
Mereka sudah turun sedang memakan santap malam nya bersama Daddy Rei.
"Daddy kira kalian sudah pulang?"
Ucap Daddy disela kesibukan nya memakan makan malam nya.
"Memang Andra tidak boleh menginap disini dad?"
"Biasa nya jangankan menginap, berkunjung saja tidak mau"
Andra terdiam, Daddy berbicara dengan pelan tanpa emosi.
"Bik, kok telor nya sedikit"
Bibik yang di dapur segera datang memberikan telor ceplok ke meja makan.
"Maaf tuan"
"Masih banyak toping lain kok bik"
Ucap Daddy Rei, memang benar di meja makan banyak sekali toping seperti sosis, bakwan jagung, semur daging. Daddy Rei hanya menggelengkan kepala nya saja.
"Ayah mu tadi menghubungi Daddy, kata nya kakak dan ibu mu sudah sampai di rumah sakit, ibu mu di tangani dengan terapi sedikit nya mungkin menggunakan terapi hipnotis"
"Lalu?"
"Untuk kakak mu sedang diracikkan obat, apakah bisa bangun dari koma atau pergi selama nya"
Andra terdiam, berhenti menyuapkan makan malam ke mulut nya nasi goreng kebuli buatan bibik yang lezat serasa hambar saat ini.
"Pergilah ke resort, Daddy minta tolong sekalian awasi pembangunan taman bunga yang baru disebelah selatan ya"
Andra hanya mengangguk, Daddy segera beranjak untuk pergi ke ruang kerja nya.
"Ada apa?"
Rindi bertanya namun hanya di jawab dengan sebuah gelengan. Rindi tak bertanya apa pun lagi lantas segera menyantap kembali nasi goreng nikmat itu karena sangat lapar, mereka telah melewatkan makan siang mereka dengan adegan oleh raga ranjang mereka tadi siang.
"Nanti kita ke resort milik Daddy ya?"
Rindi yang nampak makan dengan lahap mengangguk saja karena sekarang mulut nya itu penuh. Andra tersenyum geli, rupa nya istri nya sangat kelaparan. Ya mereka melewatkan jam makan siang tadi karena perbuatan Andra yang konyol.
Andra mengelus pucuk kepala istri nya itu dengan sayang. Mereka segera naik ke lantai atas untuk segera tidur. Pagi hari tak terasa pasangan Andra dan Rindi masih bergelung dalam selimut. Cuaca nampak mendung karena mentari masih malu-malu menampakkan diri nya.
"Eunghhh........"
Rindi menggeliat di dalam selimut nya, Andra sudah bangun lantas memandangi istri nya.
"Sudah bangun mas"
Andra mengangguk tersenyum manis pada istri nya.
"Kenapa?"
Andra masih tersenyum lantas ******* bibir mungil istri nya dengan lembut.
"Hemmp...aku belum sikat gigi loh"
"Emang kenapa?"
"Kan bau"
"Tapi aku suka"
Rindi mencubit perut sixpack milik Andra, lelaki itu tak mengadu bahkan malah tertawa.
"Mandu yuk yang terus ke resort milik Daddy sekalian seneng-seneng disana yang"
"Ada pantai nya?"
"Tentu dong"
Waktu sudah tak pagi lagi lantas Andra dan Rindi langsung mandi bersama karena takut terlalu siang berangkat nanti macet di jalan.
Sebelum berangkat Rindi membawa bekal dari dapur.
"Buat apa yang?"
"Bawa bekal sekalian piknik"
"Gak usah bawa apa pun disana lengkap loh yang"
"Apa iya?"
"Iya, tenang aja mau makan apa pun ada disana"
"Oke deh"
Andra menggandeng istri nya, lalu berpamitan pada bibik untuk di sampaikan pada Daddy karena mereka akan ke resort. Andra mengeluarkan mobi edisi terbatas nya yang paling mahal agar istri nya nyaman karena jok nya lebih empuk.
"Ayo yang naik"
Rindi mengangguk sambil tersenyum, Andra mengemudikan mobil nya dengan santai. Andra membuka bagian atap mobil, mereka hanya mengenakan pakaian santai tak seperti berangkat ke kantor harus di lengkapi dengan stelan formal.
Setelah hampir 2 jam berkendara, akhir nya mereka sampai juga di resort yang sangat megah dan luas.
