TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.361


German mengangguk dengan lemah, itu juga membuat ibu Amelia melotot karena ternyata William dan Lisa adalah anak dan menantu German Lordian.


"Apa maksud mu Ger?"


Namun German terdiam, dia sengaja melakukan itu agar ibu Amelia mau berbicara dengan nya.


German tidak mau mengungkapkan fakta apa pun.


"Jawab kenapa kau diam?"


"Apa yang harus ku jawab, bagaimana aku menjawab fakta nya jika tonton oleh orang banyak begini"


Ucap German.


Memang benar kenyataan nya mereka seperti dua kubu yang hendak kroyokan.


Daddy Rei menghela nafas dengan berat.


"Ger, istirahat lah dahulu, nanti kita makan siang sekaligus membicarakan masalah ini, kau benar rumah tangga mu tidak bisa dibincangkan dengan kondisi begini"


"Tapi dad.......?"


"Vin, ini urusan ibu, secara hak, kau tidak berhak berbicara karena kau hanya anak angkat nak"


Ucap Daddy Rei, seketika membuat Andra menjadi bungkam.


"Andra adalah anak lelaki ku sampai kapan pun, ikatan darah memang lebih kental tapi kasih sayang ku untuk nya sebening embun"


Ibu Amelia memeluk Andra, mengusap wajah nya.


"Kau tetap anak ibu nak, apa pun keadaan nya"


Ucap ibu Amelia lantas mereka berpelukan. Rindi meneteskan air mata nya terharu akan kasih sayang ibu dan anak angkat itu.


"Will antar Daddy mu ke kamar tamu"


Ucap Daddy Rei.


"Baik om"


Ucap William.


"Sayang aku ngobrol dengan papah dulu ya"


Ucap Will pada Lisa.


Lisa hanya mengangguk lalu tersenyum.


"Ayo dad, kita istirahat dahulu"


William menggandeng tangan Daddy nya itu, lantas segera memasuki kamar tamu.


Will mengambil kotak p3k yang tersedia di kamar tamu itu.


German mendesisi sakit karena luka nya tadi yang diakibatkan Andra itu mengering dan lebam.


"Kenapa tidak datang kemari dan ngomong baik-baik dad?"


"Daddy kira mommy mu bisa diajak bicara"


Will juga mengambil sedikit es agar luka membiru itu segera memudar, malu juga Daddy nya yang sudah baya itu terlibat perkelahian.


"Ah, anak itu tenaga nya mirip Daddy nya?"


"Sudah tahu Andra yang jadi anak angkat mommy, Daddy malah ngeyel"


German tersenyum sambil menahan sakit.


"Dad, mommy tidak ingatkah pada kita?"


Sesaat German terdiam, dia takut salah bicara pada anak bungsu nya ini.


"Jangan bahas apa pun dulu ya, kita urus agar mommy mu mau kembali bersama Daddy dahulu"


William pun mengangguk, memang Will adalah anak yang penurut meski pun seorang lelaki.


Meski Will sangat pintar namun dia tidak serakah sama sekali, Will anak yang menurut kepada German selaku Daddy nya karena sering nya German melamun ketika matahari akan terbenam.


Will selalu ingat Daddy nya itu suka senja hari dan tersenyum dengan senyum yang indah, namun German muda sangat pemurung hingga tidak ada keceriaan di mansion yang besar itu dahulu.


"Will akan bantu Daddy ngomong sama mommy Amel dad"


Ucap Will agar Daddy nya senang.


German menepuk pundak Will karena bangga pada anak nya yang berada disisi nya itu.


"Ya sudah Daddy istirahat dahulu ya, aku mau keluar untuk mencari kesempatan menemui mommy"


German mengangguk dengan cepat.


"Terimakasih nak"


Will mengangguk dengan cepat. Ruang tamu yang sesaat tadi sangat ramai kini sangat sepi sekali.


"Mereka pada kemana bik?"


"Ke kamar masing-masing tuan"


Tok......tok.......tok.


