
Karena kesal, maka Lisa segera berdandan cantik ingin pergi hang out dengan geng sosialita nya yang super glamour.
"Mau kemana?"
"Seneng-seneng mah"
"Kapan kau menangkap Andra si konglomerat muda Alkatiri itu?"
"Tenang mah, pelan-pelan saja"
"Awas jangan sampai kau hanya mengantri tapi tidak kebagian"
"Iya, ini mau nyusun rencana dulu"
"Rencana apa paling foya-foya"
Melina pun segera pergi untuk arisan sosialita nya juga. Rumah keluarga Mukti selalu sepi ketika jam 10 pagi, mereka sudah tidak tahan ingin menghamburkan uang layak nya konglomerat.
Rindi turun ke dapur, dia ingin memasak makan siang yang sederhana saja. Meskipun tingkat memasak nya masih rendah namun Rindi pernah belajar memasak saat ada lintas minat tata boga di sekolah menengah nya.
"Nah sudah selesai"
Rindi mengemas dalam kotak cantik, lalu membawa nya naik ke kamar nya karena dia ingin mandi. Tak berapa lama Rindi selesai mandi, dia hanya memakai celana jeans dengan atasan berkerah saja. Dandanan nya simpel dan wajar.
Rindi turun ke bawah untuk segera berangkat.
"Non, non mau kemana?"
"Ke rumah teman bi"
"Hati-hati ya non"
"Iya bi"
Rindi segera pergi, untuk ke perusahaan Andra, dia naik bus karena masih keburu sebelum jam makan siang.
Andra sangat sibuk di perusahaan meski hanya 2 hari saja dia tinggalkan, meeting berbagai proyek berbenturan hingga jadi meeting di luar beberapa perusahaan dengan jadwal padat.
"Lelah sekali"
"Apa mau pesan makan sekarang tuan?"
"Tidak usah, aku belum lapar"
"Baik lah"
Tapi kenyataan nya Andra sudah kelaparan dari jam 11 siang tadi, maklum beberapa meeting di luar sangat padat.
"Kenapa belum datang juga?"
Andra diam saja, dia menonton beberapa acara berita yang sedang beredar di dunia. Berita bisnis adalah tujuan utama nya.
Rindi sudah sampai di lobi perusahaan, dia menyapa resepsionis di depan.
"Selamat siang mba"
"Siang mba apa yang bisa saya bantu"
"Apa pak Arviandra ada?"
"Pak Arviandra itu CEO kami, apa sudah ada janji?"
"Belum sih"
"Maaf tidak bisa bertemu kalau belum ada janji"
"Tapi ini penting mba"
"Maaf ya mba silahkan kembali besok lagi"
Rindi cemberut, dia duduk di kursi tunggu, waktu makan siang akan segera tiba, dia tidak bisa menunggu lagi. Rindi bergegas masuk melalui lift, namun di tahan oleh satpam.
"Maaf nona anda harus melapor ke bagian resepsionis, ini perusahaan tidak bisa sembarangan orang memasuki"
Rindi kembali duduk menunggu meski kesal. Hampir setengah jam menunggu, tak ada kabar Rindi juga sudah menelpon kedua ponsel Andra dan Roy tapi tak di jawab.
Krinnggg..........
Telpon perusahaan berbunyi resepsionis segera mengangkat nya.
"Iya selamat siang dengan perusahaan xxx"
"Ini saya, jika ada wanita remaja sekitar 18 tahun datang suruh dia langsung masuk saja"
"Baik bos, sekarang wanita itu belum datang bos"
"Baik lah, tunggu dia saja"
"Siapa bos"
Resepsionis itu menutup telpon nya.
"Kenapa?"
"Bos sedang menunggu wanita berusia 18 tahun"
"Mana ada wanita itu, buat apa memang?"
"Entah lah, biarkan saja bilang saja tidak ada bereskan, tidak usah ribet segala macem"
"Betul lebih baik nonton acara di ponsel lebih berguna"
Di lantai paling atas Andra sudah tidak tahan, karena sampai sekarang pun gadis yang ditunggu tak ada kabar nya. Apa lagi resepsionis tak mengabari apa pun sampai saat ini. Jam makan siang hampir berakhir, jadi Andra putuskan untuk pergi ke lobi.
