TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
EPS.60


Dalam Cinta yang berdentam


Bara dalam dada bak cahaya


Mengalun merdu bak nada rindu


Jika ku pandang


Selaksa oase


Damai ku, sejuk ku, dan ingin ku


Namun kekasih


Aku hanya lah debu tanpa Bayu


Syair tanpa Rima


Dan narasi tak berdawai


Bak kaca retak


Bak runtuhan asa


Tak dapat ku genggam


Selayak nya cinta


Di musim sepi


ku tuliskan rindu


lewat sepucuk surat biru


Dengan sampul indah nama mu


Bila kau bersua


Maka aku lah disana


Bila kau bersedia


maka ku tunggu kau


Kekasih


Rindu ku bak bulatan dawai rindu


Aksara mengelus Poto besar pernikahan nya yang terpajang di dalam kamar nya. Menatap dan seakan dia berputar pada masa 8 bulan yang telah berlalu.


"Aku sungguh tak sanggup Cinta, aku kesepian"


Setetes bening air mata Aksara meleleh jua di pinggir bola mata nya. Selalu seperti itu selama 8 bulan, sang mommy merasakan sakit di hatinya melihat putra semata wayang nya hanya memeluk erat foto itu. Mommy Diah segera turun ke lantai 2 untuk memasuki kamarnya kembali.


"Menengok Rayz lagi?"


Sang mommy hanya mengangguk lemah.


"Jangan terlalu dipikirkan, biarkan dia mengobati luka nya sendiri, jika kita ikut campur maka kesedihan itu akan menjadi penyakit bagi nya"


Ucap daddy Ditya.


"Ayo tidur sudah malam!"


"Iya dad"


Pagi hari Aksara segera bangun, meski badannya tak sesehat dulu namun dia terus bekerja. Sudah seminggu ini dia pergi ke kantor secara langsung, bukan dia tak pernah memikirkan istrinya, justru dia ingin menyibukkan Diri karena 1 detik saja Aksa terdiam maka bayangan Cinta akan tertawa dihadapannya. Hari operasional perusahaan dengan penuh 5 hari namun hari Sabtu akan beroperasi sampai jm makan siang saja.


"Bos sudah waktunya pulang!"


"Aku akan mengerjakan beberapa laporan lagi"


"Baik"


Melki yang sedari tadi berdiri kini duduk dihadapan bos nya karena waktu sudah lewat jam kerja.


Cinta sempat melihat Aksa pagi tadi bertandang ke perusahaan itu, sekarang sudah jm 12.30 semua karyawan sudah sepi, mereka rata-rata sudah kembali ke rumah masing- masing.


"Sebaiknya aku pulang"


Cinta pulang dengan berjalan kaki, Cinta berjalan kearah taman dijalan raya yang menuju ke perkomplekan elit kediaman utama Alkatiri. Cinta berhenti di taman, dia membeli es cendol yang dibungkus di plastik.


"Ah disana ada kembang gula"


Cinta menghampiri pedagang itu, lantas membeli 1 buah kembang gula, menenteng nya sembari menyedot es dawet nya.


Duduk di taman yang sejuk dengan semliwir angin yang sudah mulai berhembus, mengelus lembut pori-pori kulit Cinta. Cinta teringat akan kisah nya, cinta yang manis yang dia impikan hingga menua bersama tapi kenyataannya itu sekarang mulai musnah. Cinta menangis terisak, bolehkan di berkeluh kesah karena 8 bulan pengasingan nya yang ditangkap dan menjadi umpan saat ini.


Sementara seseorang sedang menatap kearah nya yang sedang tersedu menahan tangis. Hingga gerimis turun semilir mengikuti angin, namun Cinta tak merasakan dinginnya sama sekali.


'Sedang apa gadis itu, duduk menangis lantas hujan tidak berteduh'


Gumam seorang lelaki yang tak lain Wicaksara Rayz Alkatiri. Aksa berada disana saat akan pulang tiba-tiba ban mobilnya kempes.


1 jam telah berlalu, hujan semakin besar menjatuhi bumi namun seorang gadis belia di bangku itu masih saja duduk menelungkup kan wajahnya di lutut nya yang ditekuk.


