
Andra merasa muak dengan tingkah mereka. Tersenyum namun mata mereka jelas menggambarkan kelicikan.
"Ini keponakan jauh dari Tante, Arisi panggilan nya Sisi"
Ucap Elian.
Andra hanya mengangguk lantas tetap tenang menyantap makan malam nya. Mereka berbicara satu persatu di hadapan Andra.
"Oh ya nak Arvin, Sisi ini lulusan universitas terbaik di negara A loh"
Ibu dari wanita yang di sodorkan ibu tiri Andra kini bersuara, Andra tersenyum.
"Sekarang bekerja di perusahaan model internasional meski belum launching tapi Sisi sudah akan debut dua bulan lagi"
Ucap Ayah wanita itu sambil tersenyum lebar, Andra tetap tersenyum.
Selama makan malam yang dibahas adalah wanita yang disodorkan ibu tiri Andra namun tidak ada pembahasan yang lain nya.
Mereka juga berbincang tanpa henti mengenai sosialita dan perusahaan. Tanpa terasa sudah larut jam menunjukan pukul 10 malam.
"Kami pamit dulu, jangan lupa generasi muda supaya lebih dekat"
Bisik sepupu lelaki dari ibu tiri Andra, dan Elian tak khayal tertawa lepas mendengar bisikan itu.
"Sisi jangan lupa nanti kunjungi kantor Arvin"
"Baik Tante, selamat malam"
"Selamat malam hati-hati"
"Sampai jumpa kak Arvin"
Andra hanya mengangguk tanpa ingin berbicara, dia kembali mendorong kursi roda menuju kamar nya.
"Arvin jangan lupa ya nanti ajak Sisi buat jalan-jalan"
"Iya Tante"
Andra malas berhadapan berlama-lama, ibu tiri nya belum menunjukkan sifat asli nya dia tidak akn tertipu dengan topeng wanita rubah itu.
Andra langsung bergegas pulang tanpa berpamitan pada siapa pun.
"Pah, mana Arvin?"
"Baru saja pulang"
"Hah!, kok bisa"
"Besok pagi dia sibuk kata nya"
"Alasan saja, bilang jangan mengecewakan kita, mamah sudah susah-susah mencarikan calon istri yang baik buat dia"
Rei diam tanpa menjawab.
"Papah sama anak sama saja keras kepala nya, nanti juga kalau sudah menikah pasti cinta kok, ribet dengan cinta saja"
Elian menggerutu sambil menaruh piring kotor di dapur, lantas semua nya segera beristirahat.
Cling.......
Ada pesan masuk ke dalam ponsel milik Camelia, dia melihat suami nya sudah terlelap.
'Cepat datang ke ruang kerja ku, penting'
Sebaris pesan yang terkirim dari nomor ponsel Aditya itu, Camelia segera turun ke lantai dasar. Tak berapa lama dia sampai di depan pintu ruang kerja Aditya, Camelia mengetuk pintu itu.
Klek.
"Ayo masuk"
"Ada apa malam begini mencari ku?"
"Aku butuh pendapat mu?"
"Bagaimana kak?"
"Kita ke rencana selanjut nya, kali ini harus berhasil"
"Apa barang nya sudah siap?"
"Ini yang paling strong dan paling cepat reaksi nya tapi efek nya tahan lama"
"Oke nanti kita atur waktu dan kondisi nya agar tidak ada bukti atas kesengajaan ini"
"Pintar juga kamu"
"Kan adik kakak"
Aditya tersenyum sinis, rencana nya pasti akan berjalan lancar nanti nya.
'Setelah rencana nya berhasil, aku akan mengirim suami mu ke neraka dan menyiksa mu agar jangan jadi batu sandungan ku'
Gumam Aditya dalam hati.
"Baik lah, nanti aku akan menaruh mata-mata disisi Arvin dan Sisi untuk kordinasi"
"Bagus, aku akan mengatur acara nya"
"Baik lah, aku tidur duluan kak"
"Kau pergi lah"
Aditya kembali ke kamar nya untuk beristirahat disisi istri nya. Bukan nya istri Aditya tak tahu, tapi selama ini dia hanya diam.
Meski dia menangis tapi tetap menahan amarah nya karena wanita itu mencintai Aditya secara tulus.
Andra sudah sampai di rumah nya.
"Roy cari tahu gadis bernama Sisi itu"
"Baik tuan"
"Sudah larut, istirahat lah"
Andra bergegas mandi lalu mengganti baju dengan piyama nya lantas berbaring untuk istirahat. Seketika terbayang wajah ayu nan indah milik Rindi.
"Kenapa muncul begitu saja"
Gumam Andra.
Andra seketika memejamkan mata nya, meski susah dia pejamkan. Tak terasa hari sudah menjelang pagi saja, Andra segera bangun untuk mandi.
