TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.171


Min menuruni tangga setelah mandi, dia bermaksud membuat sarapan.


"Nyonya mau apa?"


"Aku ingin membuat sarapan"


"Sarapan sudah dibuatkan, nyonya mau makan apa?"


"Tunggu tuan saja"


Tak berselang lama Rei sudah turun menuju meja makan.


"Kenapa belum sarapan?"


"Aku menunggu mu"


"Oh, hidangkan sarapan nya"


Rei mengambil nasi goreng, beberapa toping telur mata sapi, sosis, juga cumi bakar nya. Sementara Min mengambil roti bakar dengan aneka selai yang dia buat sendiri. Rei melirik istri nya itu, dia tidak melarang apa pun yang dimakan gadis itu.


"Tidak suka nasi goreng?"


"Suka"


"Kok ambil nya roti"


"Lagi pengen"


"Oh"


Setelah 30 menit mereka menghabiskan makanan mereka, lantas Rei memperbaiki stelan jas nya.


"Tuan kapan aku boleh kerja, bukan kah aku kesini karena naik jabatan?"


Rei terdiam, dia memasang jam tangan nya. Rei bangkit dari kursi lantas berjalan menuju halaman.


"Jangan pernah keluar dari villa ini"


Min diam saja tanpa menjawab dia sangat kesal, ingin sekali berteriak namun tak mampu.


Rei melajukan mobil kejalan besar dia bermaksud segera sampai di perusahaan nya.


Herdan sudah sampai di kota, dia dijemput oleh istri nya sendiri Riana.


"Kenapa lesu?"


"Entah lah tidak enak badan rasa nya"


"Ya sudah istirahat dulu saja, tidak usah masuk kantor dulu"


"Iya, lemas sekali"


Mereka berjalan beriringan, mobil dikemudikan Riana karena Herdan tidak ada tenaga saat ini. Mungkin sang suami nya terpukul dengan kenyataan atau juga sibuk memikirkan pekerjaan.


"Sudah sampai"


"Terimakasih sayang"


Waktu pun cepat berlalu, menjelang sore hari. Min sangat bosan, sehabis mandi Min menuju garasi mobil, disana ada beberapa mobil mewah, motor yang beragam juga sepeda. Min mengambil sepeda yang agak kecil tapi nyaman dan tidak berat ketika dikayuh.


"Nyonya mau kemana?"


"Aku ingin jalan-jalan sebentar James"


"Tunggu nyonya....."


James menarik sepeda kecil itu, hingga Min kembali turun.


"Maaf nyonya, tuan berpesan agar nyonya tidak keluar villa"


"Ini kan villa jadi tidak ada orang pasti nya, aku hanya berkeliling sebentar saja"


"Tapi nyonya......."


"Lepaskan!"


Min segera dengan cepat mengayuh sepeda nya menuju jalanan, sepanjang jalan itu hanya ada hamparan rumput yang hijau.


"Wah indah sekali, pantas aku tidak diperbolehkan keluar"


Sudah 30 menit Min mengayuh sepeda dengan kencang, dia menemukan sebuah taman yang sangat ramai dengan pengunjung di sore hari juga berderet jajanan yang sudah 2 Minggu ini tak dia nikmati.


Min membeli beberapa jajanan, dia menikmati nya dengan lahap.


"Wah aku bisa gendut kalau begini!"


PUKK....


Bahu Min ada yang menepuk nya, sehingga gadis itu menoleh dengan ragu. Seorang lelaki tampan tersenyum pada nya meski umur merek terpaut sangat jauh.


"Kakak!"


Min menyebut kakak nya dengan gembira, lelaki itu adalah Herdan. Herdan sedang bosan jadi menaiki motor nya, berkeliling di jalanan di sore hari hingga sampai ke sebuah taman di dekat villa adik ipar nya. Ternyata yang dia lihat adik perempuan satu-satu nya itu.


"Kau disini?"


"Iya, kakak kenapa ada disini?"


"Aku sedang bosan saja dan berkeliling jalanan, aku ke rumah mamah kata mamah kau naik jabatan apa benar?"


Min terdiam sebentar lalu tersenyum dengan paksa.


"Kok jam segini sudah pulang?"