"Mau kemana?"
"Ke lobi sebentar"
Andra menggunakan lift khusus, lantas mendorong kursi roda nya. Tak berapa lama lift sudah sampai di lobi, dia melihat sekeliling. Andra kaget, karena ada gadis kecil itu sedang duduk di bangku tunggu.
Dia melirik resepsionis yang sedang asik menonton ponsel mereka, dan satpam yang sedang di pos nya. Andra memanggil satpam itu untuk mendekat.
"Sudah berapa lama gadis di tempat tunggu itu duduk disana?"
"45 menit sebelum jam makan siang tiba bos"
"Baik lah, kamu kembali lah bekerja"
"Terimakasih, bos"
Ddrrtt.....ddrrttt.
Andra menelpon Roy untuk turun ke lobi, sambil memperhatikan Rindi yang terkantuk-kantuk. Andra melihat ponsel nya penuh dengan panggilan nomer baru.
"Iya tuan"
"Turun ke lobi sekarang"
"Baik"
Tak berapa lama Roy datang dengan tergesa-gesa lalu menghadap. Satpam memperhatikan interaksi bos nya itu dari kejauhan.
"Tuan"
"Lihat dua resepsionis itu, pecat mereka"
"Baik tuan"
Roy segera menghampiri mereka.
"Jadi kalian di bayar di perusahaan ini untuk mengobrol santai dan menonton acara yang ada di ponsel"
Dua resepsionis itu kaget, mereka segera mematikan ponsel itu. Mereka berdiri, mereka juga melihat big bos galak mereka ada di belakang asisten utama itu.
Andra memutar kursi roda nya lalu mengangkat gadis remaja yang terkantuk-kantuk itu. Dua resepsionis itu melihat nya, mereka menjadi gemetar karena nya.
"Sudah tahu kesalahan kalian?"
"Sudah bos"
Mereka berkata dengan terbata-bata.
"Kalian dipecat tanpa hormat atau pun pesangon, silahkan keluar sekarang juga"
"Baik bos"
Roy melihat Andra sudah membopong tubuh Rindi di kursi roda nya. Dia segera membawa kotak makan berukuran besar itu, lalu ikut naik keatas.
"Bagaimana?"
"Beres tuan'
Sampai di lantai atas, Andra segera masuk ke ruangan nya. Banyak pasang mata yang melihat bos mereka yang anti wanita itu kini membawa wanita ke ruangan nya.
"Ternyata bos bukan gay"
"Bos sudah mengenal wanita"
"Wah bos sudah sadar bahwa lelaki itu harus punya wanita"
"Bos akan meneruskan garis keturunan Alkatiri"
Begitulah banyak desas-desus di kantor Andra. Roy hanya menyuruh mereka bubar, dan melanjutkan pekerjaan mereka.
Andra meletakkan Rindi, menyelipkan rambut gadis itu ke telinga nya, agar Andra bisa melihat kecantikan gadis yang ingin mengejar nya itu.
"Engghhh......."
Rindi melihat sekitar ruangan, dia ingat masih di ruang tunggu itu. Rindi terbangun, dia ingat ini ruang kantor Andra.
"Sudah bangun?"
"Maaf aku ketiduran"
Rindi melihat jam sudah pukul 2 siang.
"Kotak makan siang nya sudah dingin?"
"Aku sudah memakan nya separuh tadi"
"Maaf"
"Untuk apa?"
"Karena makanan nya dingin"
"Bukan nya ingin mengejar ku"
Rindi mengangguk tersenyum.
"Panaskan pasta nya, rasa nya lumayan"
Pasta yang dia buat, hanya dikatakan lumayan oleh lelaki itu.
"Tapi itu sudah tidak enak tuan Arviandra"
Andra menoleh, dia tidak menyangka jika gadis kecil itu sedang menggoda nya.
"Jangn menggoda lelaki dewasa"
"Jadi bagaimana penilaian mu tentang pengejaran cinta ku?"
"Skor nya 40"
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena aku sudah lapar dan kau belum datang"
Rindi cemberut, tapi Andra pura-pura tidak melihat nya. Andra segera ke kembali ke meja nya untuk melanjutkan pemeriksaan proyek yang dia tangani.
BERSAMBUNG.