
Min berjalan gontai, entah mengapa sejak pagi dia sangat terasa lelah. Ada perasaan tak enak yang hinggap di dada nya. Dia sudah menelpon orang rumah di negara A, semua baik saja tak ada masalah namun diri nya masih saja merasa sesak.
"Kenapa nona?"
Asisten wanita nya bertanya karena melihat bos nya itu terlihat sangat lelah pada hal hari ini cukup istirahat seperti biasanya.
"Tak apa aku hanya sedikit lelah saja"
"Camilan sore sudah disiapkan perusahaan nona"
"Hem, baik lah aku segera menyusul"
Min masih membasuh muka nya di dalam wastafel toilet selesai dengan urusan kebelet nya.
"Sudah lah, mungkin hanya lelah saja"
Min keluar dengan santai nya.
BUUKKK.........
"Awww.........."
Min menabrak seorang lelaki jangkung, lelaki itu sopan karena membungkuk dan mendekat serta membantu nya berdiri.
"Apa yang terluka nona?"
Min mendongak, seketika wajah nya tegang. Lelaki tadi tak lain dan tak bukan adalah Rei, suami atau lebih tepat nya mantan suami nya itu. Dengan segera Min menetralkan raut wajah nya lantas tersenyum sambil merapihkan rambut nya.
"Terimakasih tuan, maaf saya menabrak anda"
Meski hanya dengan ekor mata nya Min melihat wajah kecewa lelaki itu.
"Mari saya antar, kaki anda terluka nona"
"Tidak usah sebentar lagi asisten ku akan datang"
Min bangkit lantas duduk di bangku tunggu yang ada di toilet itu.
Lelaki itu juga duduk di samping Min, tidak ke toilet atau pun keluar. Min tidak menggubris nya, jujur lutut nya sakit dia hanya bisa menunggu seseorang menjemput nya.
"Seperti nya nona seorang model?"
Min mendengar ucapan lelaki itu, namun dia berpura-pura lama mendengar nya.
"Aku berbicara pada mu?"
"Ah maaf tuan, memang itu lah profesi ku dengan berlenggak lenggok di depan kamera bisa menghidupi ku"
"Saya Rei, anda......?"
"Cate Mid, model internasional ternama yang di undang oleh perusahaan keluarga ternama Alkatiri"
Rei mengangguk, lantas menjulurkan tangan nya untuk bersalaman.
"Nona.......!"
Asisten wanita dari Min langsung menghampiri, sehingga Min berdiri tanpa mengindahkan uluran tangan itu.
Rei hanya menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh.
"Bos"
Aryos keluar dari toilet laki-laki, Rei hanya melirik lelaki itu.
"Siapa yang bertanggung jawab untuk iklan produk ini?"
"Asisten A yang paling mahir"
"Panggil dia"
"Mereka ada di ruang perjamuan yang sudah di siapkan disalah satu ruangan, tuan"
"Apa kau memberi informasi lengkap tentang model internasional itu pada ku?"
"Sudah, tuan"
"Baik lah ayo kita ke ruang perjamuan"
Mereka berdua segera menuju ke dalam gedung kembali menemui Asisten A.
Min setelah bertemu dengan lelaki itu berjalan cepat memasuki ruang perjamuan. Perusahaan jelas sangat royal karena ini termasuk perusahaan kelas atas.
"Nona sudah kembali?"
"Iya, aku lelah sekali, ayo kita langsung pulang ke resort saja"
"Ada apa nona?"
Asisten lelaki Min berbicara, lantas asisten A segera menghampiri nya.
"Apa nona kurang enak badan, mari saya antar ke klinik saja"
"Tidak aku hanya ingin segera istirahat di resort saja"
Min hendak bergegas pergi.
Klek.
Pintu ruangan perjamuan terbuka, tampak dua orang lelaki matang yang gagah nan tampan.
"Tuan!"
"Apa kabar semu? maaf saya baru hadir"
Mereka semua saling pandang, asisten A segera mengambil kursi tambahan dengan cekatan.
"Tuan silahkan duduk"
Ucap asisten A.
