
Selang 1 jam profesor Andalas datang.
"Prof bagaimana ini?"
"Siapkan 10 orang dibagi menjadi dua tim, 1 tim untuk Andra dan tim lain nya membawa si perempuan"
Mereka semua berbaris menuju kedua orang yang masih telanjang itu.
"Kapan prof?"
"Setelah puncak ereksi"
Mereka terdiam mendengar nya dan yang paling merasa bersalah adalah Roy.
"Puncak mereka pasti hanya 10 menit dari memulai nya kembali, sudah berapa jam kira nya obat itu bekerja?"
"Dari jam 1 tuan seperti nya memakan buah dan jus nya"
Profesor Andalas menghela nafas.
"Mungkin akan sedikit koma"
Mereka semua kaget termasuk ayah Andreas dan Daddy Rei.
Carmen menjadi waspada, sekarang mereka sudah ditengah permainan.
"Keluar kalian 2 jam lagi juga kami selesai bercinta?"
"Kalau menunggu mu selesai maka sudah bisa dipastikan Andra akan mati"
Kembali mereka terkejut, profesor Andalas meneliti, Andra hanya mencium bibir wanita itu tidak sempat pemanasan karena obat terlalu cepat bekerja.
"Cepat bersiap, 2 menit lagi mereka akan mencapai titik *******"
Mereka bersiap begitu pun profesor Andalas sudah menyediakan selang infus dan wadah untuk alat vital milik Andra.
"Setelah anak ku terlepas dari kelamin wanita iblis itu segera lenyapkan dia saat itu juga"
Ucap Daddy Rei.
"Jangan Rei kita butuh darah nya yang bersih untuk mengobati Rei"
Daddy Rei geram sekali.
"Ha.....ha....ha"
Daddy Rei hendak maju dan meninju wajah wanita iblis Carmen itu.
"Jangan gegabah menyentuh nya Rei, anak mu akan mati taruhan nya"
Daddy Rei terdiam ayah Andreas segera menepuk bahu nya.
"Sabar jangan gegabah, kita lihat perkembangan"
"Mulai lepas, 1.....2......3"
SSRAAAKK ..........
"Akhhh........ohhhhhh"
Carmen masih mendesah nikmat karena baru saja menuju puncak tapi tubuh Andra sudah ditarik kewanitaan nya masih berkedut Carmen mendongak keatas.
Tubuh polos nya yang berdiri di tembok ambruk, kewanitaan Carmen penuh dengan cairan lengket mereka berdua bahkan Carmen dengan sengaja tanpa mau menutup nya agar semua melihat diri nya yang sudah melayani Andra hingga memerah dan berdarah alat vital nya.
"Uhhh.....sakit.....maasss!"
Racun Carmen namun sudah dipegangi oleh kelima anak buah Andra, sedangkan Andra meracau dia merangkak tapi di tahan.
Andra memberontak mencari Carmen tapi segera diikat di naikan keatas brankar.
"Lepaskan, Arin sayang, Arin"
Memang Andra memanggil nama istri nya karena halusinasi nya di bersama sang istri.
"Syukurlah dia masih berhalusinasi pada istri nya itu"
Ucap profesor.
"Apa ada keuntungan nya?"
"Setidak nya jika melihat wajah istri nya maka Andra akan tenang"
Daddy Rei dan ayah Andreas mengangguk.
profesor menyuntikkan cairan agar mata Andra bisa terbuka dan obat halusinasi nya sedikit dihilangkan.
"Bawa serta istri nya"
Andra sudah di mandikan di bak mandi oleh beberapa bodyguard yang setia mengabdi pada tuan nya itu.
Nampak ibu Amelia menangis ketika datang.
"Nak ini ibu nak"
"Ibu sakit ibu, sakit sekali mana istri ku"
"Tidur lah Arvin, mata mu belum bisa melihat"
Ucap Daddy Rei.
Ibu Amelia semakin banjir air mata nya, ada wanita kejam yang membuat anak nya menderita.
"Sayang coba kamu ingat kalau ibu mengajarkan mu tentang sabar"
Andra duduk meski tak bisa melihat duduk bersila tangan di rentangkan menarik nafas lalu menghembuskan nya perlahan menyanyikan sebuah lagu kenangan yang biasa mereka nyanyikan bersama.
