TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.151


Dengan terburu Min memasuki loby perusahaan berlari dengan secepat nya karena absen nya tersisa 10 menit lagi.


"Huft untung saja sampai"


"Kenapa tidak nitip absen pada ku saja"


"Saya masih sempet pak, maaf saya kedalam dulu"


Grep......


Tangan Min segera di cekal oleh Boy di depan loby perusahaan. Sementara ada beberapa orang menggunakan stelan mahal nya. Beberapa diantara nya melirik sebentar kearah nya yang menundukkan wajah nya. Mereka pun segera masuk ke perusahaan tanpa berminat akan urusan Min dan Boy.


"Pak tolong lepaskan tangan saya"


Min masih bersikap halus, dia menghargai lelaki itu tapi jika kedua tangan nya disentuh lelaki itu dia tidak rela.


"Aku akan melepaskan mu, jika kau mau makan malam bersama ku"


Ucap tegas Boy mencoba untuk memaksa Min. Min yang tahu jika lelaki itu tersenyum smirk, dia menghempaskan tangan lelaki itu segera saat lengah.


"Sial, dia lari dari buruan ku"


Boy geram dengan tingkah Min, pada hal diri nya sudah dua kali mendekati gadis polos itu.


Min menuju ruangan nya untuk segera menyelesaikan sisa dari pekerjaan meski masih 5 menit tersisa sebelum jam kerja di mulai. Min tidak tahu jika ada seseorang yang memperhatikan seluruh karyawan di perusahaan cabang itu.


'Ada beberapa karyawan yang sangat kompeten dengan waktu, kepintaran juga efisien sekali pantas maju dengan pesat'


Lirih Rei dalam hati.


Rei hanya seminggu di perusahaan cabang itu, dia ingin meninjau sumber daya manusia yang bisa dikembangkan dengan cepat.


"Tuan"


Pintu diketuk dari luar.


"Masuk pak Arto"


Selama 2 tahun ini pak Arto lah yang menjabat menjadi direktur di perusahaan pemasok bahan baku untuk perusahaan pusat yang dikelola Rei langsung. Awal nya pak Arto meminta ijin untuk pulang ke desa nya, Rei mengantar orang sepuh kepercayaan kakek nya itu. Namun disana terjadi perebutan lahan sehingga memicu pertengkaran antara keluarga pak Arto dan warga sekitar. Mau tak mau Rei maju dan turun tangan untuk mengurus lahan itu, dan terpaksa juga Rei beli untuk menyelesaikan perkara itu. Nah sekarang setelah di bangun gedung perusahaan malah bisa menghidupi warga di desa itu, memajukan desa itu dari desa sekitar. Lantas Rei juga membangun rumah sakit karena ada warna yang dengan suka rela memberikan tanah mereka, tak lupa pula Rei bangunkan universitas untuk desa itu.


Bukan hanya sekedar universitas biasa tapi juga bertaraf internasional yang membuat mahasiswa nya mampu bersaing dengan mahasiswa di kota-kota besar tentu nya.


"Tuan muda, semua sudah berada di ruang meeting"


"Baik 10 menit lagi kita kesana"


"Baik"


"Min ayo kita pergi ke ruang meeting"


"Baik lah"


Min segera menyimpan file milik nya kedalam 2 flashdisk, satu untuk kantor dan 1 lain nya milik nya sendiri.


Karina mengajak Min untuk pergi bersama, karena takut nya Boy mengganggu gadis polos itu.


Sesampai nya di aula besar, sudah banyak yang sampai disana. Tiap orang mendapatkan makanan, camilan bahkan minuman.


"Sering-sering aja meeting kayak gini!"


Ucap Karina, Min hanya tersenyum saja. Memang benar pada kenyataan nya nasi kotak itu menggugah selera dari bau nya saja.


"Kau kan orang berada Karina"


"Itu orang tua ku, sedangkan aku mandiri cari makan sendiri, bisa makan enak begini kapan lagi"


Min tersenyum Karina juga ikut tertawa karena Min mengira diri nya orang berada.


Rombongan CEO pemilik perusahaan sebenar nya sudah memasuki ruang meeting, mereka terlihat menggunakan stelan yang mahal lagi berkelas.


"Mereka sangat tampan sekali ya Min"


"Benar"


Min memperhatikan, bukan kah mereka yang tadi pagi datang ketika Min sedang dicekal tangan nya oleh Boy.


Pak Arto maju untuk membuka pidato.


"Wah pak Dirut sendiri yang maju memberikan sambutan nya loh Min"


Setelah nya Dino, disusul Rave dan Aryos yang menjawab beberapa pertanyaan dari para karyawan tentang rancangan produk dan perolehan gaji untuk mereka.


"Tapi yang di tengah belum berbicara sama sekali"


Ucap Min, langsung menengok kan kepala dari Karina.


"Apa jabatan nya hanya sekedar pelengkap saja"


"Entah lah"


Jawab Min dengan disertai menggedikan pada bahu nya.


BERSAMBUNG.