"Silahkan semua duduk dan menikmati perjamuan sebelum pekerjaan hari ini selesai"
Min dan dua asisten nya terdiam di tempat.
"Silahkan nona Cate"
Min hanya tersenyum terpaksa, bisa Rei rasakan jika sikap wanita yang umur dan wajah nya sangat mirip dengan istri pertama nya sangat acuh lagi angkuh.
Sesekali Rei memandang kearah model internasional itu, namun tak sekalipun mata wanita itu tertuju kearah nya. Sungguh sangat angkuh dengan perbandingan sikap Min sangat sangat berbanding terbalik.
"Baik lah kami permisi semua, nona kami agak tidak enak badan"
Semua berdiri, Min beserta rombongan nya berpamitan dengan sopan.
Sampai di basemen perusahaan rombongan Min meluncur ke jalanan.
"Apa sakit nona parah?"
Min terdiam membisu.
"Kita sebaik nya ke rumah sakit dahulu"
"Tidak usah, aku istirahat di resort saja"
Mereka meluncur menuju resort.
Sementara di kantor asisten A melaporkan seluruh kegiatan mereka selama empat hari itu.
"Pesankan makan malam mewah, kau bisa makan bersama kami"
Ucap Rei menunjuk pada asisten A.
"Baik tuan terimakasih"
"Ambil bonus gaji tiga bulan mu"
"Apa!"
Aryos kaget.
"Ada apa?"
"Kau memberi nya bonus tiga bulan, kau tidak pernah memberi ku bonus?"
"Gaji mu sudah lima kali lipat dari dia, jangan tamak"
"Tentu saja tidak tuan"
"Lekas kerjakan"
Aryos memesan beberapa makanan, tak berapa lama mereka makan dengan bersemangat. Sementara Rei hanya memakan sedikit saja masakan restoran itu.
"Tuan tidak makan?"
Bisik asisten A.
"Sudah jangan banyak tanya kita makan saja, lagi pula ini gratis, kapan lagi makan makanan enak secara gratis"
"Betul juga"
Tanpa malu-malu dan menunggu lama mereka menghabisi makanan itu tanpa sisa.
"Eh, sudah habis?"
"Iya tuan, kami lapar"
Rei melihat Aryos, lelaki bujang itu hanya tersenyum tanpa dosa.
"Rakus!"
Rei kembali ke meja nya, asisten A segera pamit. Aryos membersihkan sampah bekas mereka makan lalu menyeduh teh hangat. Aryos juga mengambil obat maag milik Rei, sejak Min meninggal itu Rei tidak menjaga makanan yang di konsumsi lambung sehingga ada penyakit lambung.
"Tuan sudah malam"
"Aku akan bermalam disini, kau pulang lah"
Aryos terdiam dia tidak mungkin meninggalkan tuan nya. Aryos bebenah tempat tidur nya sementara Rei sudah masuk kedalam kamar pribadi nya yang ada di ruangan kantor nya.
Rei masuk ke kamar mandi, dia segera mengguyur tubuh atletis nya itu, lantas kejadian sore tadi terbayang di benak nya. Kejadian pertemuan dengan wanita yang sama persis dengan istri pertama nya membuat diri nya sedikit syok.
Rei tersenyum dibalik guyuran shower nya, dia senang sekaligus terpukul. Senang bisa melihat wajah itu lagi, terpukul karena perlakuan tidak manusiawi nya pada sang istri.
Andai pun Jasmin Melodia Sanunjaya masih hidup, Rei tidak akan bisa meminta maaf atas perbuatan nya jika dihitung satu demi satu.
Bahkan disaat sebelum istri nya pergi untuk selama nya, Rei sempat meminta untuk membunuh anak mereka meski belum berbentuk namun perbuatan itu kejam.
Rei tahu seseorang tidak akan bisa memilih untuk melindungi orang tersayang nya, tapi Rei mengancam wanita itu dengan pilihan yang tak dapat di ukur oleh batas manusia.
Rei ambruk di bawah guyuran shower menitikkan air mata yang langsung lirih dalam gemericik air.
BERSAMBUNG