"Jangan dengarkan apa pun hanya dengarkan suara ibu"
Rindi sudah sampai di tempat, melihat mata suami nya berpejam, seolah orang sedang bersemedi.
"Netralisir seluruh perasaan yang ada di dalam jiwa dan raga mu, ingat keluarga mu terutama istri mu nak"
Andra mengangguk dia terus bernyanyi, menarik nafas dan menghembuskan nya.
"Jangan dengar apa pun, fokuskan pada jiwa mu yang penuh keceriaan"
German terdiam memang dia lupa jika Amelia ini pernah sekolah jurusan psikologi.
"Kau adalah anak ibu yang paling ibu sayang nak, berjuang lah untuk selalu ceria dan bahagia dunia mu sangat penuh warna"
Andra sudah dimasukan kedalam mobil khusus rumah sakit, Rindi, ibu Amelia, Daddy Rei, Daddy German, ayah Andreas juga ikut mengantar Andra ke rumah sakit.
"Mas....."
Lirih Lisa.
Lisa sudah ketakutan setengah mati, tubuh nya gemetar.
Roy, Novan dan Anita kita menyeret tubuh Carmen yang masih saja ngangkang.
"Dasar kau wanita iblis"
"Tapi majikan kalian sudah menunggangi ku selama 3 jam lebih, sial nya istri keparat nya datang kalau tidak maka aku pastikan si Andra itu menjadi budak ku"
Anita pun meliukkan tali yang dia pegang sehingga membuat tubuh polos Carmen tertabrak dinding.
"Hei kau......!"
"APA! Profesor Andalas hanya menahan kita untuk tidak menyentuh mu jika bau cat pasti beliau tak keberatan"
Novan terkikik geli.
Ternyata Anita adalah wanita tangguh, Roy hanya tersenyum saja.
Mereka sudah memasukkan Carmen ke ruangan khusus di rumah sakit ini, ya Carmen juga dikirim ke rumah sakit yang sama dengan Andra.
"Lepaskan aku bajingan kalian"
Sedangkan Andra dibimbing oleh ibu Amelia agar menyatukan jiwa dan raga nya dengan kenangan masa kecil anak nya itu.
"Nak tolong maafkan anak ibu, ibu janji akan merawat nya"
Bisik ibu Amelia, sekarang nampak alat vital Andra bisa di kondisikan.
"Ibu cara anda sangat bagus lihat alat vital nya mulai kembali seperti semula"
Ibu Amelia tersenyum.
"Sejak kecil Andra sudah pandai dala mengolah emosi, aku mengajarkan dia untuk mencerna setiap emosi dan perkataan, aku sendiri yang mendidik nya di hutan kala kecil agar dia mengerti emosi nya sendiri"
Ketiga lelaki Daddy Rei, Daddy German, dan ayah Andreas saling berpandangan. Mereka mengangguk, melihat perubahan Andra yang semakin baik.
Profesor Andalas menyuntikkan obat kedalam infus milik Andra supaya pikiran nya lebih rileks.
"Kami semua dokter lelaki akan menunggui Andra sampai dia sembuh"
Andreas mengangguk.
"Lakukan yang terbaik dok"
"Jangan khawatir Andreas, dia anak yang kuat, aku belum melakukan apa pun pada nya lihat dia sudah mulai stabil"
Ayah Andreas mengangguk lantas tersenyum pada teman seangkatan nya itu profesor Andalas.
Rindi tersenyum, entah dia harus bagaimana menghadapi situasi ini. Tak mungkin dia menghukum suami nya hanya karena tak ada kesadaran saat melakukan nya. Namun Rindi tak bisa untuk menerima suami nya, dia jijik melihat suami nya menaiki wanita iblis itu.
"Nak......."
Papah Afar datang ke rumah sakit.
"Papah......"
Rindi langsung menghambur kearah papah Afar nya yang baru datang dari lantai yang lain di rumah sakit ini.
Rindi menangis sesegukan, papah Afar hanya bisa mengelus bahu anak nya.
BERSAMBUNG.