"Bagus sekali!"
Rindi terlihat senang dan antusias sekali melihat resort milik kakek Aryandy.
"Suka?"
"Suka banget, akhir nya aku bisa menginap di resort ini"
Rindi menoleh pada Andra karena perkataan lelaki yang sudah menjadi suami nya itu.
"Kok bisa?"
"Daddy berikan ini pada ku, aku berikan resort ini untuk mu sebagai tanda cinta ku"
"Lebay ahh"
"Beneran loh, kamu suka kan?"
"Suka banget"
"Maka nya resort ini untuk mu, lagi pula tak ada beda nya milik mu atau milik ku"
"Ada lah"
"Apa?"
"Jika milik mas bisa menjadi milik ku, tapi jika milik ku maka hanya milik ku dan anak-anak"
Ucap lirih Rindi.
"Anak-anak?"
"Ya anak-anak nantikan kita akan punya anak"
Rindi berkata demikian dengan mengelus wajah tampan Andra, Andra tersenyum senang. Benar, anak-anak bukan kah mereka sudah mencicil proses nya setiap malam. Andra jadi mengkhayalkan jika diri nya punya anak banyak maka setiap pulang kerja pasti akan dikerumuni oleh anak-anak. Daddy pasti nya akan kerepotan menggendong para cucu nya yang meminta gendong semua. Andra tertawa membayangkan itu semua.
"Mas kok kamu ketawa?"
Andra yang tersadar dari lamunan nya, segera menghentikan tawa nya.
"Gak ada yang lucu kok tertawa mas"
"Mas mengkhayalkan jika mas punya anak banyak, terus mereka berebut minta gendong ke Daddy yang sudah tua, trus Daddy kebingungan deh sama anak-anak"
"Kok jadi ke Daddy"
"Kan Daddy akan jadi opa dari anak-anak kita"
"Pasti Daddy bisa gendong nya mas kan cuma dua aja"
"Nggak cuma dua, aku mau punya anak tujuh"
"Hah!"
Rindi mencubit perut suami nya.
"Aduh yang sakit tau"
"Enak aja tujuh dikira kucing apa lahiran sampe tujuh kali mas"
"Iya kan mas anak tunggal kamu juga anak tunggal apa salah nya dong"
"Ya gak tujuh juga"
"Ya udah enam ya"
"Ih apaan sih"
Andra menggandeng tangan istri nya untuk melihat pantai yang ada di resort itu. Pasir nya putih dengan sir jernih, juga ombak yang menggulung indah.
"Indah banget mas"
Rindi berlalu menuju pantai, dia sedikit memainkan air nya yang jernih. Andra mendekat lantas memeluk istri nya memutar nya sebentar sementara Rindi tertawa di putar-putar seperti itu.
"Udah mas pusing tahu"
"Oke deh"
Andra menurunkan istri nya, lantas berjalan menyusuri pinggir pantai sambil bergandengan tangan dengan mesra.
"Mau duduk?"
Andra menunjuk tikar dibawah pohon kelapa tanpa buah itu.
"Boleh"
Mereka duduk bersisian sambil menikmati suasana pantai itu.
"Mau minum es kelapa?"
"Mau, makan nya semua makanan bakar yang ada di resto laut ya mas"
"Oke"
Andra bergegas untuk memanggil pelayang dan mencatat pesanan nya. Sekitar 1 jam kemudian datang lah pesanan yang mereka inginkan. Ada sosis bakar, isi kepiting bakar, udang bakar, ikan bakar, sate, beraneka sambal, dan beberapa jus, es teh, cah kangkung, cap cay, dan pelengkap nya nasi sebakul.
"Kok ada nasi"
"Kan pagi belum sarapan, mas laper sayang"
Rindi mengangguk saja, dia sudah ingin menyantap menu yang semua nya dibakar itu.
"Ayo mas makan, aku tidak sabar mencicipi mereka dengan sambal nya"
"Oke ayank"
Mereka memakan nya dengan perlahan bahkan sambil bercanda, Andra kadang memakan nasi atau pun menyuapkan nya pada Rindi. Mereka sangat mesra di pinggir pantai itu sambil menikmati udara pagi yang sebentar lagi akan menyengat.
BERSAMBUNG.