
"Sebaik nya kita segera naik, ini semakin sore, angin semakin kencang"
Ucap William, istri nya hamil sedangkan adik ipar nya sedang terluka hati nya karena peristiwa kemarin.
"Tapi matahari nya cantik banget mas, besar lagi, sore gini wangi sekali, wangi bunga nya"
"Mas janji akan bawa kamu kesini setiap sore"
Lisa mengangguk lantas tersenyum.
"Arin juga akan selalu temani kakak jika Arin punya waktu kak"
"Janji ya dek"
Arin mengangguk sambil mengusap tangan sang kakak.
"Terimakasih ya Rin"
"Sama-sama kak, nanti kita gantian ya kalau aku hamil"
Lirih Rindi.
"Tentu saja, kakak akan menjaga mu dengan sangat baik kau tidak perlu khawatir"
"Terimakasih kakak ku sayang"
"Kembali kasih Arin"
Mereka Rindi, Lisa dan William tersenyum kemudian menaiki lift menuju ruang rawat milik Lisa.
Selepas menemani kakak nya Lisa jalan-jalan di taman sore tadi, ketika kembali ke kamar Lisa sudah ada ibu Amelia yang menunggu serta membawakan beberapa macam menu yang nampak begitu lezat.
Rindi beberapa kali nampak menelan air liur nya, namun sebisa mungkin dia menahan agar tidak meminta nya pada sang kakak.
"Mommy sudah lama disini?"
William menyapa wanita baya ibu kandung nya itu.
"Baru saja nak, mom bawakan makanan khusus ibu hamil untuk istri mu"
Ibu Amelia segera membuka wadah makanan yang lain selain lauk ada buah juga.
"Wah terimakasih mom, mommy baik sekali"
Will mendekap ibu Amelia dengan sayang.
"Kamu ngomong apa sih? Lisa juga menantu mommy loh"
Ibu Amelia mengelus kepala Lisa dengan sayang. Lisa tersenyum dan tersipu malu karena mendapat kasih sayang yang berlimpah.
"Kak, kak Will dan ibu, Arin ke kamar Andra dulu ya, ada paman juga disana"
Mereka bertiga mengangguk.
"Hati-hati ya nak"
Ucap ibu Amelia dengan lembut sambil tersenyum, Rindi pun mengangguk dengan tersenyum pula.
Rindi keluar dari kamar sang kakak, menuju ke kamar rawat suami nya.
"Rin......"
Rindi yang baru saja datang sore itu sehabis menemani sang kakak dan kakak ipar nya mencari udara segar di taman bunga yang indah di lantai bawah rumah sakit itu.
"Iya paman"
Lirih Rindi menjawab panggilan sang paman itu.
Paman berdiri mendekat pada keponakan tunggal nya itu.
"Paman akan pulang, paman ada meeting dengan para investor dari luar negeri"
Rindi mengangguk.
"Jadi paman mau pulang ke negara Z, apa kamu mau ikut paman mu ini?"
Diam Rindi dalam dilema sementara lelaki yang di cintai nya tergolek lemah di ranjang pesakitan.
Rindi menoleh pada ranjang rumah sakit itu yang dimana ada suami nya.
Mommy Jasmin mendekat dan mengelus bahu menantu nya.
"Jangan khawatir kami akan menjaga nya, berlibur lah, tenang kan pikiran mu, mommy sangat mengerti hati mu nak"
Rindi memandang mommy mertua nya.
"Paman juga keluarga mu, dia berhak mengurus mu nak"
"Iya mom"
Daddy Rei mendekat, dia juga tak ingin egois menghalangi kebahagiaan menantu nya itu.
"Pergi lah untuk menenangkan pikiran, Daddy tahu di negara dan mansion mommy memberikan kenangan gorengan luka terdalam untuk mu"
Daddy Rei mengelus pucuk kepala menantu nya itu.
"Iya dad, mom aku pamit ikut paman pulang ya"
Mereka berdua mengangguk.