"Tuan mau kemana?"


Aksara berjalan membawa payung yang agak lebar muat untuk dua orang. lalu setelahnya memayungi tubuh kurus itu, memperhatikan sejenak. Cinta kira tidak ada orang yang akan tahu jika dia menangis karena air mata nya bersatu dengan hujan.


Dengan gaya bicara yang datar lagi dingin Aksara berbicara pada Cinta.


Cinta masih terdiam, tak menggubris.


"Kenap kau tidak pulang?"


Lanjut lelaki matang itu.


Kali ini Cinta mendongak, menatap wajah Aksara, ingin sekali memeluk tubuh jangkung yang hangat itu. Mata yang memerah, wajah yang kusut, sembab lagi tak karuan.


"Kalau kau menangis, kau seperti badut"


Sontak mata Cinta melotot, memandang kearah lelaki itu.


'Om Aksa'


Gumam Cinta dalam hati.


Aksara masih memperhatikan dirinya, sungguh dia tak ingin terlihat oleh Aksara saat ini.


Cinta mengusap muka nya, berlari dengan cepet menghindari Aksa. Namun Aksa lebih dulu menarik baju Cinta, agar bisa menghentikan laju larinya.


"Jangn membuang tenaga mu!"


Cinta pun pasrah dibuat nya, Cinta di bawa paksa oleh Aksara menuju mobil nya.


Mobil selesai diperbaiki, dan mereka hendak melaju.


"Tuan, maaf saya ingin jalan kaki saja"


Sementara hujan deras sekali di luar.


"Apa kau bodoh?"


Cinta menggeleng.


"Ambil handuk ini, gosok tubuh basah mu itu"


Cinta segera menggosok tubuh nya lantas rambut juga mukanya. Cinta melihat wajahnya tidak berubah, untung saja pikir nya.


"Di mana rumah mu?"


"Saya turun di gang depan saja, tuan"


"Baik lah"


Mobil berhenti di gang kecil, namun bukan gang menuju rumah Cinta dengan ibu palsu yang dicarikan Karenina itu.


'Untung dia tidak curiga'


Gumam Cinta sambil tersenyum.


Cinta kembali berjalan karena rumahnya di gang ketiga nanti belok. Cinta segera mempercepat langkah ketika mobil Aksara menjauh dan tak terlihat lagi.


"Tuan"


Aksara melihat kaca spion pertanda mendengarkan ucapan Melki.


"Apa dia bukan wanita berbahaya?"


"Untuk sementara dia bukan target kita, biarkan saja"


"Baik tuan"


"Bagaimana penyelidikannya?"


"Masih buntu tuan, tidak ada lokasi atau keanehan lainnya yang terjadi"


"Baik lah"


Mobil Aksara menuju kembali ke rumah.


'Tapi entah mengapa gadis OG itu selalu muncul dipikiran ku, selalu terbayang bentuk tubuhnya bahkan tatapan mata itu'


Lamun Aksara, ketika dirinya merendamkan diri di kolam renang sore ini.


"Kau sudah pulang nak?"


"Sudah dad"


"Daddy punya kenalan, temannya memilik klien penting dari Negera kita, namun sudah hampir 3 minggu tak ada kabar lagi, dia meminta tolong pada Daddy untuk sekiranya mencari keberadaannya karena kita berada di negara yang sama bagaimana menurut mu?"


"Masuk akal?"


"Daddy berencana mencari nya sore ini di rumah sakit!"


"Memang dokter bagian apa?"


"Dokter bedah plastik"


Aksara mengerutkan kening nya, Daddy nya hari ini salah minum obat pikir nya.


"Tapi sebelum Daddy mencarinya, daddy menemukan pin dokter teman dari temannya Daddy ini di dekat perumahan kumuh milik keluarga Aryandy, ketika Daddy mengunjungi teman lama yang kebetulan tinggal disana saat ini"


Aksara memperhatikan dengan seksama cerita sang Daddy. Dokter bedah plastik memang Karenina membutuhkannya itu sangat normal untuk menunjang penampilannya, tapi mengapa harus dihabisi seperti itu pikir Aksara.


BERSAMBUNG.