
Mommy Jasmin yang baru kembali membeli sarapan di kantin, sedangkan Daddy baru saja pergi ke kantor nya untuk mengurus perusahaan yang terbengkalai meski baru 4 hari ini Andra tinggalkan.
"Arviinnnnnnn.........!"
Seru mommy Jasmin menghambur memeluk tubuh besar nan jangkung milik Andra yang sudah duduk bersandar di sandaran ranjang rumah sakit dekat tembok.
"Nak kamu sudah sadar?"
Lirih mommy Jasmin yang mengurai pelukan nya pada sang anak yang sangat dia sayangi sedari bayi.
"Mom kepala ku masih pusing, tapi aku ingin bangun mom, kenapa gelap sekali"
Ucap Andra masih terbata-bata.
"Sebentar ya nak"
Mommy Jasmin memanggil dokter untuk memeriksa keadaan sang anak dan mengabari suami serta Andreas dan Bu Amelia.
Tak berapa lama dokter dan profesor Andalas datang untuk cek tubuh Andra.
"Semua nya normal hanya mata mu belum bisa di gunakan, 48 jam ini kau akan ada dalam kegelapan bersabar lah menunggu reaksi obat membunuh bersih racun yang masuk kedalam tubuh mu"
"Memang saya kenapa dok?"
Mommy Jasmin menggenggam tangan putra tunggal nya ini.
"Tidak sayang, kau masih lemah sekarang istirahat saja, untuk pemulihan tubuh mu"
"Iya mom"
Andra berbaring, sementara ayah Andreas mengintip dan Daddy Rei, Bu Amelia juga datang.
"Apa kau lapar nak, ibu memasak menu kesukaan mu"
Tawar ibu Amelia.
"Tidak Bu, aku mual sekali"
Bu Amelia memandang kearah sang dokter karena nafsu makan Andra.
"Itu wajar Bu, lagi pula ada cairan infus yang selalu mengisi nutrisi tubuh Arvin"
Ucap profesor Andalas pada Bu Amelia yang mengangguk.
Tak berapa lama Andra kembali tertidur memang sangat disarankan untuk tidur kalau tidak maka ingatan masa lalu, masa kini dan mimpi nya akan berbenturan.
Mereka semua menunggu Andra dengan tenang karena terhindar dari kritis dan bangun dari koma singkat nya.
Sementara Rindi sudah sampai di negara S.
"Akhir nya aku sampai disini juga, aku rindu sekali ini sama apartment ku"
Rindi berjalan masuk ke sebuah hotel mewah di kawasan kota.
Dia mengelola butik milik nya di Negera tersebut.
Rindi tinggal di hotel itu, rencana nya besok dia akan berkunjung ke butik nya lantas saat ini dia akan tidur dan melemaskan otot nya dikamar dengan tidur.
Namun ketika Rindi hendak mandi, dia melihat ponsel nya bergetar maka terlihat lah nama sang paman di layar ponsel nya.
"Iya paman"
"Kau sudah sampai di negara S nak?"
"Sudah paman, kalau paman bagaimana?"
"Paman ada di perusahaan nak, kau istirahat lah besok baru pergi lihat butik mu saja"
"Iya paman"
"Ya sudah paman mau meeting dahulu nak"
"Iya paman sukses dan sehat selalu ya paman"
"Jaga diri disana baik-baik nak"
"Iya paman"
Rindi tersenyum manis seraya melangkah kan kaki nya menuju kedalam kamar mandi lalu membersihkan tubuh nya agar bisa dengan cepat beristirahat.
Tak menunggu lama Rindi mandi dan berganti baju tidur lalu istirahat.
Sementara di posisi Carmen wanita itu semakin tak normal saja otak nya.
"Bagaimana bisa kau bercinta dengan wanita itu setiap waktu?"
Ujar Novan menyenggol lengan Roy.
"SIAL!"
Umpat Roy, Novan hanya tersenyum karena atasan ketiga itu dijadikan umpan pasti dia geram saat ini.