"Iya aku kan karyawan baru jadi bisa pulang cepat"


"Di mana kantor pusat mu?"


Min melihat kearah samping, lantas terdiam kembali.


"Aku tidak begitu ingat karena baru beberapa kali kesana kak"


"Oh baik lah, jangan terlalu keras bekerja, ingat harus menghubungi mamah ya"


'Adik ku yang polos, jika Rei menyakiti mu dengan sengaja maka aku akan mempertaruhkan nyawa ku menyelamatkan mu'


Ucap Herdan dalam hati, namun dia juga tak berdaya hanya mendoakan agar sang adik baik saja.


Mereka tidak tahu jika sejak awal mereka bertemu ada sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik mereka bahkan pembicaraan mereka.


"Baik lah kakak pulang dulu, nanti kakak akan bawa kamu ketemu istri kakak"


"Wah baik lah kakak, hati-hati"


"Ini untuk mu"


"Tidak usah kak"


"Ini memang milik mu dek, simpan ya"


"Baiklah"


Min melambaikan tangan nya pada sang kakak, Herdan juga tak ingin berlama-lama berada disana. Sudah cukup bagi nya dengan melihat sang adik dalam keadaan baik. Herdan mengendarai motor nya sambil meneteskan air mata nya.


'Bajingan Sanunjaya tua itu selalu saja merebut milik ku'


Ucap lelaki yang ada diseberang jalan sana, yang tiada lain adalah Rei.


1 jam lalu Rei terburu-buru hingga menyuruh Aryos menyupiri diri nya. Dia pergi ke kios ponsel untuk membelikan ponsel baru pada istri nya. Tapi siapa sangka ponsel sudah dibeli, saat hendak ke arah villa dia melihat istri nya di taman itu. Awalnya ingin memberikan ponsel itu disana dan main sebentar memang tidak baik mengurung gadis itu di villa saja. Namun rencana nya hancur berantakan, tatkala di dahului oleh Herdan kakak ipar nya itu.


Min terlihat sangat senang, apa lagi bertemu sang kakak, Min hendak pulang dan kembali menaiki sepeda nya karena taman juga agak sepi.


"Sudah kenyang bermain nya?"


Min hapal dengan suara itu, gadis itu sangat kaget ketika menengok ke belakang.


"Tuan"


Lirih nya pada Rei.


"Yos, hancurkan sepeda itu"


Seketika Aryos melempar nya ke jurang, Rei menyeret paksa tangan Min.


"Sakit!"


"Tahu kalau sakit"


BUUKK...........


Min di dorong paksa masuk ke mobil.


"Aku bisa pulang sendiri!"


"Jalan Yos"


"Baik tuan"


20 menit mereka sampai di villa, lantas Rei dengan paksa kembali menyeret Min masuk.


"Siapa yang mengijinkan nyonya untuk keluar villa?"


Suara Rei yang menggema sontak membuat para pelayan berkumpul.


"Saya tuan"


Ucap James.


"Yos, pukul James dengan seratus cambuk dan potong gajinya selama tiga bulan"


Mata Min membulat, lalu dengan segera menghalangi Aryos yang ingin menyeret James untuk menerima hukuman.


"Tunggu, jangan lakukan itu, aku sendiri yang mau keluar tidak ada hubungan nya dengan James, tadi James sudah melarang ku, aku yang ingin keluar, jangan hukum James tuan, tolong"


Min menggenggam tangan Rei.


"Jangan potong gaji nya hanya pukul seratus cambuk saja"


Min masih terbelalak.


"Tuan aku sudah bilang, James tidak salah, bahkan dia mengingatkan ku"


"Jangan membela orang lain, pikirkan saja nasib mu sendiri"


Rei segera menggendong tubuh Min yang langsing seperti membopong karung beras saja. Rei membanting tubuh Min di bak mandi lalu mengucurkan air dingin setelah tangan dan kaki gadis itu diikat.


"Terima hukuman mu"


Min terdiam, dia hanya menundukkan wajah nya. Rei keluar dari kamar mandi, lantas menuju rak alkohol yang berjejer itu. Mengambil yang paling rendah alkohol nya, meneguk nya dengan pelan dan menyalakan rokok nya.


BERSAMBUNG.