"Terimakasih sobat"
"Dia juga putri kami, aku akan telpon Anita untuk membereskan semua pakaian mu"
"Tidak usah mom, bakar saja semua nya, Arin beli yang baru saja"
Mommy Jasmin mengangguk lantas segera bergegas memeluk menantu nya.
"Jika masih ada jodoh maka kembalilah pada putra mommy, mommy dan Daddy menyayangi mu jangan sungkan menghubungi kami nak"
"Kami pamit ya"
Ucap paman Rindi, menggandeng keponakan tersayang nya.
Paman hanya bisa mengangguk saja. Rindi berjalan menuju ke kamar rawat sang kakak.
Tok....tok....tok...
"Masuk"
KLEAK.....
"Kak"
"Arin kamu kesini lagi, sini....."
Ajak Lisa, Rindi mendekat dan Lisa menyuapkan buah kering yang ibu Amelia berikan.
"Inikan untuk kakak, kakak sedang hamil loh"
"Besok juga dikirim lagi kok, kakak bosen makan ini terus, nggak enak pengen yang manis loh kakak"
"Kak Will kemana?"
"Lagi buang hajat"
"Kak"
Rindi menggenggam kedua tangan sang kakak.
"Kenapa Rin?"
Perasaan Lisa sudah tidak enak.
"Aku ingin berlibur sekaligus menenangkan diri"
Ucap Rindi lirih.
"Kemana?"
"Ke negara kelahiran kita, aku ingin menetap kembali hati ku kak"
Lisa terdiam, mau mencegah juga dia akan egois, dan itu hanya akan membuat Rindi semakin sakit hati nya.
"Kakak mengijinkan jangan lupa kabari ya dek, hati-hati sayang"
Rindi mengangguk.
"Selamat jalan Rin, kembalilah jika kamu sudah siap"
"Iya sampai jumpa kak"
Rindi segera bergegas pergi, dia pergi ke ruang rawat papah Afar.
"Pah....."
"Nak kamu disini?"
"Iya pah, Arin mau kembali ke negara Z"
"Sama siapa nak?"
"Sama paman pah"
"Baik lah, hati-hati dijalan sayang"
"Iya papah juga harus cepat sembuh ya"
Papah Afar mengangguk, Rindi bergegas pergi. Papah Afar jatuh ke lantai menangis tergugu karena putri nya sedang terkena musibah.
"Semoga kau baik-baik saja anak ku sayang"
Lirih nya.
Paman hanya bisa mengusap punggung Rindi yang bergetar ketika berada di mobil menuju bandara.
"Apa kau ingin kembali?"
Rindi menggelengkan kepala nya.
"Aku ingin ke negara S paman"
Sang paman mengangguk.
"Baik lah kita pindah ke sana"
"Aku ingin mandiri, lagi pula usaha ku berada disana"
"Apa kau yakin?"
Rindi mengangguk, paman tahu jika keponakan nya amat teramat terluka dan menderita.
Sungguh meskipun paman tak terima dengan pernikahan dadakan Rindi namun sedikit pun tak pernah paman menyumpahi pernikahan keponakan nya itu.
Malam itu mereka mengambil penerbangan yang berbeda, paman ke negara Z, sedangkan Roni ke negara S.
"Semoga keputusan ky memang keputusan yang tepat"
Lirih Rindi.
"Mas semoga kau cepat pulih dan selalu sehat, maaf aku belum bisa melupakan kejadian kemarin, maaf jika aku meninggalkan mu tanpa pamit dan maaf jika aku ingkar akan janji kita"
Rindi menangis dalam diam, hingga dia lelah menangis dan tertidur kembali ke negara S.
Ini adalah hari keempat sejak Andra dibawa ke rumah sakit ini, tubuh nya lemah seolah tak bertulang, mata nya tak bisa melihat cahaya hanya bisa mendengar suara itu pun sudah keajaiban.
"Arin.......!"
Itu kata pertama yang Andra teriakan saat dia sadar.
Sedangkan nama yang Andra sebut saat ini sudah berada di bandara negara Z. Tepat nya kemarin, paman Rindi ada panggilan meeting dengan investor luar negeri.
BERSAMBUNG.