Roy lelaki sadis tapi bisa ditipu oleh wanita memang kau mereka ini patut diacungi jempol.
"Diam lah!"
Gurau Novan.
"Awas kau"
Roy berlalu seraya masuk kedalam mansion.
Anita hanya menggelengkan kepala nya saja.
"Kau ini suka sekali menggoda nya"
"Dia bos killer"
"Pada hal tak ada yang salah, dia hany merasakan puber saja wajar dia bekerja keras"
"Hey kau juga menyindir nya!"
"Aku tidak ada orang nya"
"Hey aku dengar ya kalian menggosipkan ku"
Ujar Roy sudah berada di ambang pintu penjara dengan memegang 1 botol red wine nya.
"Ugh, takut bos"
Novan mendekat mengambil gelas Wina nya lalu Roy menuangkan nya.
"Jangan sampai gila"
Ucap Anita berlalu dari mereka berdua tak ada baik nya menemani orang mabuk pikir Anita.
Rindi terbangun ketika sudah malam diri nya sangat segar.
"Ya ampun sudah jam 9 malam ternyata aku tidur sangat lama sekali"
Rindi bergegas ke kamar mandi untuk mandi dia akan keluar mencari makan malam di luaran hotel.
Rindi keluar dengan outfit yang fresh bahkan terlihat seperti gadis 19 tahun meski pun sudah 24 tahun.
Dia makan di restoran memesan nasi goreng, beberapa gorengan dan es teh manis serta teh hangat.
Entah mengapa jadi lapar sekali, dia pun langsung menyabet habis makanan yang ada di atas meja tempat duduk nya.
"Ah kenyang nya"
Lalu Rindi menuju kasir dan membayar nya, di jalan menuju hotel Rindi menemukan aneka jualan kue diapun membeli nya.
Rindi mampir ke super market membeli berbagai macam buah, camilan, es krim, dan tak lupa sedikit mie instan.
"Seperti nya cukup"
Belanjaan Rindi sebanyak 3 kantong kresek besar.
Rindi berjalan pulang hampir jam 12 malam. Lantas dia segera mempercepat langkah nya menuju hotel karena hanya berjarak beberapa meter lagi.
"Lelah nya"
Keluh Rindi, entah mengapa sudah sekitar seminggu ini tubuh Rindi agak lelah mungkin karena jarang berolah raga lagi pula sepertinya timbangan berat badan nya naik jadi wajar kalau lelah dibawa jalan.
Rindi masuk kedalam kamar hotel nya. Ponsel nya nampak bergetar sedari tadi karena dia tinggalkan di kamar hotel.
"Iya mom"
Ternyata mommy mertua nya yang menghubungi nya.
"Iya mom"
"Tadi siang suami mu sudah sadar nak, mommy bahagia sekali nak, tolong doakan ya supaya cepat pulih"
"Iya mom"
"Bagaiman perjalanan mu nak?"
"Arin sudah sampai di negara S mom"
"Baik lah, sehat selalu kau disana nak, jaga diri mu, hati-hati kalau bepergian"
"Baik mom"
"Ya sudah mom matikan dulu ya nak, mom mau menyuapi Arvin siapa tahu dia sudah bangun nak"
"Iya mom"
Sambungan dimatikan setelah nya, Rindi juga sebenar nya agak berdosa karena meninggalkan suami nya yang masih butuh perawatan karena sakit.
Rindi terdiam, dia segera menyusun barang belanjaan nya di kulkas lantas membuka camilan dan menonton televisi acara yang bagus Yanga dan di negara S.
Namun tentu saja pikiran nya kacau karena fokus nya pada sang suami di negara A yang amat teramat jauh.
"Semoga cepet sembuh mas, maafkan aku yang meninggalkan mu, semoga kau bahagia, aku tidak tahu bagaimana hidup ku ini tanpa mu jujur aku selalu merindukan mu mas"
Ucap Rindi akhir nya pecah juga tangis nya, dia seolah sangat melow.