Will mengetuk pintu kamar ibu Amelia.


"Masuk"


Will melongokkan kepala nya kedalam kamar ibu Amelia.


"Ibu sedang istirahat?"


"Ibu tidak tidur, hanya merebahkan badan saja, ternyata ke pasar sangat lelah sekali"


William tersenyum.


"Ayo masuk ke kamar ibu kalau ingin berbicara dengan ibu"


"Terimakasih Bu"


William masuk ke dalam kamar ibu Amelia dengan canggung tidak secanggung ketika di rumah sakit.


Ibu Amelia memandang kearah Will.


"Kau anak nya German?"


Lirih ibu Amelia.


"Ibu tidak ingat?"


Ibu Amelia menggelengkan kepala nya.


"Kenapa Bu?"


"Ibu tidak mengingat semua nya, hanya samar dan sekarang bayangan yang kadang hadir di mimpi ibu itu nyata, ibu hapal dengan suara Daddy mu"


"Apa ibu mau melihat sesuatu?"


Ibu Amelia melihat kearah William.


"Aku selalu menyimpan nya sebagai jimat sejak aku masuk ke sekolah dasar"


William mengambil liontin yang selalu di pakai nya, dia membuka bandul liontin milik nya dan terpampang lah wajah German, William dan ibu Amelia.


Ibu Amelia memandang kearah William, Merai foto di bandul itu, melihat Will yang nampak sendu.


"Kenapa foto kita bertiga ada disini?"


"Ibu tidak ingat?"


Ibu Amelia menggelengkan kepala nya.


"Karena aku putra kedua mu mom"


Lirih William.


Ibu Amelia kaget sampai menjatuhkan bandul liontin yang William berikan. William menangis bersimpuh di kaki ibu Amelia karena seumur hidup baru sekarang dia melihat mommy kandung nya itu.


"Apa yang kau lakukan nak?"


Ibu Amelia pun menghindar kaki nya disentuh William.


"Ibu adalah mommy kandung ku"


"Be....benarkah itu?"


William mengangguk karena memang itu kenyataan nya, wanita yang di kuburkan itu hanya mengandung nya sedangkan Will sudah tes DNA tanpa sepengetahuan dari Daddy nya.


Will anak ibu Amelia yang di foto bersama Daddy nya bukan anak istri yang di nikahi Daddy nya secara publik itu.


"Ibu tidak ingat?"


Ibu Amelia menggelengkan kepala nya.


"Bisa ibu ceritakan agar aku bisa melihat dimana letak celah nya"


Ibu Amelia menghela nafas, jika memang William adalah anak kandung nya bersama German berarti selama ini diri nya dibodohi oleh asisten orang tua German.


William terdiam memandang wanita cantik disebelah nya ini, wanita yang sederhana penuh dengan kelembutan.


"Ibu memang bukan orang gedongan namun ibu ini anak tunggal meski bukan orang kaya tapi kami orang tua ibu rata-rata yang memiliki kemampuan untuk menyekolahkan ibu ke universitas"


Ibu Amelia menjeda ucapan nya, menyatukan ingatan yang mulai memudar itu.


William mengelus bahu paruh baya yang masih cantik itu.


"Ibu hanya punya sepupu, ibu kuliah di kota, meski dikirimi uang namun ibu tetap ingin menambah uang jajan bila perlu ibu biayai sendiri kuliah ibu, ibu bertekad karena ibu semangat kuliah di kota untuk mengangkat derajat ibu"


"Ibu adalah wanita yang tangguh"


Ucap Will menyemangati ibu Amelia yang mulai bercerita ketika masa muda nya dahulu.


"Saking senang nya kuliah, ibu kerja sambilan meski pun gaji nya perhari tapi ibu senang karena bagi ibu yang dari kampung uang 200 ribu itu sangat banyak di negara Z saat itu"


Ibu Amelia bercerita dan Will pun menjadi pendengar nya.


BERSAMBUNG.