"Huhft kenapa lelah sekali?"
Dia tersenyum seolah menertawakan diri nya sendiri, baru 10 hari di kejar gadis remaja itu namun setiap saat wajah gadis itu terbayang.
"Apa tidak pernah bergaul dengan wanita jadi gadis itu nampak memenuhi pikiran ku?"
Gerutu Andra.
"Tuan"
"Kau sudah datang Roy?"
"Iya"
"Apa jadwal ku padat?"
"Seharus nya tidak"
"Baik lah"
Mereka menuju ke perusahaan selama perjalanan kurang lebih satu jam. Andra bekerja seperti biasa nya, dia sarapan terlebih dahulu.
Rindu seperti biasa memakai pakaian pelayan restoran milik paman nya, dia sudah lebih dari seminggu jadi tidak ada yang protes.
"Bagaimana pekerjaan mu?"
"Kok papah masih tanya?"
"Bukan tanya ke kamu tapi ke adik mu"
"Dia kan cuma pelayan restoran, apa masalah nya"
Ucap Lisa wajah nya cemberut karena sang papah lebih perhatian ke adik nya.
"Iya lah pah, Lisa kan lebih susah kerja nya, Arin cuma pelayan paling hanya menyajikan menu makanan yang ada di resto itu"
"Ya sudah lah"
Rindi hanya terdiam tanpa sepatah kata pun, diam saja sudah membuat seisi rumah heboh apa lagi jika dia berbicara tentang fakta diri nya pasti akan di bumi hanguskan oleh mereka.
"Pah, Arin berangkat ya"
Menyalami sang papah saja karena biasa nya mamah tiri dan kakak tiri nya sangat jijik pada nya. Dulu Rindi melakukan apa pun untuk bisa menyalami mamah dan kakak nya tapi setelah Minggu lalu dia tahu fakta nya maka dia lebih baik diam.
Rindi mengendarai sepeda motor yang dia pinjam dari bibi yang bekerja sebagai pelayan di rumah paman nya. Bertepatan dengan itu, Afar juga keluar untuk bekerja di kantor.
"Arin itu sepeda motor mu?"
"Bukan pah, aku pinjam di rental motor"
"Oh, baik lah, papah mau berangkat dulu"
Arin hanya mengangguk lantas memperhatikan kendaraan roda empat yang di pakai sang papah adalah keluaran terbaru. Mereka bilang keuangan sulit dan perusahaan dalam keadaan sepi tender nyata nya itu hanya alasan agar Rindi tidak berkuliah.
Rindi segera menuju rumah paman nya untuk menerima materi kuliah secara eksklusif karena tutor yang di sediakan sang paman di panggil secara khusus bahkan dari luar negeri.
"Non Rindi sudah pulang?"
"Datang BI bukan pulang, ini rumah paman bukan rumah Rindi"
"Oh iya, bibi lupa non"
Rindi hanya tersenyum, dia sangat bertekad jika dia harus bersungguh-sungguh menerima materi dari tutor nya termasuk menghapal bahasa asing.
"Sudah sarapan belum?"
Rindi pergi ke dapur, dia melihat paman nya sedang sarapan.
"Sudah di rumah, paman"
"Oh, hari ini paman mau ke perusahaan lalu nanti paman akan ajak kamu ke restoran"
"Rindi libur lagi ya paman?"
"Tentu saja belajar"
Rindi hanya cemberut, melihat itu paman nya mengelus kepala nya.
"Paman ke kantor dulu ya"
"Hati-hati paman"
Dengan cepat tubuh sang paman sudah menghilang dari pagar rumah, Rindi duduk di ruang keluarga menonton televisi acara kesukaan nya.
BRAAKK.........
Tak sengaja Rindi menyenggol laci yang ada paling bawah hingga isi nya keluar semua.
"Ini album foto yang usang"
Rindi yang suka penasaran segera melihat nya, dia mengamati satu keluarga yang hangat dengan penuh senyum di dalam potret itu.
'Ini paman, tapi kok ini tidak mirip dengan mamah Melina'
Ucap nya dalam hati, Rindi terus membuka halaman demi halaman. Saat anak-anak hingga remaja, itu foto masa kecil paman nya dan wanita itu jelas bukan Melina.
Namun halaman terakhir itu, mata Rindi terbelalak disana ada foto kedua orang tua dari paman nya yang arti nya kakek dan nenek nya. Lalu paman nya yang berwisuda ketika menyelesaikan sarjana nya serta gadis manis yang berkepang itu tersenyum dengan cantik.
Rindi berdiri di cermin dengan memandang diri nya dan wanita yang ada di sebelah paman nya.
Deg......deg.
BERSAMBUNG.