sejak lima tahun lalu dia sudah tidak peduli pada kami"


"Maksud mamah, kalian akan menyerahkan tanggung jawab papah pada ku?"


"Kalau kau mau mengurus lelaki tua itu silahkan, jatuh tempo nya masih 3 hari lagi"


"Apa kau mau kabur?"


"Tentu saja kita harus menyerahkan rumah ini, mamah tidak punya uang atau keterampilan menjalankan usaha, mamah hanya menikmati hasil usaha papah mu"


"Lantas setelah papah sakit kalian akan meninggalkan nya?"


"Entah lah Rin, mamah sudah mencari rumah kost"


Rindi diam, sementara mamah tiri nya bergegas pergi ke kamar nya. Dengan seringai nya, dia tidak perlu melakukan pembunuhan atau siasat cukup bertindak lemah dan kasihan maka sudah pasti anak tiri nya akan mengasihani diri nya.


Rindi menatap pintu kamar mamah tiri nya.


'Kalau mau bangkrut ya bangkrut saja, aku akan cari bukti-bukti untuk membuat kematian ibu ku terungkap'


Ucap Rindi kembali ke kamar nya.


Drrtt.....drrtt.


Ponsel Rindi berdering itu paman nya yang memanggil.


"Iya paman"


"Paman sudah menyelidiki semua nya, kau harus berkemas dan pergi dari sana"


"Baik paman"


Rindi mengemasi semua barang-barang penting nya. Dikamar ini juga pernah ditempati mamah nya sewaktu mengandung diri nya. Rindi membawa baju dan album Poto yang tersisa.


PLAAKK.....


Di rak paling tinggi dia menemukan sesuatu, mata Rindi membulat. Sebuah ATM dan kartu bank atas nam diri nya termasuk sandi bank tersebut. Dengan segera Rindi memasukkan kedalam sweater nya.


'Ini yang mereka cari'


Gumam nya.


Melina dan Lisa tidak tahu jika suami nya Afar tidak menyimpan ATM yang mengantongi uang bernilai miliaran itu. Rindi menarik sekoper kecil menuju bagasi lantas menaikan koper itu ke mobil milik nya.


"Mah!"


Rindi sengaja masuk lagi ke dalam rumah, disana sudah ada Lisa yang sedang sarapan.


"Kau baru datang?"


"Tidak"


"Lalu?"


"Aku datang kemaren"


Lisa yang mau menambah nasi goreng kedalam piring pun urung dia lakukan.


"Dimana kau semalam?"


"Tidur, kenapa?"


"Oh"


Lisa menyendok nasi goreng nya lagi.


KKREAK...


Pintu kamar Melina terbuka dan orang nya sudah rapi.


"Ada apa?"


"Aku mau tengok papah, apa kalian mau ikut?"


Mereka saling pandang, Lisa menggelengkan kepala nya begitu juga Melina.


"Ya sudah, oh ya ini untuk belanja dapur"


Rindi meletakkan uang lima juta untuk makan mereka.


"Mana cukup!"


Melina segera merebut uang yang sudah ditangan Lisa.


"Cukup, kau pergi lah, mamah ada arisan hari ini"


"Baik lah sampai jumpa"


"Hati-hati ya di jalan"


Rindi pergi dari kedua orang itu dengan menyeringai puas.


'Kalian lah yang harus hati-hati mulai sekarang!'


Gumam Rindi sembari pergi ke bagasi mau menaiki mobil nya.


"Mah kenapa tidak meminta lebih banyak sih!"


"Diam kamu!"


Lisa kesal dan pergi begitu saja ke kamar nya.


"Bik"


"Iya nyonya"


"Ini belanjakan ke pasar saja supaya dapet banyak, berangkat nya sekalian dengan saya supaya hemat"


"Baik nyonya"


Berbarengan dengan Melina keluar, Rindi pun mengeluarkan mobil baru nya. Melina mendadak kaget karena anak tiri nya sudah bisa mengendarai mobil bahkan mobil limited di tahun ini.


"Mamah lihatkan mobil nya itu edisi terbatas mah"


"Terus?"


"Harus nya kita minta uang lebih banyak sama dia"


"Nanti malam masih keburu"


Rindi melambaikan tangan nya pada kedua wanita berbeda usia itu.


BERSAMBUNG